Tak ada yang membosankan di Bogowonto atas. Dayungan harus selalu terjaga. Sang skipper tak henti-hentinya berteriak memberikan aba-aba. Jika ada kelokan tajam dengan jeram-jeram yang tak terlihat dari jauh, maka scouting harus dilakukan. Jika masih terlihat jalur-jalurnya, maka pengamatan bisa dilakukan dari atas perahu sambil berdiri. Pukul 10.41, perjalanan terhalang oleh barisan batuan besar di tengah sungai dengan aliran yang deras di antara batuan-batuan. Cukup panjang dan jalur sulit ditentukan dari atas perahu. Perahu pun menepi.

Ada 2 batu besar yang membentuk gate (gerbang), sementara batu-batu yang lain berserakan memanjang membentuk lintasan yang berliku-liku. Dibutuhkan kemampuan slalom (meliuk membelokkan perahu) di sini. Lintasan slalom itu sepanjang kira-kira 80 meter. Scouting seperti biasanya, menentukan arah terbaik perahu yang akan melewati barisan gerbang batuan ini.

lintasan slalom jeram watu gede

Perahu mulai perlahan bergerak, semakin ke depan semakin dipercepat. Kemampuan perahu membelok akan dipengaruhi kekuatan dan keseimbangan dayungan dari pendayung di sisi kiri dan kanan perahu. Gerbang batu yang paling besar telah dilewati, berlanjut ke depan dalam pengarungan slalom. Benar saja, beberapa kali perahu membentur ke batuan dan kadang berbalik arah. Melewati beberapa drop yang cukup mengejutkan. Hingga kami berada di titik aman, sebuah lintasan flat yang bergradien. Pengarungan melewati jeram Watu Gede telah dilakukan dengan cukup baik, meskipun beberapa kali perahu harus berbalik arah.

Mungkin keadaan perahu yang sedikit kempes mempengaruhi akselerasi perahu, perahu pun kami tepikan dan dipompa. Kesempatan untuk sejenak beristirahat sambil mengeluarkan isi logistik di dalam drybag untuk dimakan.

Pesta jeram di antara perbukitan, menikmati pemandangan mungkin sebuah bonus ketika beristirahat setelah melewati barisan jeram. Tempat yang cocok untuk berhenti mendayung adalah ketika perahu memasuki lintasan flat yang tetap bergradien. Di lintasan itu, perahu akan tetap berjalan meskipun tangan tidak mendayung. Jika ada kesempatan untuk memetakan, saya pun akan membuka peta dan menggambarnya.

Area perladangan yang cukup luas terhampar di kanan kiri kami dengan beberapa petani yang beraktifitas. Sebuah tempat yang indah dengan gemuruh sungai yang menyembunyikan kengerian di tengah-tengahnya. Saat itu pukul 12:02.

“lha priyayi putri-putri kok yo do wani ?” (para perempuan ini kok pada berani ?) celoteh salah seorang petani baik hati dari belasan petani dan pencari ikan yang kami temui sepanjang pengarungan ini. Sementara lirikan matanya tertuju kepada Sukma dan sang skipper, Nurul.

Petani ini hanyalah salah satu dari belasan petani yang kami ajak bicara ketika perahu menepi ke eddies (tepi sungai). Sambil memberi waktu kepada anggota tim untuk melakukan scouting. Sama halnya dengan petani yang lain, beliau terheran-heran melihat perahu merah ini melintasi sungai berarus deras ini. Karena pemandangan seperti ini tak pernah dijumpai sepanjang dia hidup di sini. Tak pernah ada perahu arung jeram yang melintasi sungai Bogowonto atas.

Ada lagi beberapa orang petani yang memberikan kode dengan telapak tangan membuka terangkat ke atas, sekitar 60 meter di kejauhan. Maksudnya jelas, melarang kami untuk melintasi jeram yang memanjang bertumpuk-tumpuk di depan kami.

scouting jeram tumpuk undung

Dan benar saja, jeram di depan adalah sekumpulan batu yang berliku membentuk arus besar yang tak terlihat dari depan tempat perahu karet ditambatkan. Arus utama yang berada di samping kanan sungai berujung kepada 2 batu besar yang akan menghimpit perahu dan mencelakakannya pada hole di depannya. Arus yang menjebak, karena jika dilalui tanpa scouting maka sang skiper akan mengarahkan perahu ke arus utama ini yang ternyata akan mencelakakan perahu. Scouting berguna untuk mencari letak alternatif jalur yang akan dilalui, tanpa melewati arus utama, dan itu sangat sulit, pergerakan arus ke arah main stream begitu besar. Ada waterfall kecil setinggi 1,5 meter di luar main stream, dan itulah jalur yang akan dilalui dengan aman, di sebelah kiri sungai. Di depannya, masih menunggu pergerakan air yang bergradien meskipun flat, begitu panjang.

Itulah jeram “Tumpuk Undung”. Begitu kami menamakannya. Dan pada akhirnya, satu jalur di antaranya tak mampu kami lewati dengan perahu. Kami melewatinya dengan “lining” (menghela perahu dengan tali). Pergerakan arus ke arah main stream ternyata begitu kuat dan kekuatan kami tidak cukup untuk membelokkan perahu ke kiri, ke arah waterfall. Hanya waterfall itu yang kami lalui dengan perahu. Faktor keselamatan dan kekuatan dayungan yang kurang membuat kami gagal melewatinya dengan perahu. Kami (kecuali Nurul) bukan para atlet arung jeram, maklumlah..hehe.

Itulah salah satu tantangan terberat dalam pengarungan Bogowonto atas. Sebenarnya ada sebuah kondisi yang menakutkan di jeram sebelumnya sebelum jeram Tumpuk Undung. Namun sayang, gagal saya petakan dan didokumentasikan. Hanya berjalan lalu saja. Kenapa? Karena jeram itu begitu tak duduga dan kami lalui tanpa scouting. Jeram-jeram yang kelihatannya terlihat mudah dari jauh, tak berada di kelokan. Namun ketika perahu mendekat, lintasan slalom dengan banyak pillow bermunculan. Hasilnya, pergerakan slalom yang tak beraturan dan kadang perahu berbalik arah. Dan perahu berbalik arah pada kondisi yang tidak tepat. Di depan kami adalah waterfall kecil setinggi hampir 2 meter, dan perahu terjun dengan posisi berbalik arah. Bokong perahu terjun lebih dulu, vertical, benar-benar tak terkontrol. Yang kami lakukan hanyalah pasrah menanti perahu terbalik dan bersiap untuk self rescue.

Untunglah, Bogowonto masih baik hati. Perahu kami tidak terbalik. Cukup menimbulkan efek keterkejutan yang luar biasa pada setiap pendayung termasuk sang skipper. Sebuah pelajaran,” terlihat tenang bukan berarti tidak menghanyutkan”. Scouting mutlak dilakukan sesering mungkin.

Sepertinya separuh perjalanan Bogowonto atas telah kami lalui, dan langit di utara terlihat menghitam. Kami tak ingin debit air sungai tiba-tiba meningkat tajam. Finish point harus secepatnya dikejar.

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu
www.equator-indonesia.com

2 Response Comments

  • Prima  December 16, 2015 at 11:42 pm

    Bogowonto.. Sungai Penuh kenangan masa kecil

  • jarody hestu  December 17, 2015 at 11:42 am

    hai mas Prima, trimakasih..salam, jaga kenangannya tetap ada :)

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha