21 Desember 2012

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Hampir pukul 9 malam, di bawah rintik hujan Jogja yang entah kapan mereda. Biasanya, hujan seperti inilah yang paling awet, tak seberapa deras tapi maha lama. Sebaliknya, jika hujan itu seperti ember penuh air yang “ujug-ujug” tumpah semua, sangat deras, biasanya berlangsung hanya dalam hitungan puluhan menit saja.

 

Namun hujan harus tetap terlewati, demi sebuah pagelaran wayang kulit.

 

Tak hanya hujan ternyata halangannya, ada-ada saja. Tiba-tiba RX King ini kehabisan bensin sebelum melewati stasiun Lempuyangan. Dan ini kan sudah tutup waktu para penjaja bensin eceran, tentunya sangat sulit mencari mereka. Dan pompa bensin terdekat masih jauh. Ya sudahlah, mari mendorong RX King malam-malam. Ishbir..ishbir.

 

Sabar adalah ketika kehabisan bensin di bawah gerimis malam dan terpaksa mendorong sepeda motor selama setengah jam. Wkwkwk ^^ v. Alhasil, saya terlambat datang di rumah budaya Tembi, tempat pagelaran wayang kulit ini. Sudah ramai dan “gunungannya” sudah terbuka rupanya.

 

Pendopo Tembi, Masya Allah..takjub.

 

Pendopo yang agak lebih besar sedikit daripada gubug saya. Berukuran sekitar 10 x 10 meter lengkap dengan terasnya. Semua bahan bangunan dari kayu jati, gebyoknya, usuk-rengnya, kolomnya, semuanya. Peralatan tetabuhan beserta penabuhnya berada di teras, sementara layar putih membatasi antara teras dan pendoponya. Penonton bisa melihat bayangan pergerakan wayang di dalam pendopo, sementara jika ingin melihat langsung dengan pergerakan dalangnya bisa duduk di kursi yang disediakan di depan teras.

 

Pendopo Tembi

 

Penuh dengan cahaya kuning, yang menghasilkan efek menakjubkan untuk fotografi malam di antara kolom-kolam dan atap kayu jati. Sementara pertunjukan wayangnya itu sendiri begitu selaras dengan aksen Jawa kental bangunan pendopo ini. Ingin seperti ini, ingin suatu saat nanti gubug saya disulap seperti ini. Penuh dengan cahaya kuning temaram dan pertunjukan wayang!! Dan orang-orang desa yang bersahaja bisa menontonnya sambil menikmati kacang godhog, gedhang goreng dan teh hangat suguhan saya di depan mereka. Aamiin. :)

 

Saya terlambat mengikuti prolognya, tentang masa kecil Dewi Kunthi. Raja Mandura mempunyai 2 orang anak, yaitu Basudewa dan Dewi Prita. Dewi Prita akhirnya dititipkan kepada Raja Kunthiboja karena beliau tidak memiliki keturunan, alhasil sejak saat itu Dewi Prita dipanggil dengan sebutan Kunthi.

 

Kunthi mempunyai seorang guru, yaitu Resi Druwasa. Sang resi sudah menganggap Kunthi sebagai putri sendiri hingga dia memberikan sebuah ajian kepada Kunthi, yaitu aji Pepanggil. Ajian ini untuk memanggil para dewa sesuai dengan kehendaknya. Dan suatu hari si kecil Kunthi mengucapkan ajian tersebut, dan datanglah Bathara Surya, sosok dewa yang dicintainya.

 

Namun, sesuatu terjadi. Sudah menjadi ketetapan dewata, Kunthi kecil harus mengandung anak dari Bathara Surya tanpa melalui hubungan biologis.

 

Tentu saja kerajaan malu besar, seluruh penduduk sudah tahu bahwa Kunthi kecil sudah mengandung anak. Bathara Surya sadar diri, dengan kekuatannya, Kunthi kecil akhirnya melahirkan anaknya melalui telinga. Agar keperawanan Kunthi tetap terjaga. Anak itu bernama Suryaatmaja atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan Karna (yang berarti telinga).

 

Kelak anak inilah yang akan melawan saudara-saudara kandungnya sendiri (Pandawa) dalam perang Bharatayudha.

 

Sesi kedua pagelaran wayang adalah kisah pilu Kunthi yang harus melarung putranya ke sungai Aswa, sesuai pinta kerajaan agar kehormatan tetap terjaga. Si kecil Karna yang terlahir dengan kekuatan yang maha besar hingga ampuh terhadap senjata harus seorang diri berada di tengah perahu dalam aliran sungai Aswa. Menunggu seseorang datang memungutnya.

 

 

Kunthi beranjak dewasa, dan sudah saatnya untuk berjodoh. Kerajaan Mandura mengadakan sayembara. Barang siapa yang dapat mengalahkan Basudewa (kakak Kunthi), maka berhak untuk menikahi Dewi Kunthi.

 

Narasoma terlebih dahulu yang memenangkan sayembara dengan mengalahkan Basudewa. Namun Narasoma harus memenuhi janjinya untuk tak menikahi orang lain selain Dewi Pujiwati. Akhirnya datang Pandu, dan Narasoma berhadapan dengan Pandu dalam sebuah peperangan yang hebat.

 

Dan 2 dalang di depan menggambarkan peperangan antara 2 ksatria ini dengan megahnya. Hebat. :) :) :)

 

Ajian candrabirawa

 

Pandu mengeluarkan ajian Candrabirawa, alhasil takluklah Narasoma. Sebagai perwujudan rasa ksatria Narasoma. Maka dipersembahkanlah adiknya, Dewi Madrim, untuk dinikahi Pandu. Jadi Pandu berhasil memboyong 2 orang istri dari sayembara tersebut.

 

Sang dalang menggambarkan proses penghibahan Kunthi dari Mandura kepada Astina (kerajaan Pandu) itu dengan lucunya. Dengan frase-frase khas manusia modern, “bojo enom” (Madrim) dan “bojo tuwo” (Kunthi), ahahah. :D :D :D

Pandu menerima Kunthi dan Madrim dari Mandura

 

 

Pandu memboyong Dewi Kunthi dan Dewi Madrim ke kerajaan Astina. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Sengkuni yang juga ingin menghadiri sayembara. Pertempuran kembali terjadi, Sengkuni kalah. Dan sebagai ganjarannya, dia harus menyerahkan Dewi Gendari kepada Pandu.

 

Pandu pulang ke Astina untuk menghadap Wiyasa, ayahnya.

 

Para dalang menutup sesi ini, lalu intermezzo dimulai. Punakawan!!! Salah satu sesi yang ditunggu oleh para penonton, karena mengajak penonton tertawa. Pagelaran wayang yang didalangi oleh 2 orang dalang akan menjadi ramai. Karena “gojegan” tak pernah putus dan saling menyambung. Beda halnya dengan pagelaran yang didalangi oleh dalang tunggal. Namun kekuatan dalang tunggal adalah yang terbaik, karena dia adalah aktualisasi sifat belasan tokoh wayang yang akan dia jalankan. Hebat!!!

 

Ki dalang memainkan Dewi Kunthi

 

Tetabuhan tak pernah berhenti, bonang, saron, gong, seruling bambu dan lainnya. Lalu swara 5 orang sinden yang menembangkan tembang Jawa saling beriringan, meriah. Lalu sebuah kejutan dipersembahkan oleh sang dalang.

 

Para penabuh

 

Para sinden

 

Salah satu dalang memanggil salah seorang tamu. Seorang wanita berusia 30 tahunan. Berkulit putih dan bermata sipit yang dipigura oleh kacamata. Tentu saja sipit karena memang dia adalah orang Jepang. Kejutan.

 

Namanya Hiromi, pada tahun 2002 dia mengikuti program pertukaran budaya Indonesia-Jepang. Lalu dia memilih untuk menekuni ilmu di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Program itu dia jalani 2 tahun, ilmu karawitan adalah pilihannya. Jodoh datang tanpa terkira, dia menikah dengan seorang pria Indonesia dan saat ini dikarunai 2 orang anak.

 

Dia mahir berbahasa Indonesia, bahkan berbahasa Jawa baik itu ngoko maupun krama inggil. Menjadi sinden adalah aktifitasnya saat ini. Pernah tampil di Istana Negara di depan Presiden SBY untuk menyindeni pagelaran wayang di sana. Unik.

 

Dan saat ini sang dalang memintanya untuk menembang. Dan, luar biasa. Salut tak terkira, sebuah tembang berbahasa krama yang dilantunkannya dengan cengkok Jawa tulen lengkap dengan vibrato khas seorang sinden. Tak terlihat lagi aksen Jepang-nya yang cedal. Belum cukup, sang dalang memintanya untuk menabuh dan diiringi para penabuh yang lain.

 

Hiromi, sempurna. Salut dan tak henti tepuk tangan untuk dia.

 

Sinden Jepang, Hiromi

 

Kembali kepada layar. Pandu menyerahkan keputusan tentang 3 orang dewi tadi kepada Wiyasa, ayahnya. Drestarata, kakak tirinya yang dipersilakan untuk memilih terlebih dahulu. Dia memilih Dewi Gendari sebagai istrinya. Dengan demikian Pandu berhak untuk menikahi Dewi Kunthi dan Dewi Madrim.

 

Dari Dewi Kunthi, terlahirlah Yudhistira, Bima dan Arjuna. Dari Dewi Madrim, terlahirlah Nakula dan Sadewa. Merekalah sang Pandawa. Sementara itu, Dewi Gendari melahirkan para Kurawa dari Prabu Drestarata. Pandawa dan Kurawa, kelak merekalah yang akan menjadi lakon dalam perang Bharatayudha. Pertempuran para saudara dalam memperebutkan tahta.

 

Selesai, pagelaran yang hebat di tempat yang hebat yang dikelilingi persawahan lengkap dengan swara-swara binatang malamnya.

 

Wayang, perwujudan sifat-sifat manusia ada di dalamnya. Tak ada yang sempurna, bahkan seorang ksatria. Kita melihat, lalu mengikuti jalan ceritanya, lalu mengambil intisari di dalamnya. Pilihlah sifat-sifat yang santun, yang bersahaja dan memanusiakan manusia. Lalu peganglah itu untuk sebuah kehidupan yang bermakna di kota.

 

Wayang, perwujudan sifat-sifat manusia, mari mempelajarinya :)

 

Tak cukup itu, jika kita seorang ayah yang baik, ajaklah istri dan anak-anak kita untuk melangkah pada kebaikan. Jadikan diri kita sebagai teladan, agar bisa menciptakan sebuah keluarga yang indah. Lalu jadikanlah keluarga kita sebagai teladan untuk menjadikan sebuah masyarakat yang indah di sekitar kita. Lalu jadikanlah masyarakat ini sebagai teladan agar dapat membangun sebuah negara yang indah. Insya Allah dengan menjadikan diri sendiri sebagai seorang teladan akan menjadi lebih baik daripada bertarung tenaga dan mulut di tingkat penguasa.

 

Wallahu A’lam Bishawab. :)

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha