Salam lestari,

Suatu saat di simpang tiga Manggelewa – Dompu, saya duduk sendirian dengan 2 tas  besar di samping. Mobil yang ditumpangi Pak Novem, klien saya, baru saja meninggalkan saya untuk menuju ke Bima. Beliau akan melanjutkan perjalanan ke Bali dengan pesawat, sementara saya melanjutkan perjalanan ke Mataram – Lombok dengan bus. Tujuan saya siang itu adalah terminal Sumbawa Besar, tempat bus-bus besar antar pulau berhenti. Saya sedang dalam perjalanan backpacking di Sumbawa dan saya sedang menjalankan profesi saya sebagai mountain guide. Kami berdua baru saja menempuh perjalanan panjang melintasi hutan tropis gunung Tambora hingga mencapai puncak kaldera. Perjalanan pertama saya mengantar Pak Novem mendaki gunung dari 4 kali perjalanan bersama beliau tahun 2015 ini.

Tubuh ini lelah dan harus melewati perjalanan panjang lagi dengan bus. Sebelum mendapatkan bus yang nyaman di terminal Sumbawa Besar, terlebih dahulu harus menuju kota Sumbawa dengan bus yang super penuh dari Manggelewa. Barang-barang perabotan rumah tangga ada di atap bus, sementara peralatan perontok bijih padi tergantung di belakang, untunglah tak ada sepeda motor dimasukkan ke dalam bus Bima Permai ini. Walaupun 1 jam pertama sempat berdiri di pintu bus, tak apalah yang penting bus berhasil sampai di terminal Sumbawa Besar.

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa saya harus menjalani profesi dengan cara seperti ini?

Kisah-kisah perjalanan pendakian gunung saya diwarnai dengan perkenalan dengan teman-teman dari daerah yang bahkan sudah saya anggap sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Ketika kita sudah semakin berpengalaman melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh, kita akan merasa bahwa keberhasilan “mengenal manusia lain” akan mempunyai derajat yang sama dengan “berhasil memotret pemandangan yang indah”. Ketika kita sudah diterima masyarakat lereng gunung dengan baik, hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan diri kita untuk berjalan naik melintasi hutan menuju titik tertinggi. Tak jarang dalam beberapa kesempatan pendakian, kami dilepas beramai-ramai oleh penduduk lokal dan ketika turun dijamu pula dengan makanan khas lereng gunung yang mengenyangkan. Dan ketika sudah pulang Jogja, rasa kangen akan tempat itu terpatri dan suatu saat ingin kembali ke sana lagi membalas kebaikan mereka.

Dahulu ketika mahasiswa, saat menjalankan kegiatan mendaki gunung di daerah-daerah, kami tidur di mana saja. Di stasiun, di kamar tamu masjid, di kantor polisi, di kampus. Ini bukan persoalan kami tidak mampu “bantingan”  untuk membayar kamar hotel. Namun lebih kepada menciptakan jiwa backpacking yang mampu survive di perkotaan. Kalau bisa survive di hutan, di kota juga harus bisa. Hehehe. Dan akhirnya sekarang jiwa tersebut masih ada dalam diri saya. Ketika saya menjalankan profesi sebagai guide, saya harus menuju kota terdekat dari gunung yang akan didaki. Kadang jika ingin privasi terjaga dan nyaman, saya menyewa kamar losmen dengan budget terjangkau. Dan kadang pula, ada saja orang-orang baik di kota tersebut yang menawari tempat bermalam. Entah itu sopir saya, teman kuliah, teman online, teman 1 kursi di kereta api dan lain-lainnya. Penghormatan besar untuk mereka, silakan menghubungi saya di Jogja dan menginap di gubug saya jika suatu saat berada di Jogja.

Backpacking bukan menyiksa diri sendiri dengan ketidaknyamanan, namun melatih diri kita untuk tegar, pintar serta survive di perjalanan menuju tempat yang asing. Jiwa seperti itu bisa dilatih dalam perjalanan-perjalanan. Kelak kita akan sadar bahwa ketika kita bisa tertarik untuk mengenal manusia di lain budaya dan lain tempat, itulah karakteristik backpacking itu sendiri. Petualangan terbaik adalah mengenal manusia lain. Solidarity, charity, humanity. :)

 

~ jarody hestu

Mountain Guide

Equator Indonesia

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha