~ Rinjani guide, 13-15 Mei 2012

Sebuah sms dari Sembalun, Lombok pada pagi hari, 23 Mei 2012.
Koyok : Aslamualekome, mas lgi ngpain skrang di jokja, gi mna kbarnya apa seht2 aja ya
Saya : wa’alaikum salam, kbar baik di jogja :D ..lg di rumah mau brangkat kantor..rinjani lagi rame ya?
Koyok : Skrng lgi rme mas di rinjani, bru pulng ni lewt senaru lg. kpn dtng lgi mas
Saya : siplah..selamat beraktifitas wes..insya Alloh juli sbelum puasa ke sana lagi..
Koyok : ok mas smoga sukses di kntor. mekom

Koyok adalah penduduk desa Sembalun, Lawang, Lombok Timur. Dia teman baru saya di Lombok yang saya kenal karena pendakian gunung Rinjani 13-15 Mei 2012 kemarin. Dan betapa senangnya hati saya karena mendapat sms dari dirinya pagi itu, seolah mengingatkan diri saya kembali bahwa saya akan selalu hadir di Rinjani.

Koyok, berjalan di urutan kedua dari depan

Seperti halnya dengan desa-desa lain di lereng pegunungan, seperti Ranu Pane Semeru, Sengonan Glenmore, Kinahredjo Merapi, Plalangan Selo Merapi, Krinjing Merapi dan lainnya. Saya pribadi lebih tertarik untuk menjalin hubungan kekeluargaan dengan masyarakatnya daripada hanya sekedar mendaki gunungnya lalu pulang kembali ke kota tanpa ada kenangan tersendiri dengan penduduk desanya. Hanya melarikan diri dari kota, begitu istilahnya. Mengenal orang-orang hebat di lereng gunung seperti Mbah Maridjan, Ibu dan Pak Udi di Kinahredjo, Pak Misno di Glenmore, Mistono Ranu Pane tentu lebih dari sekedar mendaki gunung itu sendiri. Dengan petuah-petuah mereka yang hanya saya balas dengan anggukan kepala sambil berkata, “njih”, itu sudah seperti elegi-elegi yang meyakinkan bahwa kehidupan kota itu tak ada apa-apanya, palsu dan memang memuakkan. Dan belajar dari kehidupan sederhana di desa adalah sebuah pilihan yang harus dipelihara dalam diri saya.

Bahwa setelah berkelana di “tempat- tempat yang entah”, saya tersadar bahwa petualangan terbaik adalah mengenal manusia lain.

Bersama penduduk Sengonan Glenmore, 2012. Mereka hebat.

***

Sebuah percakapan 14 Mei tengah malam di Segara Anak dengan Koyok, Adok dan teman-teman porter Rinjani lainnya, Saya menikmati perbincangan di atas gunung dengan kabut di sekelilingnya dari pada hanya sekedar “mengucing” di tenda. Mereka teman-teman porter yang hebat. Kayu bakar tak pernah habis di sekitar tenda, air hangat tak pernah putus berhenti diaduk bersama kopi hitam ataupun teh. Namun saya tegaskan pada Koyok,

“Sampeyan gak perlu masak mas, saya beda dengan guide lain..saya aja yang masak, sampeyan cukup nyari kayu, air, nyalain api sambil menanak nasi.”

Biasanya, seorang porter Rinjani bekerja sebagai pelayan juga di gunung. Dari mencari kayu, air, membakar kayu, lalu memasak menu-menu makanan bagi tamu-tamunya. Ahh, tapi itu hanya pada umumnya, saya kan agak aneh dan beda..hehehe. Dan begitulah, saya tak pernah mengijinkan mereka untuk memasak lauk dan sayur di gunung. Biarlah saya yang melayani mereka dalam hal makanan. Bagi saya, porter dan guide itu sama saja. Seorang guide juga boleh juga kok menggendong tas besar sepanjang naik menuju Plawangan Sembalun. Di Sembalun, sebagian besar guide lokal memulai pekerjaanya selepas bertahun-tahun menjadi porter. Namun jika mereka cepat menguasai bahasa Inggris, tak butuh waktu lama untuk naik jabatan.

Porter Rinjani, mereka yang terbaik di sini. Tak ada habis kata untuk menulis kisahnya. Sebagian besar kelancaran pendakian hingga para tamu mencapai puncak Rinjani tergantung di pundak mereka.

Dan sebagian kecilnya dipengaruhi oleh cuaca.

Summit attack pada dini hari hingga pagi hari 14 Mei itu tak berlangsung lancar. Kabut dan angin memberikan jawabannya.

Cuaca buruk pada 14 Mei pagi ketika summit attack

Sandi dan Dodi tetap bertahan di dalam tenda Plawangan Sembalun. Saya paham, mungkin mereka sudah terlalu lelah akibat pendakian dari desa hingga camp. 3 orang porter menemani mereka di camp. Sementara Ari, Ipin dan mbak Endang berangkat menuju ke atas.

Tampaknya lancar-lancar saja, 1 jam pertama hingga igir-igir danau masih beratapkan bintang dan lautan awan di bawah. Namun seketika perubahan-perubahan dimulai dengan drastis. Gumpalan kabut mulai naik dari danau menuju ke atas, seperti halnya gumpalan kabut di timur yang naik ke atas juga. Igir-igir diselimuti kabut dengan jarak pandang antara 20 hingga 50 meter. Kelabu di mana-mana. Sementara angin dingin tak henti pula mengalir dari sisi matahari terbit, menusuk tubuh menuju ke barat, ke arah danau.

Tak ada hujan, namun pakaian tetaplah basah oleh uap air. Sementara jemari yang terselimut kaos tangan kadang terasa seperti mati rasa. Tak hanya rombongan kami, igir-igir penuh dengan antrian mereka yang akan menuju puncak Rinjani. Kaki melangkah naik dengan lambat, yang penting tetap melangkah saja. Saya mengerti, bahwa yang saya antar adalah orang domestik. Lain halnya jika saya mengantar orang asing, tentu saya akan berjalan dengan cepat sesuai dengan kecepatan mereka.

Harapan mulai datang ketika sunrise, sepertinya kabut akan mulai tersibak ketika dari kejauhan timur sana tampak cahaya kuning dan merah. Namun ternyata hanyalah harapan, kabut dan angin awet-awet saja bertahan. Rombongan besar pendaki lain memutuskan untuk bersembunyi di balik batu besar, 1 jam di bawah puncak. Cukup lama bertahan di balik batu besar, hingga angin mulai mereda. Hanya sedikit mereda. Beberapa orang dari rombongan lain memutuskan turun, namun kami tetap menuju ke puncak.

Ada seorang pendaki perempuan yang tampaknya berusia sekitar 55 tahun dan berjalan sendirian di depan saya.

“Sendirian bu?” sapa saya sembari berjalan melewatinya.
“Iya.”
“Guide-nya mana?”
“Tidak ikut naik, dia di batu besar.”

Ibu yang hebat, dan ketika saya turun dari puncak, saya masih menjumpai ibu ini tetap bertahan naik sendirian sementara banyak pendaki lain yang memutuskan turun. Si ibu ini akhirnya mencapai puncak, salut.

Saya tiba di puncak Rinjani sekitar pukul 8 pagi, disusul Ipin di belakang saya. Sementara mendapat informasi dari pendaki yang lain bahwa anggota tim yang lain memutuskan turun kembali bersama rombongan besar pendaki. Puncak Rinjani yang tak seperti biasanya. Hanya batuan, kabut dan manusia, itu saja. Dengan angin dingin dan uap air yang membasahi muka yang membuat tak betah di atas. Cukup 10 menit saja dan turun.

Cuaca buruk di puncak Rinjani

Tak beruntung, puncak yang tanpa pemandangan. Namun sudahlah, karena pemandangan akhirnya terbayarkan di Segara Anak. Cukup cerah di keesokan harinya hingga perjalanan turun. Tetap Segara Anak yang seperti biasanya, yang ramai oleh para pemancing lokal. Yang selalu membuat betah untuk berlama-lama di sini, tak cukup hanya semalam di sini, seminggu mungkin cukup bagi saya pribadi.

Tim di Segara Anak

***

Porter tak hanya sekedar porter, pemikiran mereka seimbang dengan orang kota. Saya melihatnya dengan jelas dalam perbincangan dengan mereka sepanjang malam di Segara Anak. Yang membedakan adalah bahwa mereka hidup apa adanya tak seperti orang kota. Koyok, Ketiak, Adok, Didi, mungkin mereka cukup menyadari bahwa mereka dapat menjadikan profesi porter sebagai mata pencaharian utama mereka. Ya, tanpa bertani pun mereka dapat memberi nafkah keluarga. Namun hakikat sebagai orang desa tetaplah ada, mereka tak akan meninggalkan kebun dan ternak mereka. Bagi mereka, mengabdi kepada tanah yang melahirkan mereka itu sesuatu yang harus dipertahankan. Mereka tetap harus bertani dan beternak.

Ada beberapa orang yang beruntung, seperti Pak Zubairi. Beliau adalah petani dan peternak di Sembalun. Salah satu orang yang dihormati di Sembalun. Mengabdi hampir 20 tahun sebagai porter Rinjani hingga akhirnya menjadi guide lokal di gunung Rinjani sampai akhirnya dilantik sebagai PNS oleh Departemen Kehutanan. Begitulah, selalu ada anugrah yang diberikan Gusti atas pengabdian terhadap tanahnya.
***

Panorama Segara Anak dari Plawangan Senaru

Pemandangan di atas saya ambil dari Plawangan Senaru pada siang hari tanggal 15 Mei 2012. Sebuah pemandangan yang telah menghiasi hampir ratusan brosur wisata di Lombok. Pemandangan yang pernah tercetak di mata uang kertas pecahan 10.000 rupiah. Pemandangan yang menggoda puluhan ribu orang untuk selalu hadir di gunung Rinjani setiap tahunnya. Dia memanggil, lewat kabut-kabutnya, lewat gerimis dan hujannya, lewat pinus-pinusnya dan tentunya dengan jalinan persahabatan dengan para penduduk lerengnya.

Bahwa petualangan terbaik adalah mengenal manusia lain, be brave. :)

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha