Catatan perjalanan ini dikirim oleh klien kami, Ibu Ade Dewijanti via e-mail. Dan di publish di sini atas ijin beliau. Terima kasih. :)

Dear all,

Setelah parno nggak bisa naik gunung di sekitar Jawa Tengah karena kebakaran hutan ilalang di beberapa jalur pendakian, akhirnya wiken 12-13 September lalu, jadi juga aku naik gunung Merbabu (3142 mdpl) bareng Pak Bambang Sadarta (BS), Pak Agung Nugroho (AN), dan Pak Rio Simbolon (RS); beliau bertiga dari KSO Benakat Barat. Kami lewat jalur Suwanting yang baru dibuka lagi April 2015, karena jalur Selo dan Cunthel masih ditutup.

Sabtu, 12 September 2015
Dari Jakarta aku ke Solo dengan Lion Air flight jam 07.50 dan tiba sekitar jam 08.05. Sempat salah terminal, kirain Terminal 1 nggak taunya Terminal 3, untung bawa mobil jadi buru-buru pintong (pindah tongkrongan) deh parkir mobilnya. Di Solo aku dijemput Pak BS, Pak AN, dan adik ipar Pak BS; langsung capcus ke Selat Solo Vien’s di jalan Hasanudin. Haduh…. makanan di Solo udah yummy, murah pula. Sayang nggak sempat 2 porsi karena harus balik ke airport lagi untuk jemput Pak RS.
(Pak BS dan Pak AN sudah ke Solo duluan, Jumat 11 September, hampir terjebak macet karena om BJ (Bon Jovi) malam itu akan konser di Senayan)

image025

Setelah jemput Pak RS, kami lunch lagi di warung sate dan tongseng kambing dekat rumah mama Pak BS. Waktu dihidangkan satenya sudah dilepas dari tusukannya, jadi aman buat yang pakai susuk, hehehe….. Minumnya teh dengan gula batu asli yang masih kuning (nggak putih seperti yang kubeli di Lotte Mart).

image026image028image027

After lunch kami sowan ke rumah mamanya pak BS. Bertemu bertemu mama dan ibu Ani (adik Pak BS nomer 4), beserta cucu, cucu mantu, dan cicit beliau. Asik ni ngobrol di rumah mama Pak BS, banyak makanan pula, hehehe…. Aku sempat tidur siang kekenyangan dan baru kebangun karena ngiler (note: aku lupa makan gudeg di rumah mama Pak BS, jadi pas Senin pagi langsung ke warteg dekat rumah, beli gudeg buat sarapan di kantor, daripada terbayang-bayang terus bikin gak bisa tidur)

image029

Jam 15.30-an kami pamit dan capcus ke rumah mama Pak AN untuk sowan dan ambil ransel.
Tiba di rumah Pak Wahyana (adik Pak BS), kami langsung mandi dan siap-siap dijemput jam 19.00. Sambil on the way ke Suwanting, kami mampir dinner di resto yang menunya bebek goreng, mie jawa, dll; karena mau dinner di resto begor Pak H. Slamet ternyata sudah tutup.

Sepanjang jalan ke Suwanting aku berusaha tidur mengistirahatkan mata. Jam 22.30-an kami tiba di Suwanting dan langsung ke rumah Pak Eko (base camp) untuk persiapan pendakian. Di hari pendakian ini aku agak parno karena first day period, jadi rempong banget dengan tissue basah, tissue kering, plastik, dll (udah telat minum Primolut, jadi dinikmati aja semua kerempongan yang bakal terjadi, hehehe…)

Jam 23.30 kami start pendakian dari Suwanting (naik ojek dulu sekitar 700m nanjak menyusuri jalan semen desa, IDR 5,000; part of paket mendaki). Sebelum start kami stretching dulu dipimpin mas Jarody (J) the guide/EO.

image030image031

Langkah pertama langsung tanjakan menyusuri hutan pinus, seperti biasa ½ jam pertama detoxifikasi napas Jakarta, sampai panik pak Indri the porter denger napas-ku yang ngos-ngosan.
Aku pikir trek Suwanting ini asik geboy seperti Lawu, tapi kok ya nanjak terus (sebagai perbandingan, naik Lawu dari Cemoro Kandang jalan 7-8 jam dengan trek landai melingkar, naik Merbabu dari Suwanting jalan 6 jam dengan trek 90% tanjakan dengan kemiringan 45-60 derajat, huhuhu… !!) Dengan trek awal batu-batuan disusul trek pasir halus, segala gaya diaplikasikan, dari yang jalan normal, gelayutan di batang pohon sampai merangkak ala spyderman. Untung gelap jadi nggak terlalu parno liat tanjakan di depan. Karena kemarau jadi pasir beterbangan pas kita lewat, teman-teman pakai masker, aku pasrah aja karena malah jadi susah napas, paling jaga jarak dengan teman yang jalan di depan.

Minggu, 13 September 2015
Ada beberapa tempat landai untuk istirahat, salah satunya jadi tempat kami pasang tenda karena sudah jam 3.30, mata sudah kriyep-kriyep, baju klubus keringetan tapi dingin banget udaranya. Karena plan tek tok tanpa nge-camp, mas J nggak bawa matras, jadi kami berempat tidur dengan alas plastik tenda aja. Huhu… dingin banget, aku nggak bisa tidur, Pak AN dan Pak RS juga nggak bisa tidur, pengin menghangatkan badan dengan api unggun tapi karena angin lumayan kencang jadi nggak bisa bikin api. Cuma Pak BS aja yang bablas tidur nyenyak seperti bayi.

Akhirnya aku bisa tidur jam 5.00-an dengan posisi duduk kepala nyender ke tenda. Jam 6.00-an kebangun dan minta dibuatkan teh hangat dengan mas J (mas J & pak Indri hebat banget bisa tidur diluar tenda, huhuhu…).
Jam 06.30-an aku, Pak AN, Pak RS, dan mas J siap-siap naik ke pos 3, kalau cukup waktu bisa langsung lanjut ke puncak, karena flight Pak RS ke Surabaya dari Jogja jam 17.00, sedangkan flight ku, Pak BS, dan Pak AN jam 20.00 dari Solo.

Waduh, ternyata trek ke pos 3 lebih heboh dari trek sebelumnya, masih trek pasir halus, tetapi sekitar 100 meter ke Pos 3 treknya batu lepas dan pasir. Seneng sih jalan pagi, terang dan mikir-mikir kok ya nggak nyampe-nyampe, hehehe…
Karena selalu lihat ke depan atas, sampai lupa kalau ternyata pemandangan di belakang bagus banget. Aku sempat duduk di tanjakan menikmati pemandangan, pas balik badan mau nanjak lagi malah jadi serem takut ngglinding karena curam banget, mana ada anak-anak SMA turun ngebut, sampai panik takut ditabrak, akhirnya keluar lagi jurus spyderman nempel di tanah, hehehe…

image033 (1)

Jam 08.30-an akhirnya tiba juga kami di Pos 3. Ada yang nenda dan kami sempat ngobrol juga dengan penduduk yang sedang on the way mau cari rumput. Setelah foto ala artis, chat dengan mas-mas (anak kelas 3 SMA) yang baru turun dari puncak (dia cerita malam sebelumnya ada mbak-mbak anak SMA juga yang nenda di sebelah tendanya “kemasukan” karena rombongan dia ribut nyanyi-nyanyi, si mbak minta kopi, rokok, dll; setelah teman-temannya minta maaf, baru deh si mbak sadar).

image035image034

Jam 09.00-an kami mulai turun, karena mission baru ½ accomplished, dan ngebayangin naiknya aja heboh apalagi turunnya, jadi perjalanan turun nggak bisa ngebut seperti biasa.
Aku sempat jungkir balik beberapa kali, jempol kaki kanan agak mingslek, jadi sesuai anjuran pak Indri aku lepas sepatu/pakai kaos kaki aja jalannya. Ternyata enak karena pasirnya dingin.

image036

Waktu aku tiba di tenda kami, ternyata Pak BS sudah turun duluan, disusul Pak AN dan Pak RS. Aku capcus turun juga, mas J dan pak Indri masih beres-beres tenda. Karena lelet, seperti biasa aku jalan paling belakang, ketemu rombongan ku lagi, ketinggalan lagi, dst dst. Sempat turun kabut, ketemu beberapa rombongan yang turun dan yang akan naik.
Sepatu kupakai lagi begitu masuk ke trek berbatu, sepatuku juga sudah agak-agak jebol (akhirnya kutinggal di Suwanting dan pulang ke Jakarta pakai sandal jepit (tumit-ku ternyata pecah-pecah juga)).

Mas J agak parno karena jalanku lelet (hehehe…. maafkan aku ya mas). Beliau takut nggak ke uber anter Pak RS ke Jogja dan antar kami ke Solo. Tapi begitu lihat pohon-pohon pinus mas J semangat karena sudah dekat desa. Kebetulan ketemu adik pak Eko (base camp) yang sedang cari mata air, akhirnya aku dibonceng naik motor deh kembali ke base camp, menghemat waktu karena sudah jam 12.00-an. Kata si Bapak, dengan jalanku yang lelet itu, bisa-bisa baru 2 jam lagi tiba di base camp (kalau naik motor cuma 15 menit, btw hebat ni si Bapak, naik motornya melewati pinggiran jurang, turunan tajam, aku aja sampai ampun-ampun takut nyemplung ke jurang)

Di rumah pak Eko, ternyata pak BS sedang siap-siap dipijat refleksi oleh Pak Indri (pak Indri sudah mandi & rapi), aku juga langsung antri minta di refleksi. Pak RS dan Pak AN ternyata naik ojek juga dari hutan pinus, hehehe…. aku jadi pede lagi ni karena ada yang naik ojek juga.

Jam 13.30-an kami pamit dan capcus ke Jogjakarta antar Pak RS, tiba di bandara Jogja jam 16.00-an, dan langsung ke Solo. Tiba di rumah Pak Wahyana jam 17.30-an. Laper banget karena nggak sempat makan dari pagi, akhirnya nasi goreng & telur dadar bu Wahyana ku attacked sebelum mandi (hehehe… punten ya bu).

Seru banget ni di rumah Pak Wahyana, adik, keponakan dan bayi anak keponakan pak BS datang semua. Bawa ayam goreng komplit juga, kami semua makan dulu sebelum ke bandara.

Jam 19.00-an kami diantar beramai-ramai ke bandara, seperti rombongan pengantar haji, huhuhu…. senangnya!! (jadi inget pas umroh aku naik bis damri sendirian ke bandara). Dengan Lion Air flight jam 20.00 lewat (telat dikit flight-nya); tiba di rumah jam 22.30-an, langsung tepar karena besoknya harus ngantor seperti biasa, berangkat jam 05.30.
Nice trip, OMG trek!!

Terima kasih untuk Pak Bambang Sadarta dan keluarga besar, Pak Agung Nugroho, Pak Rio Simbolon, mas jarody, dan Pak Indri.

Kami sudah siap-siap untuk trekking Gunung Prau dan rafting Serayu di Dieng akhir November/awal Desember. Hehehe…. judulnya ketagihan!!

~ Ibu Ade Dewijanti

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha