Klik Ulasan Everest..#1 Intro…….venture Consultants, menuliskan dalam bukunya pada tahun 2014 “After the Wind : 1996 Everest Tragedy-One Survivor’s Story.

***

Tidak cukup durasi film 2 jam untuk menceritakan kisah nyata berdurasi 2 bulan. Diawali dengan berkumpulnya para klien Adventure Consultants ke Kathmandu untuk ekspedisi. Saat itu bulan April 1996, musim ramai pendakian Everest. Para agen ekspedisi berlomba-lomba menghadirkan para klien ke Nepal. Termasuk Mountain Madness yang dipimpin oleh Scott Fischer dengan guide handalnya, Anatoli Boukreev dan Neal Beidleman. Rob Hall memimpin Adventure Consultants sendirian pasca kecelakaan yang menewaskan sahabatnya Gary Ball di Dhaulagiri. 2 orang guide mendampinginya, Andy Harris dan Michael Groom. Di tahun 90’an memang masa berkembangnya agen-agen ekspedisi. Everest pun semakin ramai. Harga mahal bukan halangan bagi calon pendaki Everest, bahkan bagi mereka yang belum punya skill di gunung es. 65.000 dollar mereka bayarkan kepada para agen, untuk sesuatu yang bagi orang awam mungkin dianggap menyiksa tubuh sendiri. Tak masalah, Triumph on Everest adalah impian mereka.

Tapi satu hal, ” Mountain always win”.

” Climbing today is not only mainstream, it is business, and with that comes the rising tendency for climbing decisions to be business decision as well.”

~ Christian Beckwith ~
(Kata pengantar dari editor American Alpine Journal pada buku “The Climb – Anatoli Boukreev” 1997)

***

Wajah baru di Everest, bisnis pendakian gunung. Nepal, negara dunia ketiga, mulai ramai dikunjungi. Himalayan Range adalah tujuan utamanya. Adventure Consultants membawa sebagian kecil timnya dari Australia dan New Zealand, yaitu leader guide, asisten guide, dan tim basecamp termasuk dokter tim. Sebagian besar timnya diambil dari suku sherpa.

Ang Dorje dan Lopsang adalah beberapa pria Nepal yang terpilih untuk ekspedisi agen-agen tersebut, mereka tentunya sudah mempunyai jam terbang tinggi di Everest dan ketahanan tubuh yang di atas rata-rata pendaki luar Nepal. Mendampingi beberapa guide dari Adventure Consultants dan Mountain Madness yang tentunya sudah berpengalaman tinggi dalam pendakian gunung di atas 8000 meter. 2000 dollar adalah nilai yang cukup membuat mereka untuk fokus pada pekerjaan ini, pun nyawa menjadi taruhannya (Lopsang pun akhirnya meninggal karena avalanche di antara Camp III dan camp IV Everest, 4 bulan setelah tragedi). Sebenarnya perbandingan yang tidak seimbang menurut saya, asisten guide sekelas Michael Groom menerima 10.000-15.000 dollar sementara guide sekelas Anatoli Boukreev dan Rob Hall menerima 25.000 dollar.

Lalu bagaimana sistem kerja mereka di Nepal? Itulah salah satu yang saya pelajari dari kisah ini, mengingat aktifitas mendaki gunung adalah keseharian saya dan belajar atas sesuatu hal yang baru tentu saja positif untuk bisnis ini di masa depan. Sejak 2006 saya full time di bisnis ini sebagai mountain guide, bisnis yang masih baru di Indonesia pada saat itu. Alhamdulillah masih menikmati pekerjaan ini hingga sekarang, sambil tentunya memikirkan inovasi-inovasi untuk pengembangan usaha. Lalu siapa yang menginspirasi saya saat itu? Kisah tragedi Everest 1996 salah satunya. Mountaineer-mountaineer seperti Rob Hall dan Scott Fischer mampu menghadirkan pendaki-pendaki dari berbagai negara ke Nepal untuk mendaki Everest. Indonesia? Tentu saja, volcano dan hutan tropis adalah magnet yang menggoda pendaki-pendaki luar negeri untuk hadir di sini. Jika Nepal dengan atap langit bersaljunya, maka Indonesia berada di jajaran depan dengan ring of fire-nya. Suatu saat ini akan menjadi bisnis, jadi…ciptakan saja.

“The best way to predict your future is to create it.”

~ Abraham Lincoln ~

***

Ciptakan saja. Edmund Hillary tak pernah membayangkan bahwa kisahnya sebagai pionir pendaki Everest menginspirasi orang-orang dari berbagai etnik mengikuti jejak langkahnya. Pun kematian menjadi resiko terburuk mereka. Dari tahun ke tahun manusia menciptakan metode-metode aman yang mengurangi resiko kematian. Dari metode aklimatisasi hingga pemakaian tali dan tangga pengaman. Apapun itu, gunung selalu menang. Dan itu justru yang menggoda orang-orang untuk berambisi mencapai puncaknya.

Rob Hall menciptakan sebuah program pendakian Everest yang bahkan bisa diikuti oleh para amatir sekalipun (amatir = mereka yang belum pernah mendaki gunung di atas 8000 meter). Beberapa kliennya dalam Everest 1996 adalah amatir. Timbal baliknya apa? Tentu saja keuntungan finansial untuk para agen. Kecuali Jon Krakauer yang mendapatkan potongan harga, semua klien membayar dengan harga 65.000 dollar (Krakauer mendapat potongan lebih karena dia akan mempromosikan ekspedisi tersebut ke Outside Magazine, tentunya sebuah keuntungan besar untuk Adventure Consultants). Coba bayangkan, mungkin di tahun 2015 harganya sudah mencapai 75.000 dollar. Itu berarti 1 milyar. Wow, itulah bisnis! Saat itu di tahun 1996, tak perlu pro untuk mendaki Everest. Syarat mutlak adalah kaya. Kalaupun tidak kaya, seorang pendaki Everest harus didukung sponsor yang kuat.

Adventure Consultants membelanjakan dana itu sebagian besar untuk kenyamanan klien. Menyewakan pesawat untuk penerbangan Kathmandu – Lukla, mengatur keberangkatan tim advance untuk berangkat lebih dulu ke Everest Base Camp (EBC) dan mempersiapkan “rumah” selama 1,5 bulan di sana, mengatur transfer logistik yang diangkut para sherpa dan ternak mereka. Saat di EBC, para klien memperoleh service selama masa aklimatisasi 1,5 bulan. Dari mulai tenda beserta perlengkapan tidur, kebutuhan makan dan minum, mandi dan toilet, pemeriksaan kesehatan oleh dokter tim. Khusus untuk telepon satelit dan faksimile, dikenakan biaya tambahan. Di jalur pendakian, para klien mendapat akses melewati tangga, mempergunakan lintasan pengaman yang beberapa di antaranya disewakan oleh para sherpa. Kebutuhan tidur sudah dipersiapkan oleh para sherpa di Camp 1 hingga Camp 4 selama proses aklimatisasi, sudah lengkap dengan kebutuhan oksigen dalam tabung. Adventure Consultants telah mempersiapkan ekspedisi dengan baik, keselamatan dan keamanan para klien adalah prioritas utama. Klien sudah membayar mahal, untuk kembali pulang dengan selamat.

“First step is the summit, and second step is safety back to home.”

~ JH ~

***

Saya menjalankan bisnis mountain guide di Indonesia dengan durasi trip 1-6 hari di gunung. Kalau dibandingkan dengan Adventure Consultants, ya mereka jauh di atas. Dari segi durasi, tingkat kesulitan, jumlah tim, penanganan resiko-resiko di lapangan dan sebagainya. Tapi satu hal yang sama, keselamatan para klien dan seluruh tim adalah yang utama.

Dalam film Everest, beberapa adegan menunjukkan keseriusan mereka dalam usaha memberikan pelayanan untuk keselamatan para klien. Kita lihat sebetapa seriusnya tim Base Camp yang dipimpin Helen memperkirakan cuaca selama bulan April-Mei 1996. Tapi seperti kata Rob Hall, “Everest mempunyai cuaca yang lain”. Benar saja, bulan Mei yang biasanya bersahabat tiba-tiba berubah drastis pada tanggal 10 Mei 1996. Jadi, perkiraan cuaca hanyalah sebagai pendukung ekspedisi. Lalu sering kita lihat adegan pendaki yang menyuntikkan dexamethasone, untuk apa? Dexamethasone atau ” dex” adalah obat steroid yang digunakan para mountaineer untuk mengobati “high altitude cerebral edema”. Sebuah kondisi di mana otak kekurangan oksigen sehingga akan butuh menarik lebih banyak darah. Akan fatal akibatnya jika dibiarkan, pendaki akan mengalami disorientasi tubuh dan tentu saja itu berbahaya di atas ketinggian 8000 meter. Dokter tim di Base Camp secara rutin memeriksa para klien dan menyediakan dex saat dirasa perlu untuk pengobatan. Segala pelayanan bintang 5 tersebut demi ” Triumph on Everest “, ambisi para klien. Dan pelayanan selama 1,5 bulan tersebut akan ditentukan hasilnya sehari saja, harapan seluruh tim tentu saja semua pendaki turun kembali dengan selamat. Namun apa yang terjadi pada tanggal 10 Mei 1996 itu?

Setiap pemandu gunung seperti Rob Hall, Anatoli Boukreev, Scott Fischer, tentunya sudah membawa sikap leadership dalam menjalankan pekerjaannya. Memastikan semua klien turun dalam penjagaannya. Apa yang diperbuat Rob Hall terhadap Doug Hansen tentunya menjadi panutan, bahwa pembawaan seperti itulah yang harus dimiliki seorang mountain guide. Terlepas fakta bahwa akan lebih baik jika Rob Hall membawa dan memaksa turun Doug daripada mengantarnya ke puncak. Resiko besar telah diambil, dan gunung yang memberikan jawaban.

Episode paling mengharukan adalah ketika radio Rob tersambung dengan Base Camp yang kemudian diteruskan lewat telepon satelit kepada istrinya di New Zealand. Perbincangan terakhir antara mereka, perpisahan yang mengharukan karena ternyata Everest lebih memilih Rob untuk tetap membeku di situ. Yang membuat istri saya menangis, katanya;

“Mas, mbok cari pekerjaan yang lain.”

Keluarga tetaplah nomor satu. Jika Anda mempunyai jalan hidup seperti Rob, entah itu di gunung sebagai pemandu trekking, entah itu di sungai sebagai pemandu rafting, entah itu di laut sebagai pemandu diving, entah itu di goa sebagai pemandu caving, entah itu di manapun tempat extreme yang beresiko untuk didatangi bersama klien Anda. Maka Anda akan menyadari bahwa kebahagiaan terbesar bukan karena menikmati matahari terbit dari tempat-tempat extreme di dunia, namun kebahagiaan terbesar adalah pulang ke rumah dengan selamat memeluk istri dan anak-anak kita.

***

Demam mendaki gunung melanda Indone……. (BERSAMBUNG)

~ jarody hestu
Mountain Guide – Equator Indonesia

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha