Air tak begitu coklat, normal-normal saja sepertinya. Mungkin tadi malam tak hujan di sini. Memang, kalau hujan turun dengan deras pada malam hari, maka air pada pagi hari akan mewujud riak-riak coklat seperti seduhan coffemix panas. Dan kalau sudah begitu, sungai Bogowonto akan menunjukkan kengeriannya.

Saat perahu-perahu melintas sungai yang membelah perbukitan di desa Panungkulan, saat itu pulalah masyarakat berbaris di jembatan maupun bendungan untuk melihat sesuatu yang bagi mereka merupakan kejutan. Anak-anak berbaris paling depan. Anak-anak yang sama yang berbaris di bendungan Panungkulan akhir Desember lalu, ketika hujan di malam hari begitu derasnya. Jika bagi orang dewasa, melihat perahu berwarna-warni melintas sungai adalah sebuah kejutan, apalagi bagi anak-anak.

Gambaran kontras antara perahu dan sungai seperti halnya gambaran kontras mobil pick-up pengangkut perahu dengan area persawahan yang hijau luas membentang sepanjang desa Panungkulan. Salah satu tamu pengarungan, mas Ago berceloteh,

“Wah, ini mas kalau mobil-mobil dan perahu diambil gambarnya ketika berjalan, memanjang dengan background persawahan, lalu ada kerbau berjalan di belakangnya, itu bagus banget mas.”

Berpikir, benar juga, perpaduan gambar yang kontras selalu akan menciptakan fotografi yang menarik dengan tema human nature. Dan di Bogowonto, hal-hal seperti itu sungguh banyak terjadi.

3 perahu dalam “Rush Bogowonto” kali ini, yang akan mengarungi 12,4 kilometer sungai Bogowonto bawah. Memang jauh dari target awal, tapi setidaknya sudah cukup membuat tegak berdiri. Toh sekarang, sungai Bogowonto sudah mulai dilirik para penggiat kegiatan alam bebas. Tempat bermain baru bagi mereka. Tempat “bersekolah” alam yang baru bagi mereka. 2 perahu adalah perahu yang ditumpangi oleh para tamu sedangkan 1 perahu adalah perahu rescue dari 7 orang mahasiswa yang tergabung dalam FAJY (Forum Arung Jeram Yogyakarta). Memang tak seperti akhir Desember kemarin yang melibatkan 7 perahu dalam pengarungan yang sangat ceria.

Seperti halnya pengarungan-pengarungan Bogowonto sebelumnya, kami selalu melakukan pengarungan pada pagi hari. Biasanya lepas tengah hari hujan akan mengguyur daerah hulu sehingga arus pun bertambah deras. Dan pengarungan pada pagi hari adalah jalan aman yang harus ditempuh mengingat kami sudah merekomendasikan bahwa sungai ini dapat diarungi oleh pemula yang baru belajar arung jeram.

Panungkulan track mengawali pengarungan sungai Bogowonto. Arus sepanjang 1 kilometer bergerak cepat membelah persawahan dan desa Panungkulan. Inilah salah satu trademark Bogowonto, mengawalinya dengan tempo cepat hingga perahu berhasil melewati jembatan Panungkulan di mana aliran flat memungkinkan perahu menepikan dirinya ke eddies. Di atas jembatan, warga berkumpul melihat “kejutan” itu. 30 menit pertama yang memanaskan suasana.

Tipikal arus di Bogowonto memang bergerak cepat, bahkan jika para pengarung tak mendayung pun perahu akan bergerak sendiri di lintasan yang flat. Selepas Panungkulan track, hadirlah Kedungpoh track, lintasan panjang berbentuk kurva dengan beberapa arus standing wave di antara beberapa pillow dan stopper yang memaksa perahu harus rajin melakukan akselerasi slalom. Jangan lupa teriak di sini.

“Mas, saya boleh nyoba jadi skipper?” ujar Hasan, salah seorang tamu pengarungan.

Sebuah kejutan saat dia memberanikan diri bertanya, kenapa tidak? Benar saja, Hasan menjadi skipper di salah satu perahu tamu. Tak lama memang, sekitar 2 kelokan dia lalui, lalu disusul oleh Arti, salah satu tamu juga yang memang kebetulan pernah dididik sebagai skipper saat dia masih mahasiswa. Lebih lama dari Hasan, dan..brakkkk. Dia menabrakkan perahu kepada pohon bambu yang hampir tumbang di pinggir kiri sungai. Untunglah tak ada yang terluka di badan, lalu kendali skipper kembali dipegang oleh skipper yang sebenarnya.

Memasuki tengah perjalanan dan perahu-perahu memasuki bendungan Kedungpucung, aliran yang tenang menyambut di penampang sungai yang lebar.

Bendungan Kedungpucung adalah rest area dalam pengarungan Bogowonto bawah. Di sini para pengarung akan beristirahat sambil menikmati jajanan pasar dan dawet ayu pelepas lapar dan dahaga. Sembari para tamu beristirahat, maka para skipper dan tim rescue melakukan scouting, apakah perahu bisa melewati bendungan?

Pada kenyataannya, jika hujan deras tak henti-henti di hulu pada malam hari, Bogowonto akan berarus sangat deras. Dan bendungan Kedungpucung akan menciptakan pusaran air sangat besar di bawahnya. Saat itulah perahu tak boleh melewati bendungan, perahu akan diangkat melewati darat. Namun tadi malam tak hujan, dan debit air normal-normal saja. Sehingga kami putuskan untuk melewatinya di atas perahu.

Saatnya melihat ekspresi-ekspresi lucu dari mereka. Ada yang memejamkan mata, ada yang teriak sambil memegang tali, ada yang telentang bersiap masuk ke pusaran, ada yang saling tubruk-tubrukan dengan rekannya. Tapi satu hal yang sama, selepas mereka melewati pusaran, mereka semua akan tertawa lega.

Kembali menuju ke selatan, petualangan di rest area berlangsung lancar. 5 kilometer terakhir akan diarungi. Inilah, kita akan menuju arus-arus terbaik di Bogowonto bawah. Berada di sebelah timur bukit Gegermenjangan, kami namakan ini Gegermenjangan track. Penampang sungai tak lagi sesempit 5 kilometer pertama. Di 5 kilometer terakhir sungai akan melebar dengan pemandangan kiri-kanan adalah pepohonan yang berbukit-bukit. Arus yang berkarakter standing wave dominan di sini. Ada sekitar 5-6 lintasan jeram yang bergradien 3-4 di sini. Beberapa lintasan flat memisahkan tiap jeram-jeram unggulan. Penutupan trip yang benar-benar spesial.

1 jam kami mengarungi lintasan ini, dan benar saja, suasana pengarungan mencapai puncaknya di sini. Pada debit yang normal, SW (standing wave) di sini sudah cukup untuk membuat perahu meluncur ke atas 45 derajat. Apalagi kalau debit sedang besar (hal ini dialami pada bulan Desember 2011 lalu). Momen terbaik berada di tengah perjalanan, itulah jeram Gegermenjangan, jeram terbaik di pengarungan Bogowonto bawah. Cukup panjang, kami melalui lintasan berombak sepanjang hampir 50 meter. Ahh, sayang kami belum menemukan akses darat untuk pengambilan foto di sini, maklumlah tempat ini dipagari oleh bukit-bukit. Ingin rasanya untuk menepikan perahu lalu mengangkat dan mengulangi kembali lintasan ini, tapi tak mungkin, karena saya membawa tamu-tamu.

Dan jembatan Tambak, akhirnya perahu-perahu mencapai perkotaan Purworejo. Pengarungan Bogowonto bawah telah berakhir.

Event pertama di sungai Bogowonto, tujuannya sederhana, mengenalkan Bogowonto. Lalu, akan dibawa kemanakah petualangan-petualangan kita? Apakah cukup dengan memotret pemandangan-pemandangan indah, lalu menulis dan menyebarkannya kepada dunia? Petualangan akan menjadi lebih bermakna jika kita membawanya kepada manfaat. Manfaat seperti apa?

Ya, seindah-indahnya petualangan masih akan lebih terasa jika kita dapat membawanya kepada manfaat kepada manusia yang lain. Petualangan terbaik adalah mengenal manusia lain. Humanity. Dari mengenal orang-orang sederhana, kita akan tersadar, bahwa ketika orang lain membutuhkan kita, kita akan menjawab, “aku ke sana”. Bogowonto, semoga. Yang terbaik wes :)

Matur nuwun Purworejo, matur nuwun sedoyo.

RUSH BOGOWONTO 1, 21 Januari 2012
~ jarody hestu

One Response Comment

  • wheryono  July 14, 2013 at 5:07 am

    Wah mas marahi kelingan jaman aku cilik nek mandi di kali bogowonto

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha