Pernah mendengar kata angkringan? Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di kota Jogjakarta pasti sudah familiar dengan istilah ‘angkringan’. Angkringan adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman khas yang biasa berjualan di pinggir jalan. Di sekeliling gerobag biasanya disediakan bangku kayu yang muat untuk 8 orang dan gerobagnya ditutup kain terpal plastik. Angkringan biasa berjualan sore hingga dini hari dengan penerangannya menggunakan lampu minyak “senthir” dan sekarang lebih sering menggunakan lampu petromak.

 

Angkringan berasal dari kata “angkring” yang berarti “duduk santai” atau bahasa jawa “ngankring” yang artinya duduk dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki yang lainnya. Di dalam budaya jawa itu sendiri, cara duduk seperti ini biasanya tidak diperbolehkan karena dianggap tidak etis apalagi bila dilakukan pada saat makan. Angkringan sering juga disebut dengan nama warung kucing, karena nasi yang dijual porsinya sedikit (dengan pasangan lauk berupa sambel dan ikan teri seperti makanan untuk kucing) sehingga sering dinamai “nasi kucing”.

 


Sejarah angkringan memang bermula dari upaya menaklukkan kemiskinan usaha ini konon dimulai pada tahun 1950-an oleh Mbah Pairo karena tidak ada lahan yang subur di desanya di kecamatan Cawas, Klaten (Jateng). Awalnya para pedagang minuman dan makanan kecil ini tidak menggunakan gerobak melainkan pikulan mereka dulu disebut pedagang hik (dibaca Hek). Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran (malam ke21) di Keraton Surakarta, pada malam tersebut kota berhiaskan lentera (ting-ting) yang antara lain dibawa para pedagang makanan para pedagang itu biasa berteriak Hiik……iyeeekk…. sampai sekarang istilah hik masih dipakai di Solo. Namun di Yogya mereka populer dengan nama angkringan atau warung kucing (Kompas, 20-06-2004).

 

Angkringan biasa menyajikan nasi bungkus yang isinya bermacam-macam, ada nasi oseng tempe, nasi oseng teri, nasi sambal teri, dan nasi sambal mi. selain itu sebagai pelengkapnya ada aneka gorengan seperti bakwan, tempe,tahu, pisang, dan ketela, ada pula sate ayam, sate usus, sate hati, ceker bacem, kepala ayam bacem, serta aneka lauk dan cemilan lainnya. Apabila gorengan atau lauk sudah dingin, anda bisa meminta kepada penjual untuk membakarnya kembali agar lebih enak untuk dinikmati. Minuman yang disediakan pun bermacam-macam, salah satu yang khas adalah wedang jahe. Ada pula es tape, es teh, es jeruk, kopi panas, kopi jahe, kopi susu, dan tentu saja air putih. Antara satu penjual angkringan dan yang lainnya kadang berbeda menu yang disajikan.

angkringan Jogja

angkringan Jogja

 

Angkringan menawarkan hidangan makanan dengan harga yang sangat terjangkau. Tak heran bila warung-warung ini pasti memiliki pelanggan tetap di mana pun. Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik angkringan yaitu budaya toleransi. Setiap pembeli mau berbagi tempat dan menghargai orang lain yang duduk berdekatan.

 

Tak rugi bila anda menikmati suasana duduk santai dan makan di tempat ini. Suasananya akan membuat anda betah berlama-lama ngobrol di sini. Silakan datang langsung ke TKPnya. Banyak sekali angkringan di Jogjakarta, mulai dari angkringan pikul, angkringan gerobag, dan juga angkringan modern atau angkringan ala café ^_^

 

-dikutip dari berbagai sumber-
Nurul Fitriani

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha