“mbah,pokoknya jangan sampai Bogowonto kotor ya :)” celetuk salah seorang pemudi baik hati dan berotot dari belakang rumah dengan kucing-kucing di sekelilingnya, dalam sebuah sesi chatting yang cukup lama.

Kami sedang membicarakan tentang sungai Bogowonto. :)

“Jlepp.” Tusukan yang benar-benar telak bukan. Dilematis antara 2 hal yang kasat mata danbertolak belakang, sebuah usaha untuk mengenalkan tempat baru kepada masyarakat wisata. Dan akibat yang mungkin akan menjadi salah satu masalah di suatu hari nanti. Lestarinya sungai Bogowonto. Saya memahami itu.

Ideal yang saya harapkan begini, Bogowonto akan dikenal baik di dunia wisata arung jeram. Dan Bogowonto tetap alami dan lestari. Sinergi yang semestinya harus tetap terjaga di Bogowonto. Tapi apakah ideal seperti ini yang juga menjadi ideal bagi orang lain. Ketika materi di atas segala-galanya, segala sesuatunya akan ber-Tuhan kepada materi. Itulah Indonesia saat ini.

Hutan atau uang?

Heinrich Harrer tak akan pernah menyangka, pegunungan bersalju Papua hingga Carstensz Pyramid yang dia buka pada tahun 1962 menjadi santapan yang sangat melezatkan bagi Freeport saat ini.

Di sini jawabannya jelas, uang.

Ahh, tapi saya cuma pemuda desa pinggiran sawah yang tak pernah berjalan di atas salju seperti Heinrich Harrer. Harapan sang pemudi baik hati seperti harapan para penduduk desa tepian sungai Bogowonto dan harapan-harapan para pemuja pohon dan sungai. Bogowonto tetap lestari. Dan itu pulalah harapan saya, harus ada jembatan yang menghubungkan antara wisata dan kelestarian sungai. Uang bukanlah jembatan.

Jembatan terbaik adalah humanity.

***

Bogowonto, bagi saya ini sungai terbersih yang pernah saya arungi. Di Jawa, sungai yang benar-benar bersih sangat sedikit. Kebersihan sudah mulai terpinggirkan oleh uang. Terpinggirkan oleh pabrik-pabrik, terpinggirkan oleh industri rumah tangga, terpinggirkan oleh sampah dan kotoran manusia. Menyedihkan ketika memperhatikan fakta, bahwa sungai Citarum di Jawa Barat diberi gelar sebagai sungai terkotor di dunia.

Di Bogowonto tak ada pabrik-pabrik, bahkan di hulunya belum begitu banyak perkampungan. Yang ada di tepian sungai hanya perbukitan dan perladangan. Sepanjang saya lihat selama 25 kilometer pengarungan, tak ada tempat-tempat yang digunakan untuk MCK ataupun mencuci baju. Mulai terlihat sampah ketika sudah melewati finish pengarungan. Bogowonto mulai membelah perkotaan Purworejo hingga memasuki pedesaan kembali di selatan Purworejo sampai berhilir di Samudra Hindia.

Bogowonto begitu bersih, itu yang harus dipertahankan.

Bagaimana air tetap selalu deras mengalir? Ya dengan penghijauan di daerah hulu sungai. Bagaimana agar masyarakat tidak membuat MCK di sungai? Ya dengan pembangunan MCK umum di desa-desa. Bagaimana agar masyarakat desa dapat berperan dalam wisata Bogowonto? Ya dengan mengajari pemuda-pemuda desa untuk berarung jeram hingga menjadi seorang river guide tangguh. Bagaimana agar mereka tangguh menghadapi industrialisasi? Ya dengan mengusahakan pendidikan dasar yang cukup kepada anak-anak desa. Dan lain sebagainya. Bahwa petualangan terbaik adalah mengenal manusia lain. Dan itu adalah jalan terbaik menuju humanity.

Pemudi yang baik hati, percayalah seperti kau percaya bahwa puluhan jeram yang akan kau lewati di depanmu akan berbaik hati pada perahumu. Bahwa Bogowonto tetap lestari. :)

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha