Mereka berfoto-foto di atas puncak-puncak dunia. Mengibarkan bendera negaranya. Bersujud syukur atas keberhasilan mereka mencapai puncak setelah perjuangan berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Keberhasilan mereka mencapai puncak bukan berarti mereka akan turun dengan selamat. Hampir sebagian besar kecelakaan yang mengakibatkan kematian pendaki gunung terjadi saat pendaki turun dari puncak.

“Getting to the top is optional. Getting down is mandatory.”

~ Ed Viesturs ~

Perjalanan manusia dari tahun ke tahun mencapai titik-titik ketinggian dunia diwarnai kelam oleh banyak tragedi/kecelakaan para ekspeditornya. Sejarah mencatatkan Mount Everest sebagai salah satu tempat yang menjadi saksi puluhan manusia berusaha survive/bertahan hidup di antara oksigen tipis sebelum akhirnya mati dan menempati kuburan tertinggi di dunia. Setiap 4 orang yang melakukan Everest summit attack, 1 orang mati membeku di atas, sementara 3 orang selamat turun ke bawah. Jari-jari tangan dan kaki yang diamputasi menjadi tanda fisik keberhasilan survive beberapa pendakinya. Hanya K2 di Karakoram-Pakistan (puncak tertinggi kedua di dunia) yang persentase kematian ekspeditornya lebih tinggi dari Everest.

***

Beberapa hari yang lalu saya menonton film yang sedang naik daun saat ini di kalangan para penggiat petualangan dunia termasuk Indonesia, EVEREST. Sebuah film yang didasari kisah nyata kecelakaan ekspedisi Everest tahun 1996 yang melibatkan Adventure Consultants pimpinan Rob Hall dengan klien-klien dari berbagai negara. Salah satu tragedi terbesar mountaineering dunia. Sebelumnya di awal tahun 2000an sempat pula berkenalan dengan Everest lewat sebuah buku berdasar kisah yang sama. “Into Thin Air” yang ditulis oleh salah satu klien pendaki selamat di tragedi 1996 yang berprofesi sebagai jurnalis, Jon Krakauer.

Film ini mengambil informasi bermacam versi dari berbagai sumber. Tidak ingin menyudutkan pihak-pihak tertentu seperti Jon yang menyudutkan Anatoli Boukreev di Into Thin Air. Sementara Anatoli Boukreev, sang pemandu dari Mountain Madness menyanggah tulisan Jon dalam the Climb. Sang sutradara Baltasar Kormakur merangkum kedua tulisan tersebut. Ada pula sumber dari tulisan Beck Weathers, salah satu klien juga dalam Left for Dead : My Journey Home from Everest. Rekaman radio percakapan terakhir antara Rob Hall dan istrinya Jan Arnold juga berhasil didengar oleh Kormakur.

Biar bagaimanapun, seluruh pelaku sejarah tragedi ini tak akan pernah mau mendaki Everest andaikan harus mengulang hidup mereka. Termasuk guide-guide paling berpengalaman sekalipun.

“Climbing Mount Everest was the biggest mistake I’ve ever made in my life. I wish I’d never gone. I’m glad I wrote a book about it. But, you know, if I could go back and relive my life, I would never have climbed Everest.”

~ Jon Krakauer ~

***

Lalu apa yang terjadi dengan tokoh-tokohnya di kemudian hari? Tentu saja tragedi tetaplah tragedi yang akan membawa banyak pelajaran untuk perubahan di kemudian hari.

Dr. Jan Arnold merupakan salah satu dokter tim New Zealand di Everest Base Camp (EBC) dalam ekspedisi Everest 1988. Bertemu Rob Hall dalam ekspedisi 1990 lalu mereka menikah pada tahun 1992. Di tahun yang sama Adventure Consultants membawa klien pertamanya ke puncak Everest. Setahun berikutnya mereka menjadi pasangan yang bersama berhasil memuncaki Everest. Dia keluar dari ekspedisi Adventure Consultants 1996 karena tengah mengandung 7 bulan anaknya bersama Rob Hall. Ekspedisi terakhir Rob Hall. 9 bulan setelahnya, Sarah Arnold Hall lahir.

Pada tahun 2003, Jan kembali ke Everest Base Camp untuk pertama kalinya selepas tragedi. Kali ini mengajak Sarah Hall. Dalam peringatan 50 tahun pencapaian puncak Everest oleh Sir Edmund Hillary dari New Zealand dan sherpa Tenzing Norgay. Menceritakan kepada Sarah kecil kisah heroik ayahnya. Lalu menunjukkan pembaringan terakhir ayahnya yang terlihat dari EBC, daerah sekitar Puncak Selatan yang berada di atas 28.000 feet. Pembaringan tertinggi di dunia. Di atas ketinggian 26.000 feet, mayat-mayat memang dibiarkan membeku di atas sana. (10 hari setelah tragedi, tim IMAX yang dipimpin Ed Viesturs menemukan mayat Rob Hall di sekitar puncak selatan, dan sengaja dibiarkan di atas karena proses evakuasi mayat di atas ketinggian 8000 meter memang tidak memungkinkan)

Setahun sebelumnya Dr. Jan Arnold menikah lagi dengan salah satu cabinet maker dari Jerman, Andreas Niemann. Masih aktif mendaki gunung, baik bersama Adventure Consultants ataupun pribadi. Pada tahun 2011, bersama Sarah Hall yang baru berusia 15 tahun mendaki Kilimanjaro, top of Africa.

Lalu apa yang terjadi pada Adventure Consultants setelah tragedi 1996? 2 tokoh pendirinya kecelakaan di gunung. Gary Ball meninggal di Dhaulagiri pada 1993. Rob Hall meninggal dalam tragedi Everest 1996. Lalu Dr. Jan Arnold menyerahkan perusahaan kepada Guy Cotter untuk dikelola. Saat ini Guy menjadi CEO-nya. Hingga saat ini, Adventure Consultants masih menjadi salah satu provider ekspedisi mountaineering terbaik yang membawa klien-klien menuntaskan ekspedisi seven summit ataupun 14 puncak di atas 8000 meter dpl. Kantor pusatnya berada di New Zealand. Silakan klik profil mereka di www.adventureconsultants.com .

Setelah tragedi Everest Mei 1996, beberapa survivor kembali ke rumah dan mulai menuliskan kisah mereka. Jon Krakauer, jurnalis Outside Magazine menuliskan kisahnya dalam artikel di Outside pada September 1996 sebelum akhirnya dibukukan pada tahun 1997. “Into Thin Air” mendapat anugrah dari The New York Times sebagai non fiction best seller list. Di tahun yang sama Time Magazine memberikan honor “Book of the Year”. Tahun berikutnya buku tersebut mendapat anugrah Pulitzer Prize.

Terbitnya buku “Into Thin Air” yang di dalamnya terdapat kritikan Jon Krakauer atas Anatoli Boukreev disanggah oleh Anatoli pada bukunya di tahun 1997, “The Climb”. Jon mengkritik Anatoli yang memuncaki Everest tanpa membawa oksigen dan turun lebih dahulu ke Camp IV bersama beberapa klien dari Mountain Madness namun meninggalkan klien-klien Adventure Consultants dan beberapa klien Mountain Madness yang masih tercecer di atas. Pun aksi heroiknya kembali mendaki Everest membawakan oksigen di petang hari 10 Mei berhasil menyelamatkan beberapa klien dari kematian. Perdebatan yang tak selesai hingga sekarang, cuplikan perdebatan mereka silakan klik link berikut : http://www.mountainzone.com/climbin…

Wall Street Journal menulis kisah heroik Anatoli sebagai berikut,

“One of the most amazing rescues in mountaineering history performed single-handedly a few hours after climbing Everest without oxygen.”

Setahun setelah tragedi Everest, tepatnya Desember 1997, Anatoli mengalami kecelakaan di Annapurna. Avalanche menghantam tubuhnya hingga terkubur tak ditemukan lagi. Di tahun yang sama dia sukses membawa tim Indonesia Everest 1997 memuncaki Everest. Sebuah in memoriam terpasang di Annapurna Base Camp. Tertulis di situ,

“Mountains are not stadiums where I satisfy my ambition to achieve, they are the cathedrals where I practice my religion.”

~ Anatoli Boukreev ~

Survivor yang lain, Beck Weathers, menuliskan dalam bukunya di tahun 2000, “Left for Dead : My Journey Home from Everest”. Kisah survival 18 jam di temperatur sub-zero dalam wilayah Everest death zone. Sementara Lou Kasischke, salah satu klien Adventure Consultants, menuliskan dalam bukunya pada tahun 2014 “After the Wind : 1996 Everest Tragedy-One Survivor’s Story.

***

Tidak cukup durasi film 2 jam untuk menceritakan kisah nyata berdurasi 2 bulan. Diawali dengan berkumpulnya para klien Adventure Consultants ke Kathmandu untuk eksp……. (BERSAMBUNG)

~ jarody hestu
Mountain Guide – Equator Indonesia

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha