Si Gareng ini begitu ngebet pengen mendaki Tambora sedari muda. Namun selalu saja ada ganjalan-ganjalan yang menghalanginya.

Saat menjadi mahasiswa,

“Kapan naik Tambora?”

“Ntar deh nabung dulu, mahal di cost-nya.

2 tahun kemudian ketika sudah mapan dan bekerja di salah satu perusahaan ternama Jakarta.

“Kapan naik Tambora?”

“Ndak tau nih, sulit banget dapet cuti. Dikasih cuti cuman pas lebaran, ya jelas nggak bisa. Kalo cuti lebaran kan buat kumpul keluarga.”

2 tahun kemudian ketika sudah mempunyai istri dan seorang anak.

“Kapan naik Tambora?”

“Wah sulit banget, buntutnya ndak bisa ditinggal-tinggal nih. Nunggu kalo jagoan-jagoan sudah besar lah.”

Dan mungkin saja 20 tahun lagi Gareng akan menghapus keinginan untuk mendaki Tambora, karena ketika ditanya dia akan menjawab,

“Ndak mungkin lah, naik tangga sampai lantai 5 saja sudah ngos ngosan, apalagi Tambora!”

***

 

Hehehe, mungkin Anda juga memiliki kendala untuk merealisasikan sebuah impian untuk mendaki gunung. Pasti ada, entah itu keterbatasan dana, ketiadaan waktu, kesibukan mengurus keluarga ataupun semakin melemahnya fisik karena usia. Seperti perumpamaan di atas. Tapi tak selamanya begitu kok. Saat ini sudah tidak jarang kita melihat para 40-ers, 50-ers, 60-ers mendaki gunung. Saya sendiri sebagai Mountain Guide sering sekali mengantarkan Bapak-bapak atau Ibu-ibu ini menuntaskan impiannya mendaki titik-titik tertinggi di Indonesia. Pernah salah seorang klien saya berkata,

“Saya menyesal tak mendaki gunung di waktu muda.”

 

Tentu saja fisik mereka tak sebagus ketika mereka masih muda, tapi 1 hal yang semakin tua bisa jadi akan semakin meningkat; yaitu semangat yang membara. Sebagian besar dari mereka memiliki kecukupan dana yang bisa dibelanjakan untuk membayar jasa agen perjalanan mountain trekking, lalu menyewa porter untuk membawa peralatan pribadi mereka. Ini demi keinginan untuk menuntaskan keinginan mereka mendaki gunung.

Lalu bagaimana dengan mereka para pendaki muda. Saat ini, sebagian besar pendaki muda 20-ers adalah kalangan mahasiswa. Mereka punya kekuatan fisik yang bagus tentu saja, yang terbatas ya dana, hehehe. Tak usah jauh-jauh, saya sendiri punya pengalaman tidak punya uang di kala masih menjadi mahasiswa. Kalau ditanya,

“Untuk makan ada duit ndak”

“Tidak.”

“Untuk naik gunung ada duit ndak?”

“Ada dong, kan seminggu udah ngirit makan, hehehe.”

 

Alhasil tubuh kurus kering ini berhasil mewujudkan impiannya mendaki gunung, meskipun harus serba mengirit karena dana yang terbatas. Naik kereta ya kereta ekonomi, tidur ya di kantor polisi, transportasi ke desa lereng gunung ya bisa bareng-bareng mencegat truk di pasar, logistik secukupnya tak perlu mewah-mewah hehehe. Alhasil masa-masa ketika masih menjadi pendaki 20-ers adalah masa-masa yang penuh kenangan. Tak perlu diulangi, paling tidak sudah merasakan, hehehe.

Tak perlu untuk menjadi seorang hitchhiker untuk berkelana ke mana-mana. Tahu hitchhiker kan? Teknik berkelana ke tempat-tempat yang jauh tanpa menggunakan uang. Untuk berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain, biasanya seorang hitchhiker akan menumpang segala jenis angkutan. Untuk tidur bisa di stasiun, kantor polisi, masjid. Untuk makan, dia harus mempunyai kemampuan sosialisasi dengan masyarakat loKal, atau bahkan dengan cara bekerja membantu masyarakat loKal di situ.

Tak perlu, saya juga bukan seorang hitchhiker. Mungkin semi hitchhiker, hehe..itu dulu ketika masih menjadi mahasiswa. Sekarang, saya ingin memberikan tips kecil yang mungkin bisa berguna untuk pendaki-pendaki gunung yang mempunyai keterbatasan dana, ingin mengirit perjalanan dengan budget sekecil-kecilnya.

Saya contohkan di artikel ini, mendaki gunung Tambora ala backpacker. Anggaplah Anda tidak punya uang, tapi punya waktu yang berlebih. Ingat rumus baku ini untuk tujuan yang sama, mau cepat berarti mahal, mau murah berarti lama.

***

 

Puncak Tambora

Puncak Tambora

Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kalau ditempuh dari Jawa, berarti harus 3 kali menyeberang selat, yaitu selat Bali, selat Lombok dan selat Alas. Menurut google map, Tambora berjarak 1747 kilometer dari Jakarta. Sedikit lebih jauh dari jarak antara Jakarta dengan Kuala Lumpur (1635 km). Tingginya tak sampai 3000 meter dpl, gunung Merapi dan Merbabu masih lebih tinggi dari Tambora. Namun 2 abad lalu, gunung ini berketinggian 4000 meter dpl. Lalu letusan besar 1815 memotong sepertiga bagiannya, meninggalkan kaldera raksasa berdiameter 6 kilometer dan sedalam 1000 meter. Letusan yang mengakibatkan perubahan iklim yang drastis di bumi, hingga selama setahun disebut a year without summer. Menghancurkan peradaban kerajaan-kerajaan di Sumbawa pada saat itu. Sejarah inilah yang menarik minat para pendaki gunung untuk berdiri di pinggir kaldera dan melihat dari dekat bekas letusan besar tersebut.

Lalu bagaimana menuntaskan impian mendaki Tambora dengan budget yang terbatas?

  1. Traveling dalam grup

Anda harus paham logika ini, semakin banyak anggota dalam 1 grup, maka pengeluaran pun akan semakin hemat. Lhoh kok bisa? Sekarang begini perumpamaanya, sebuah truk  pengangkut pupuk dicarter  untuk mengangkut rombongan pendaki seharga 500.000 IDR. Jika grup Anda beranggotakan 10 orang, maka budget per orangnya 50.000 IDR. Kalau anggotanya 5 orang, ya 100.000 IDR. Ya syukur-syukur kalau di lokasi tersebut ada grup lain yang juga ingin mendaki gunung, kan bisa share biaya lagi. Idealnya, 4 – 8 orang dalam 1 grup itu sudah nyaman untuk perjalanan. Jangan sampai terlalu banyak anggota juga, bahkan melebihi 15 orang.

  1. Leader yang menguasai medan

Pilihlah seorang pemimpin yang sudah berpengalaman dalam mendaki gunung tersebut. Sudah menguasai jalur transportasi termurah menuju lokasi pendakian. Tahu di mana letak pasar terdekat dari lokasi pendakian. Sudah memahami manajemen perjalanan untuk mendaki gunung tersebut. Dan akan lebih baik lagi kalau sudah mengenal baik dengan penduduk lokal sekitar start pendakian. Mungkin bisa membantu untuk mencarikan homestay murah yang bisa disewa bareng-bareng 1 grup. Lesehan juga tidak apa-apa, yang penting jangan gratisan lho ya. Masyarakat lokal mungkin tidak mau dikasih uang, tapi bukan berarti kita diam saja. Setidaknya harus ada balasan dari kita, entah itu berupa uang atau barang (oleh-oleh).

  1. Menyusun jadwal dan perencanaan budget

Buatlah jadwal perjalanan selama beberapa hari, dari meninggalkan kota asal hingga kembali pulang selamat ke kota asal. Koordinasikan dengan leader perjalanan yang sudah memahami medan. Sinkronkan juga dengan ketersediaan tiket kereta api di tanggal perjalanan. Lho kok kereta api? Ya, kereta api ekonomi adalah masih menjadi angkutan termurah jarak jauh yang melintasi ujung barat pulau Jawa sampai ujung timur pulau Jawa. Satu hal lagi, melakukan program pendakian saat libur Tahun Baru dan Lebaran akan beresiko dengan pembengkakan budget, karena harga-harga akan naik pada saat tersebut. Untuk program makan di kota, hati-hati, pastikan warung yang kita kunjungi sesuai budget. Jangan sampai budget maksimal 15.000 sekali makan, kok malah makannya di restoran cepat saji. Sudah mahal, tidak sehat juga kan, lebih mending makan di warteg.

  1. Menyusun program makan selama di gunung

Salah satu seni mendaki gunung adalah manajemen logistik. Koordinasikan dengan leader, berapa hari kita berada di gunung. Dari durasi perjalanan, kita bisa memprogram makan besar selama di gunung. Jangan terpatok bahwa mendaki gunung itu hanya membawa bekal-bekal instan seperti mi instan, sarden kaleng, kornet dan lain-lain. Berkreasilah dengan masakan-masakan ala kita semaksimal mungkin. Kuasailah pemilihan bumbu-bumbu untuk sop, sayur lodeh, tumis, sayur kare dan lain-lainnya. Jika Anda dalam grup, pasti meriah sekali suasana memasak seperti itu. Dan satu hal lagi, kalau dihitung-hitung budgetnya, belanja sayur mayor lebih murah daripada belanja makanan instan kan?

  1. Mintalah ridho orang tua

Sebenarnya ini bukan tips mengirit budget perjalanan, hehe. Tapi merupakan tips penting untuk memulai sebuah pengelanaan ke “tempat-tempat yang entah”. Tapi tak apalah saya tuliskan lagi sebagai pengingat untuk pembaca sekalian.

Salah satu kesalahan terbesar seorang pendaki muda adalah mendaki gunung secara sembunyi-sembunyi, padahal sudah seharusnya dia pamit pada kedua orang tuanya. Kenapa? Karena ridho orang tua adalah bekal terbaik untuk dibawa ke dalam perjalanan. Tentu saja bukan bekal uang lho ya. Jadilah mandiri. Yang penting untuk kita lakukan adalah mencium tangan orang tua kita lalu pamit pergi atau jika terpisah oleh jarak, kita bisa menelponnya untuk mengabarkan pengelanaan kita.

Setelah mempelajari langkah-langkah tersebut, akan saya share langkah backpacking mendaki gunung Tambora. Saya pilih Jakarta sebagai contoh kota pemberangkatan. Akan saya tulis lengkap dengan durasi dan urutan perjalanannya.

Hari 1

Anggaplah Anda sudah mempunyai tiket kereta api (KA) untuk seluruh personel di grup. Ingat, pesan tiket kereta api jauh-jauh hari sebelumnya. Ticketing online dibuka 3 bulan sebelum keberangkatan. Rute termurah adalah naik KA Jakarta – Jogja lalu bersambung KA Jogja – Banyuwangi. Jangan lupa beli jauh-jauh hari tiket pulangnya, sesuaikan dengan jadwal turun gunung Tambora dan lama perjalanan darat dari Tambora menuju Banyuwangi.

Pilih perjalanan dengan,

  • KA Bengawan keberangkatan stasiun Pasar Senen pukul 11:30 dengan harga tiket 80.000 IDR. Tiba di stasiun Lempuyangan pukul 19:50. Atau,
  • KA Progo keberangkatan stasiun Pasar Senen pukul 22:30 dengan harga tiket 75.000 IDR. Tiba di stasiun Lempuyangan pukul 06:55 hari berikutnya.

Catatan        : KA Progo terlalu beresiko, karena jadwal keberangkatan KA dari stasiun Lempuyangan ke Banyuwangi  adalah pukul 07:15 di hari berikutnya. Jika KA Progo terlambat tiba di stasiun Lempuyangan, maka kita akan ketinggalan KA ke Banyuwangi.

Hari 2

Jika Anda menggunakan KA Bengawan, maka tetaplah tinggal di stasiun Lempuyangan pada malam hari tersebut untuk menunggu KA Sritanjung di hari berikutnya. Hati-hati dengan barang bawaan Anda ketika tidur di stasiun. Masjid ada di dalam stasiun, Anda bisa menjamak qosor sholat di situ. Toilet umum tersedia di dalam dan luar stasiun.  Buatlah jadwal piket menunggu tas carrier dengan teman-teman 1 grup.

KA Sritanjung berangkat pukul 07:15 dari stasiun Lempuyangan dengan tujuan stasiun Banyuwangi Baru. Harga tiket 100.000 IDR. Tiba di Banyuwangi pukul 21:15. Dari stasiun, Anda bisa berjalan kaki menuju pelabuhan Ketapang, Banyuwangi selama 10 menit. Warung-warung khas Banyuwangi ada di sepanjang jalan menuju pelabuhan Ketapang. Masjid besar ada di depan pelabuhan Ketapang bagi Anda yang ingin menjamak qosor sholat.

Belilah tiket penyeberangan selat Bali dengan ferry dari pelabuhan Ketapang menuju pelabuhan Gilimanuk, Bali seharga 7500 IDR. Penyeberangan malam memakan waktu 40-45 menit. Sekali lagi, jaga tas carrier Anda dan grup selama di ferry.

KA Sritanjung

KA Sritanjung

Hari 3

Anda sudah memasuki pulau Bali pada dinihari. Jangan lupa percepat 1 jam pada jam tangan/HP Anda. Anda sudah memasuki Waktu Indonesia Tengah (WITA). Jika lancar, sebelum pukul 01:00 Anda sudah tiba di pelabuhan Gilimanuk. Terminal Gilimanuk adalah tujuan berikutnya, ditempuh 15 menit berjalan kaki dari pelabuhan. Jangan lupa siapkan KTP untuk pemeriksaan polisi di pintu keluar pelabuhan.

Carilah bus medium jurusan Padang Bay dari terminal Gilimanuk. Bus mulai beroperasional biasanya mulai pukul 04.00. Tetapi antara pukul 01.00 – 02.00 biasanya ada bus yang ngetem menunggu penumpang memenuhi bus dengan target penumpang yang baru saja turun kapal. Tarif bus Gilimanuk – Padang Bay ini 60.000 IDR. Tetapi jika Anda berada dalam rombongan pendaki dalam jumlah besar, tawarlah harga. Anda bisa mendapatkan harga 50.000 IDR. Kernet bus sudah tahu bahwa mereka yang membawa carrier-carrier besar ini mau mendaki gunung Rinjani atau Tambora, biasanya mereka mau menurunkan harga. Lama perjalanan bus dinihari dari Gilimanuk ke pelabuhan Padang Bay ini sekitar 4 jam. Pada pukul 05.00 – 06.00 Anda akan tiba di pelabuhan Padang Bay.

Setelah sholat Subuh di masjid pelabuhan Padang Bay, silakan berjalan kaki menuju kantor penjualan tiket ferry. Anda akan menyeberangi Selat Lombok selama 4 – 5 jam menuju pelabuhan Lembar. Harga tiketnya adalah 44.000 IDR. Ferry ini berangkat tiap 1,5 jam sekali, jadi mungkin Anda akan menunggu agak lama sebelum keberangkatan. Jangan lupa membeli nasi bungkus di sekitar pelabuhan Padang Bay, penyeberangan akan berlangsung lama. Banyak warung Jawa di sekitar situ yang menjual makanan halal.

Jika perjalanan lancar, Anda akan tiba di pelabuhan Lembar pada pukul 12.00 siang. Belasan sopir angkot plat hitam pelabuhan serta ojek akan mengejar Anda, hati-hati jangan termakan rayuan mereka. Tetap tenang, mending cari masjid dulu lalu makan siang sebelum melanjutkan perjalanan estafet ini menuju kota Mataram, hehehe.

Carilah angkutan resmi dari pelabuhan Lembar ke terminal Mandalika, Mataram. Berjalan kakilah menuju jalan raya Lembar, di situlah tempat berhentinya angkutan menuju terminal Mandalika. Anda bisa mencarter untuk grup Anda, tas carrier akan ditumpuk-tumpuk di atas. Jika angkutan bisa penuh, Anda bisa mendapatkan harga 10.000 IDR per orang. Pada pukul 14.00, Anda akan tiba di terminal Mandalika. Dan sekali lagi para calo bus dan tukang ojek akan mengejar Anda. Hati-hatilah di terminal Mandalika, semakin ke timur kehidupan di terminal semakin keras.

Tujuan berikutnya adalah menuju ke desa Pancasila di lereng gunung Tambora. Ada bus yang langsung menuju ke sana, seperti Mulya Sejati, Sinar Kadindi dan Sri Rejeki. Sayangnya, bus-bus tersebut berangkat dari terminal Mandalika pada pukul 9 – 11 siang. Anda dan rombongan harus menghabiskan waktu semalam di Mataram. Terserah mau ke mana, tentunya waktu semalam di Mataram ini sudah Anda jadwalkan dalam rencana perjalanan. Anda bisa menyewa losmen dengan tarif 100.000 IDR/kamar di sekitar terminal. Saya tidak merekomendasikan untuk tidur di terminal Mandalika, karena tingkat kriminalitas di situ tinggi. Saya sendiri pernah tidur di terminal Mandalika, tapi tidak di emperannya. Saya saat itu berdua dengan teman saya minta ijin tidur di dalam kantor terminal, dan diijinkan oleh petugas. Esoknya, saya kasih 50.000 IDR sebagai balas jasa, hehehe.

Pelabuhan Padang Bay

Pelabuhan Padang Bay

Hari 4

Bus menuju Kadindi berangkat pukul 9 – 11 siang. Ada beberapa bus seperti Sinar Kadindi, Mulya Sejati dan Sri Rejeki, semuanya sama..bus super ekonomi, hehe. Bus yang super penuh di dalamnya, sementara di bagasi belakang bisa digantung 3 buah sepeda motor. Segala jenis perabot rumah tangga ditaruh di atap bus, sementara di dalam penuh dengan karung beras, pupuk yang bau, pakaian berkarung-karung dan lainnya. Tarifnya, sekitar 140.000 – 160.000 IDR. Kernet akan menjual dengan harga yang lebih, dan Anda harus pintar menawar. Jika Anda berada dalam rombongan besar, itu akan memudahkan nilai tawar Anda menuju harga termurah. Anda backpacker kan? Tentu saja iya, dan harus mencoba bus ini. Perjalanan menuju Kadindi di lereng barat gunung Tambora sangat lambat sekali. Banyak sekali berhenti menaikkan penumpang, berhenti makan siang dan makan malam. Mengantri untuk masuk ferry di pelabuhan Kayangan Lombok. Penyeberangan menuju Pelabuhan Pototano, Sumbawa ini memakan waktu 1,5 – 2 jam. Nikmatilah salah satu sarana transportasi yang penuh ketidaknyamanan ini hingga mencapai lereng gunung Tambora.

Bus jurusan Mataram - Kadindi

Bus jurusan Mataram – Kadindi

Hari 5

Anda akan tiba di Kadindi menjelang Subuh, wow..15 – 17 jam perjalanan dari Mataram. Bersyukur kalau bus tidak macet di tengah jalan, hehehe. Di sini Anda dan rombongan bisa belanja sayur, telur dan beberapa kebutuhan pendakian. Desa Pancasila bisa ditempuh dengan ojek dari sini selama 20 menit. Atau bisa juga dengan mencarter pick up pengangkut sayur. Tak ada tarif pasti di sini, harga termurah tergantung dari kelihaian Anda menawar. Sebagai patokannya, tariff ojek mungkin sekitar 25.000 – 30.000 IDR.

Nah, Anda sudah berada di desa Pancasila, jalur umum pendakian gunung Tambora. Capek kan? Iya, banget! Perjalanan estafet selama 5 hari 4 malam untuk mencapai desa Pancasila demi impian mendaki gunung Tambora. Berapa uang yang Anda keluarkan untuk metode perjalanan secara estafet ini? Setiap pendaki kurang lebih akan mengeluarkan dana sekitar 469.000 IDR.

Setelah sampai di desa Pancasila, apa yang harus dilakukan? Anda capek banget kan? Anda bisa beristirahat selama sehari di sini. Beberapa rumah penduduk bisa disewa beberapa kamarnya untuk istirahat. Harganya? Tak ada harga yang pasti, silakan berdialog dengan sang pemilik rumah, penduduk di desa ramah-ramah kok. Bahkan tak jarang mereka pun mengalami kebingungan untuk menetapkan harga, terserah kita mau bayar berapa. Lha kan jadi bingung mau ngasih uang berapa, hehehe.

Atau jika Anda sudah tak sabar ingin merasakan bau hutan tropis, dan merasa cukup kuat, langsung tancap gas saja. Lakukan pendakian hari ini juga, hehehe.

“Program pendakian umum yang sering dilakukan oleh pendaki adalah 3 hari 2 malam di gunung. Pada malam pertama pendaki akan berkemah di pos 2 atau pos 3, lalu pada malam kedua pendaki akan bermalam di pos 5. Pada pagi hari ketiga pendaki akan berjalan menuju puncak gunung Tambora, lalu di hari yang sama akan turun menuju desa Pancasila. Tiba kembali di desa Pancasila malam hari.”

Malam ini Anda akan bermalam di pos 2 atau pos 3. Oiya, dari desa Pancasila hingga Pintu Rimba, Anda bisa naik ojek dengan tarif 50.000 – 70.000 IDR. Jika mau mengirit, ya jalan kaki saja, hehehe.

 

Sabana lereng Tambora

Sabana lereng Tambora

Hari 6

Hari kedua pendakian, Anda akan mendaki hingga pos 5, lalu berkemah di sini. Tidak saya terangkan detil tentang trek melintasi hutannya, karena saya hanya menitik beratkan tulisan pada backpacking style menuju gunung Tambora.

Hari 7

Mendaki puncak Tambora, lalu turun ke desa Pancasila pada hari itu juga. Anda dan rombongan akan tiba di desa Pancasila pada malam hari. Jadi Anda harus menginap 1 malam lagi di desa Pancasila.

Hari 8

Rute Anda pulang ke Jakarta adalah rute yang sama. Atau Anda belum mau pulang? Mau ke pulau Satonda atau pulau Moyo tempat pikniknya Lady Diana? Hehehe, ya terserah.

Jika Anda memutuskan untuk pulang, maka Anda akan naik bus yang sama dari Kadindi menuju terminal Mandalika, Mataram.

Hari 9

Pagi hari Anda sudah tiba di Mataram, seperti jalur berangkat kemarin, Anda dan rombongan akan menuju pelabuhan Lembar untuk menyeberang. Lalu melintasi pulau Bali menuju pelabuhan Gilimanuk. Sore harinya menyeberang ke pulau Jawa. Kalau perjalanan lancar, selepas maghrib Anda akan tiba di pelabuhan Ketapang. Di Ketapang, Anda bisa tidur di masjid besar depan pelabuhan sebelum naik KA keesokan harinya, di situ menyediakan aula untuk para musafir beristirahat. Atau Anda juga bisa beristirahat di stasiun Banyuwangi Baru.

Hari 10

Untuk mempersingkat waktu dan menyesuaikan jadwal kereta juga, ikuti KA ini

  • KA Tawang Alun keberangkatan stasiun Banyuwangi Baru pukul 05:00 dengan harga tiket 65.000 IDR. Tiba di stasiun Malang pukul 12:56. Lalu bersambung ke KA,
  • KA Matarmaja keberangkatan stasiun Malang pukul 17:00 dengan harga tiket 115.000 IDR. Tiba di stasiun Pasar Senen pukul 09:45 hari berikutnya.

Hari 11

Anda dan rombongan sudah berada di Jakarta, capek kan? Hehehe

***

Terlihat mudah ya cara backpacking seperti ini, hehehe. Tapi percayalah, pengalaman ini akan Anda bawa sebagai pelajaran terbaik. Satu kali seumur hidup, bolehlah mencoba perjalanan backpacking seperti ini.

Satu hal lagi yang sangat penting. Nasihat atau sekedar mengingatkan untuk para musafir sekalian. Di manapun Anda berada dalam situasi apapun, pertahankan sholat 5 waktu Anda. Anda dimudahkan untuk menjamak qosor sholat, bersuci dengan tayamum ketika tiada air. Satu hal lagi yang penting adalah kesucian, Anda berada di dalam keadaan musafir. Boleh jadi Anda bau keringat tapi harus bisa menjaga kesucian, jangan sampai Anda terlihat bersih namun masih menanggung hadas di badan. Berhati-hati ketika berada di toilet umum, toilet kereta api, ketika sedang membuang hajat di hutan dan lain-lainnya. Carilah tempat bersuci yang aman. Jika ibadah Anda tunai dilaksanakan, in sya Alloh perjalanan Anda akan dimudahkan. Jangan lupakan juga bahwa doanya para musafir itu doa yang mustajab.

Oke, salam lestari. Nantikan tips petualangan dari saya di artikel berikutnya. Selamat berkelana. :)

~ jarody hestu

Mountain Guide

Equator Indonesia

22 Desember 2015

 

open trip tambora 2016

open trip tambora 2016

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha