Dear Indonesia,

3 kota ini adalah Situbondo, Banyuwangi dan Bondowoso. Hampir 300 kilometer jalan raya menggaris 3 titik ini menjadi sebuah lingkaran yang berdiameter mencapai 100 kilometer. Lingkaran yang dipagari oleh 3 Taman Nasional yaitu TN Meru Betiri, TN Baluran dan TN Alas Purwo.

Lalu ada apakah di dalam lingkaran tersebut?

***

Sesosok pria tua berusia lebih lebih dari 50 tahun berjalan naik tertatih di undak-undakan sambil memikul beban seberat hampir 100 kilogram di pundaknya. Yang terbagi sama rata menjadi 2 keranjang. Sementara sinar lampu LED di kepalanya tak jelas terarah menyorot ke depan, kadang menghadap ke atas, kadang juga menghadap ke bawah. Mengikuti alur undak-undakan batu yang menuju ke igir-igir kawah. Sudah hampir sampai tepi kawah tampaknya. Sementara di bawah, api biru menggoda setiap orang asing yang penasaran di tepian kawah. Hampir Shubuh ketika itu.

“wooow, what a stove!!!” salah seorang turis berteriak takjub.

the blue fire

Dan mereka pun saling bertemu. Pria tua tanpa meletakkan pikulannya mengambil sebuah bungkusan dalam keranjang. Sebuah bungkusan dengan benda-benda berwarna kontras di kegelapan, kuning. Dan dia menyodorkannya kepada para turis sambil memelas,

“Ten thousands mister.”

Sebuah bungkusan yang tiba-tiba mengalihkan perhatian para turis dari api biru. Solfatara (belerang) beku yang tercetak sedemikian rupa menjadi bentuk-bentuk lucu, seperti bunga, tukik dan lain-lainnya. Rejeki tak akan ke mana bagi si pria tua ini. Dia telah menciptakan karya yang luar biasa di dapur kawah, di antara asap-asap solfatara yang merasuk baunya ke dalam tubuh. Mungkin ini lebih manusiawi daripada 900 rupiah yang dibayarkan perusahaan belerang untuk tiap kilogram belerang yang diangkutnya.

si tukik

Pria tua pengangkut 100 kilogram belerang dan para turis yang menyaksikan si api biru itu adalah salah satu interaksi yang terjadi di dalam lingkaran sepanjang hampir 300 kilometer melewati 3 kota. Di ujung paling timur pulau Jawa.

interaksi antara orang asing dan penambang belerang

***

Kawah Ijen terletak di ujung timur pulau Jawa. “Kepala ayam” pulau Bali tepat menatapnya. Berada dalam rangkaian pegunungan yang membentang melintasi Bondowoso-Situbondo-Banyuwangi, gunung Raung, gunung Suket, gunung Kukusan serta gunung Ijen-Merapi. Kawah Ijen merupakan pabrik alami belerang terbesar di Indonesia yang ditambang secara tradisional. Kawah Ijen merupakan saksi atas perwujudan kerja keras manusia tradisional dalam memenuhi kebutuhan duniawinya.

dapur belerang kawah Ijen

Seorang penambang belerang di kawah Ijen adalah gambaran kerja keras itu. Mereka merelakan diri untuk begadang di dinginnya udara dapur kawah, lalu memasak belerang pada tengah malam yang menciptakan efek “blue fire” karena kontras cahaya. Menciptakan belerang menjadi beku dan padat agar dapat dipikul. Bergelut dengan rasukan asap yang mungkin dapat merusak paru-paru mereka. Lalu memikulnya setinggi 200 meter ke atas (igir-igir kawah) pada trek miring yang berbatu. Lalu membawanya turun ke bawah sepanjang 3 kilometer perjalanan. Pekerjaan yang mereka lakukan antara 2-3 kali naik dan turun sehari.

mengangkut solfatara seberat 70-120 kilogram

Seorang pria muda dapat mengangkut beban pikul antara 100-120 kilogram. Sementara seorang pria tua dapat mengangkut beban pikul antara 70-100 kilogram. Saat ini (tahun 2012), 1 kilogram belerang dihargai 900 rupiah oleh perusahaan (bukan pengepul belerang). Dengan penghasilan itu, mereka dapat menafkahi seluruh anggota keluarganya. Dan inilah pekerjaan utama mereka. Kadang mereka cuti dan mereka menyibukkan diri dengan bertani dan beternak. Namun itu tidaklah lama.

Mereka akan kembali ke Kawah Ijen karena itulah peraduan hari mereka. Pengabdian mereka.

***

Wisata diciptakan sedemikian rupa dengan menjunjung kearifan tradisi sebagai penyangga utama. Sebuah tempat menjadi ramai oleh manusia-manusia penikmat alam, dan sudah semestinya pula itu tertular menuju kesejahteraan masyarakat lokal yang lebih baik. Jika pemerintah terlalu sibuk dengan urusan perut mereka, marilah kita yang masih sadar menengokkan hati ini kepada orang-orang tradisi. Jangan menunggu orang lain berbuat, biarlah hati kita berbicara.

Sudahkah kita berbagi??”

~ be brave

jarody hestu

jogja, 30 November 2012

 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha