Salam lestari,

Borobudur adalah tempat yang akrab bagi saya, mengingat profesi saya sebagai seorang guide. Setiap mengantar tamu-tamu asing, saya bersama guide berbahasa asing dari Borobudur akan mulai membaca relief dari gerbang sisi timur candi. Saya butuh bantuan dia, karena saya tak bisa membaca relief Borobudur. Relief akan dibaca searah jarum jam mengelilingi setiap tingkatannya hingga kembali lagi ke titik awal membaca lalu naik ke tingkat berikutnya untuk melanjutkan cerita. Itulah Mapradaksina, Daksina adalah timur di dalam bahasa Sansekerta. Itulah mengapa candi Borobudur menghadap ke timur, meskipun berpola simetris dan terkesan menghadap segala penjuru arah.

 

Hampir sama dengan Mapradaksina, Pradaksina adalah penghormatan yang dilakukan dengan berjalan pelan mengitari objek yang kita hormati sebanyak 3 kali (biasanya). Dilakukan dengan posisi Anjali yaitu kedua telapak tangan ditangkupkan di depan dada.

 

Pradaksina inilah yang menjadi salah satu puncak acara Waisak kemarin dengan objeknya adalah candi Borobudur. Dan salah satu sesi Waisak di mana kekhusyukan para Bhiksu terganggu oleh para traveler.

 

“Bukankah saya juga seorang traveler saat itu, bukan sebagai seorang guide?”

 

Menjelang Maghrib di ketinggian Borobudur, Waisak 2013 – courtesy of jarody hestu

 

Hari Minggu kemarin setelah Waisak saya banyak berkicau di twitter dengan hashtag #waisak. Beberapa hal menyangkut etika pengunjung, seperti pakaian pengunjung yang kurang sopan di tempat yang suci, para pasangan yang saling berpelukan dan memanfaatkan momen hujan, beberapa pengunjung yang pipis sembarangan (asal sepi dan gelap) dan lainnya. Saya tidak berkicau tentang Pradaksina atau kelakuan para traveler di atas altar karena memang melihat Waisak dari pos Satpam, sangat jauh. Tak cukup lensa 135 mm ini memotret ke depan. Sementara di depan para traveler menyemut seperti para penonton bola di GBK.

 

Ketidaktertiban hanya terbaca saat suara mix menyerukan peringatan belasan kali agar para traveler tidak naik ke altar, tidak menutupi jalan masuk dan keluar para Bhiksu ketika Pradaksina. Namun begitulah, peringatan tinggalah peringatan hingga pada akhirnya tertulis banyak sekali celaan terhadap para traveler Waisak kemarin. Tak perlu saya tuliskan secara detil di sini, karena para pembaca pasti juga sudah membacanya di tulisan-tulisan yang lain.

 

Yang ingin saya tuliskan lebih kepada nasihat, untuk diri sendiri pada khususnya dan rekan-rekan traveler yang lain pada umumnya.

 

Tak ada salahnya saya ikut meminta maaf, karena memang menjadi salah satu traveler dari puluhan ribu traveler dalam acara Waisak kemarin. Menyesal, iya. Sangat menyesal. Tapi apa gunanya menyesal jika tahun depan tetap seperti ini kembali. Yang dulu sudah tak bisa diubah, biarlah menjadi pelajaran dan diambil hikmahnya. Yang bisa diperbaiki adalah hari depan. Mari bersama-sama menilai diri sendiri, traveler seperti apa kita? Sudah santunkah kita terhadap alam, sudah santunkah kita terhadap manusia lain, sudahkah kita memegang teguh prinsip Ketuhanan.

 

3 hal tersebut; hubungan manusia dengan manusia lain, alam dan Tuhan. Itulah akhlak, yang tak hanya dipelajari lewat teori, namun dijunjung tinggi dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Masih banyak sisi-sisi dalam diri kita sebagai seorang traveler yang harus diubah daripada menilai kesalahan-kesalahan pihak lain. Memantaskan diri sendiri agar layak berkunjung ke tempat-tempat indah di Indonesia yang berbeda latar agama, adat dan budaya. Bagaimana memanusiakan manusia lain, berinteraksi dengan mereka, memegang teguh etika. Di bumi itu kita berdiri dan di situlah kita menerima adat mereka untuk kita hargai. Sudahkah saya? Sudahkah Anda? Sudahkah kita?

 

Tak ada yang salah dengan wisata, yang ada adalah kesalahan diri kita sendiri sebagai manusia yang memelihara ego. Mari sama-sama belajar kembali menjadi seorang traveler yang santun. Mari kembali berfikir jernih, mulai saling memaafkan. Pihak yang merasa salah, meminta maaf dan yang mengkritik besar hati mengalah dan memaafkan. Mulai membenahi kembali sistem yang salah untuk kebaikan di tahun depan, entah itu pada diri pribadi kita masing-masing ataupun sistem di dalam objek yang akan kita kunjungi.

 

Lalu, sistem konkrit yang seperti apa demi kebaikan upacara keagamaan di Borobudur?

 

Sekali lagi, jangan salahkan wisata. Wisata itu baik. Baik untuk Indonesia, baik untuk masyarakat lokal. Borobudur adalah kearifan lokal Indonesia, kebanggan Indonesia. Namun Borobudur adalah pusat upacara agama Budha di Indonesia. Maka, kemaslah Borobudur untuk wisata di kotak pertama dan kemaslah Borobudur untuk agama di kotak yang kedua, itu lebih santun. Pihak pengelola akan lebih santun jika memberi batasan antara wisata dan agama pada Candi Borobudur.

 

Kembali memohon maaf, sebagai salah satu dari puluhan ribu traveler di Borobudur ketika Waisak kemarin dan juga sebagai salah satu pengkritik para traveler yang lain dalam kicauan-kicauan di twitter. Mari saling memaafkan dan kembali mengkoreksi diri sendiri, itu terbaik. :)

 

Jogja, 27 Mei 2013
~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha