Di depan kami adalah sebuah kubangan lumpur dengan aroma khas kandang sapi. Barisan perdu dan pohon rotan berduri yang beberapa batangnya patah tersaruk mengelilinginya dengan cahaya langit yang bebas menerobos dari sisi utara. Di sisi yang lain adalah kanopi hijau hutan tropis dataran rendah yang lebat. Pak Odah, pemandu kami dari Taman Nasional menjelaskan kepada kami,
“Masih baru mas bekasnya, badak baru saja pergi dari sini pagi tadi.”

Pagi tadi, berarti sekitar 5 jam yang lalu seekor badak atau bisa jadi badak betina bersama anak-anaknya sedang mandi lumpur di sini. Iklim yang tropis membuat mereka membutuhkan perlindungan terhadap sengatan sinar matahari dan lumpur akan menstabilkan suhu tubuh mereka.

Kubangan lumpur badak, sebuah penemuan yang menyenangkan siang ini. Di hutan tropis di mana rata-rata seekor badak mendiami wilayah seluas 2,6 km x 2,6 km. Populasi yang semakin mengkhawatirkan lestarinya Rhinoceros sondaicus.
***

Di depan kubangan badak

Di depan kubangan badak

Tak pernah lebih dari 60 ekor badak teridentifikasi selama beberapa puluh tahun ini. Kondisi yang mengkhawatirkan di semenanjung paling barat pulau Jawa seluas 38.000 Ha dari total daratan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) seluas 78.000 Ha.
“Mas, saya 30 tahun bekerja di Taman Nasional dan hanya bertatapan langsung dengan badak sebanyak 7 kali.” kata Pak Hartoyo, salah satu petugas di resort Karangranjang TNUK.

Seorang petugas Taman Nasional bisa menjumpai jejak kaki badak yang masih baru saja sudah senang. Atau menemukan kotoran badak yang masih baru dan kubangan lumpur di tengah hutan yang masih keruh pertanda baru saja ditinggalkan pergi oleh badak. Kesenangan yang berharga adalah saat menyaksikan dalam proses identifikasi kamera video trap, ketika 6 bayi badak tertangkap kamera bulan November 2012 lalu. 51 ekor badak teridentifikasi di TNUK pada sensus tahun 2012 dari puluhan kamera trap yang terpasang di semenanjung.

Tugas inilah yang diemban tim RMPU (Rhino Monitoring and Protection Unit). Tim inilah ujung tombak pelacak jejak badak di TNUK. Mereka tersebar atas beberapa tim di beberapa seksi wilayah TNUK yang meliputi; Peucang-Panaitan, Handeuleum-Karangranjang, dan Sumur-Tamanjaya. Setiap 15-20 hari mereka menetap di hutan lalu beristirahat untuk kemudian kembali lagi ke hutan.

RMPU ini dibagi lagi menjadi 2, yaitu RMU (Rhino Monitoring Unit) dan RPU (Rhino Protection Unit). RMU bertugas untuk memonitor pergerakan badak sementara RPU bertugas untuk menjaga keamanan badak dari ancaman dari luar, termasuk di antaranya menjaga kelestarian hutan semenanjung Ujung Kulon. Pergerakan badak sekecil apapun akan menjadi data yang bermanfaat untuk identifikasi badak. Tim RMU harus mampu mengenali jejak-jejak badak yang masih baru, seperti tapak kaki, keruhnya kubangan lumpur, patahan ranting yang masih bergetah, gesekan pada batang, kotoran yang masih baru. Jejak-jejak yang baru itu sebagai pertanda bahwa ruang gerak badak masih di sekitar wilayah tersebut. Dari pergerakan yang baru tersebut mereka akan mudah memonitor jalur badak, bahkan jika beruntung akan berhasil berhadapan badan dengan badak. Begitulah cara monitoring secara manual tanpa memasang alat deteksi elektronik pada tubuh badak.

Monitoring elektronik dilakukan dengan pemasangan kamera foto/video trap (perangkap). Ada puluhan kamera trap yang dipasang di setiap blok hutan yang diidentifikasi sebagai jalur badak sesuai dengan hasil monitoring manual. Kamera dengan sensor gerak tersebut dipasang tersembunyi dan akan melakukan jepretan/rekaman otomatis setiap ada pergerakan di sekitarnya. Kamera tersebut akan diganti memory card-nya setiap bulan dengan yang baru. Sementara hasil yang lama akan diolah dalam proses identifikasi badak. Setiap badak akan dibedakan ciri-ciri fisiknya hingga keakuratan identifikasi badak akan mendekati sempurna,

Sebegitu mudahkah monitoring tersebut? Tidak. Badak dapat mengenali pergerakan dan bau tubuh manusia. Penglihatan badak memang jelek, tapi pendengaran dan penciumannya sangat tajam. Apalagi jika arah angin terarah menuju ke badak. Semakin manusia akan mendekat, semakin dia berlari menjauh. Hampir sebagian besar dokumentasi badak memang terekam melalui kamera foto/video trap. Mereka satwa langka yang meninggalkan jejak-jejaknya tanpa memberi kesempatan manusia untuk melihatnya langsung.

Masih terngiang celetuk dengan logat Sunda kasar dari salah satu petugas RMU di pos resort Karangranjang ketika kami bermalam bersama mereka di sana.
“Mas, kami ini orang utan. Daun-daun yang dimakan badak itu juga kami makan. Belasan hari tak pernah keluar utan. Hiburannya ya kejar-kejaran dengan jejak dan bekas jalur badak. Hahaha.”

Pekerjaan yang hebat.

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha