Saya menyukai pengarungan sungai Pekalen di Probolinggo, penampang sungai yang sempit dengan tempo yang cepat karena aliran air yang selalu bergradien. Tebing batu di kanan kiri, dengan pemandangan yang alami. Jeram-jeram yang tak kunjung berhenti. Kadang berupa undak-undakan dengan hole di beberapa bagiannya yang menunggu datangnya perahu terbalik. Under cut hadir di setiap kelokan sungai.

Dan Bogowonto atas seperti mengingatkan saya dengan Pekalen.

Tak ada perkampungan di tepian sungai, sepanjang 12,6 kilometer dari jembatan Sitretes hingga desa Panungkulan. Jika ingin mencapai perkampungan, berarti kita harus berjalan mendaki ke atas selama 15-30 menit. Jika ada orang di tepian sungai, mereka adalah para petani, pencari kayu dan beberapa orang pemancing. Saat perahu menepi, mereka akan menuju ke arah kami lalu bertanya-tanya dengan penuh keheranan.

“kok do wani-wani mrau ning kene, saking pundi?” (kok pada berani bermain perahu di sini, dari mana?)

Curug-curug (air terjun), hutan, tebing batu, persawahan dan gemuruh air. Jikalau ada bangunan, pastilah itu gubug sederhana sang petani tempat dia beristirahat sambil menunggui ladangnya. Tidur siang yang menyenangkan pastilah. :)

30 menit pertama pengarungan adalah “pesta jeram”. Jeram-jeram dengan gradien kecil berserak sepanjang lintasan flat dan cenderung menciptakan putaran arus yang cukup besar tiap bertemu kelokan. Begitu banyak kelokan di Bogowonto atas ini, membelah perbukitan berketinggian 400-500 meter dpl. Pengarungan sendiri dimulai dari ketinggian 400 meter dpl dan akan diakhiri pada ketinggian 217 meter dpl. Kekompakan pendayung mulai tercipta, Nurul selalu berteriak dengan keras.

“Kanan majuuu..kiri mundur,..stopp!!”

Beberapa kali sempat tersangkut pillow (batuan yang menonjol hampir tak tampak di permukaan) di tengah sungai. Dan kadang membuat beberapa pendayung harus turun ke sungai untuk memperbaiki posisi perahu. Tak begitu dalam namun berarus sangat deras dengan banyak jeram. Dan benturan dengan jeram adalah resiko yang harus dihindari.

Kami memulai pengarungan pada pukul 09.35 dan pukul 10.09 bertemu dengan kejutan pertama, sebuah curug dengan ketinggian sekitar 30 meter di depan kami. Berada di sebelah kiri sungai sementara sungai akan berbelok curam ke kanan. Jeram-jeram menunggu di kelokan tersebut. Tak tampak dari atas perahu. Scouting (pengamatan medan) harus dilakukan, scouting pertama kami. Perahu menepi dan kami naik ke daratan menuju curug, menarik dan pastilah akan menjadi salah satu identitas Bogowonto atas. Tugas saya adalah memotret medan, lalu memetakannya dengan bantuan GPS dan peta yang terlindung plastik. Sementara para pendayung lain menentukan arah perahu yang akan dilalui untuk menembus jeram-jeram di depan curug ini. Satu pendayung menjaga perahu di lokasi aman.

Medan sudah dipelajari dan saatnya melewatinya bersama perahu. Sebenarnya saya ingin memotret aksi mereka pada tantangan pertama ini, namun tak ada space untuk memotret. Kelokan tersebut dipagari oleh tebing. Saya urungkan keinginan memotret.

Perlahan perahu mulai memasuki kelokan, semakin dekat dan laju semakin dipercepat. Arah sudah ditentukan sebelumnya, dan tepat sesuai rencana. Pusaran air menghujam tepat ke moncong perahu saat melewati jeram-jeram. Memberikan sensasi goncangan yang luar biasa pada tiap pendayung sebelum akhirnya berbelok ke kanan. Jeram Curug telah dilalui sesuai rencana, itulah nama jeram yang telah kami berikan dengan pertimbangan ada sebuah air terjun yang cukup menggoda mata di situ.

Belum selesai, sekitar 60 meter di depan kami adalah kelokan tajam lagi. Namun tidak setajam jeram Curug. Kali ini berbelok ke kiri. Tak terlalu berbahaya, scouting kami lakukan dari atas perahu. Ada kesempatan untuk memotret, daerah di sebelah kiri jeram adalah daerah berumput dengan barisan pohon pisang tumbuh di atasnya, begitu terbuka. Saya turun menuju ke situ, lalu mencari tempat dengan view terbaik. Peluit saya tiup pertanda saya sudah siap di depan.

Mereka melalui lintasan paling kanan, cepat sekali pergerakan perahu karena memang arus begitu deras. Dan saya berhasil mendapatkan gambar pertama aksi perahu melewati jeram-jeram Bogowonto atas. Bukan gambar yang cukup baik, namun inilah gambar pertama. Melewati barisan jeram di curug.

Selepas jeram Curug adalah lintasan-lintasan dengan gradien tinggi. Jarang ada kesempatan untuk memotret dan memetakan, tempo pengarungan cukup tinggi. Waktu harus dikejar sebelum sore hari menjelang. Kenapa? Kami menghindari hujan deras yang datang selepas tengah hari.

“Tidak hujan saja gradiennya sudah seperti ini, apalagi kalau hujan.” begitu pikir kami.

Aliran air yang hijau jernih dan tersenyum baik hati menyembunyikan ketakutan yang akan ditimbulkannya. Dia menunggu perahu datang dan seolah seperti memaksa perahu agar terbalik.

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu
www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha