Sebuah pick-up dengan perahu karet berwarna merah di atasnya dan 6 orang duduk di bak dengan perahu sebagai atapnya. Jika pick-up itu berjalan di sekitar Borobudur, itu bukanlah sebuah keanehan. Pastilah mereka akan mengarungi sungai Progo atau Elo. Itu kesibukan yang selalu dialami para sopir pick-up di sekitar Borobudur setiap hari Sabtu-Minggu. Namun jika berjalan di sepanjang jalan raya Purworejo-Wonosobo, tentu akan menjadi pusat perhatian orang-orang. Apalagi jika melewati jalan desa menuju tepian sungai Bogowonto. Orang-orang desa pastilah bertanya-tanya, sementara anak-anak kecil berlarian mengejar.

“Arep do ngopo yo kok nggowo gethek apik-apik?” (Pada mau melakukan apa ya, kok membawa perahu bagus) pikir mereka sambil menaruh senyum menyambut sapaan kami.

Begitulah, tak pernah ada aktifitas orang yang menyusuri sungai dengan perahu karet di sini. Lebih tepatnya di sekitar titik starting point Bogowonto atas, yaitu jembatan Sitretes, Wonosobo. Kalaupun ada orang kota yang bertamu di desa, pastilah mereka sedang melakukan analisa yang berkaitan dengan sungai Bogowonto seperti pengukuran debit, pemetaan aliran, pemasangan patok sempadan ataupun sekedar memancing menikmati akhir pekan.

Lalu pertunjukan itu dimulai. Bogowonto atas, kejutan terbesar dalam survey air ini.

Saya ceritakan tentang tim pengarung. Survey air pertama adalah pengarungan Bogowonto atas. Sudah kami tentukan titik-titik start dan finishnya dalam aliran sungai sepanjang 12,6 kilometer. Start akan dimulai di jembatan Sitretes, Kepil, Wonosobo dan berakhir di jembatan Panungkulan, Purworejo. Seluruh tim survey Equator Indonesia itu sendiri terdiri dari keluarga besar Satu Bumi. Ya, Equator Indonesia terlahir dari Satu Bumi. Sebuah perkenalan yang dimulai dari berkegiatan alam bebas sejatinya akan abadi. Perpaduan tua dan muda dalam 1 perahu, benar-benar istimewa. Yang tua bernostalgia kembali, yang muda mempertunjukkan semangatnya. Tapi jangan salah, Agus “Gaboth” dan Yudi “Dhuwur” adalah para pengarung senior yang tak akan surut semangat mudanya. Bogowonto atas mempertunjukkan, kenapa mereka harus berada di alam terbuka kembali.

Lalu para pengarung muda, Sukma “Monges” dan Prasidyo “Longor”, mereka para “cacing” muda yang sedang mempertunjukkan, bagaimana bersekolah di alam bebas itu? Pengarung berusia tanggung adalah Koko “Kakak”, ya..penghibur yang baik, sederhana saja. Lalu saya sendiri, cukup menjadi “tim hore” sudah menyenangkan bagi saya. Membawa kamera, memotret aksi mereka dari berbagai sudut tepian sungai, lalu memetakan sungai dengan bantuan GPS sambil menggambarnya di atas kertas. Ya, pemetaan sungai adalah hal baru bagi saya, dan inilah Bogowonto yang belum terpetakan oleh para penggagas wisata.

Kepercayaan terbesar saya kepada Nurul Fitriani, dia yang terbaik di arung jeram, itu pendapat saya. Sosok adik yang telah menunjukkan bahwa arung jeram “ada” dan selalu ada di Satu Bumi. Dan dapat menunjukkan bahwa kegiatan di alam bebas akan menjadi jalan terbaik menuju manusia yang dapat memanusiakan manusia. Dia tercipta matang oleh arung jeram. Dia sang skipper dalam survey air pertama ini, pengarungan Bogowonto bawah.

Pengarungan kami akan dibantu oleh tim darat, Fajar akan membawa pick-up untuk mengantar kami ke titik start dan menjemput kami di titik finish. Seperti juga Nurul, Fajar tercipta matang oleh arung jeram, Bogowonto adalah pemikiran mereka.

“Go raft!!”

Skipper kami ini ternyata seorang pemarah hebat di sungai. Dan kami memakluminya, segala perintah skipper harus dijalankan, itu peraturannya. Ya, kami tidak menguasai medan pengarungan, tak ada perahu karet yang pernah mengarung di Bogowonto atas, tak ada jalur rescue darat yang bisa dilalui mobil kecuali di titik finish. Lalu kami hanya mengarung dengan 1 perahu, tak ada back-up perahu lain yang akan saling menyelamatkan andai 1 perahu terbalik di jeram. Satu-satunya yang akan dipegang erat oleh setiap pengarung adalah self rescue. Kami harus bisa menyelamatkan diri sendiri dulu jika terjadi sesuatu hal yang buruk di sungai. Arung jeram penuh kejutan yang membahayakan, dan resiko yang dialami berlangsung saat itu juga tanpa menunggu tanda-tanda. Kecelakaan fatal dapat terjadi hanya dalam hitungan detik.

100 meter pertama, teriakan Nurul nyaring melawan riuhnya aliran air sungai. Kaget, begitulah, mulai membiasakan diri dengan ritme. Sementara aliran air di bawah jembatan Sitretes adalah aliran yang datar tapi bergradien deras. Tanpa didayung pun perahu akan melaju sendiri, tinggal bagaimana kemampuan para pengarung untuk melakukan slalom melewati jeram-jeram kecil maupun besar. Kalau tidak beruntung, ya perahu akan menyangkut di beberapa pillow (batuan yang menonjol), dan itu sangat merepotkan. Kemampuan Nurul sebagai pembelok perahu tak berarti apapun jikalau para pengarung tidak sepenuh hati dalam mendayung.

Sungai Bogowonto adalah sungai yang bergradien deras, jadi..perahu pun akan tetap melaju walaupun tidak didayung. Tidak seperti Elo ataupun Progo dengan beberapa lintasan flat-nya yang menguras tenaga mendayung.

Jeram pertama ditemui 100 meter dari starting point, kami masih belum kompak iramanya, perahu tersangkut pada sebuah pillow yang tak terduga hadir di tengah sungai selepas jeram. Karakter Nurul yang tegas muncul saat itu juga. Setiap kali ketika kesalahan terjadi.

“Okay, siap komandan.”

Ini baru jeram pertama, lalu berapa buah jeram di Bogowonto atas? Bogowonto adalah tipikal sungai dengan banyak kelokan, dan setiap kelokan pastilah disambut dengan jeram. Bahkan jeram dapat muncul di lintasan lurus. Hanya akan saya ceritakan beberapa jeram dari puluhan jeram yang ada di Bogowonto atas. Jika saya ceritakan semuanya, tentu saja saya sendiri yang lupa. Hanya jeram-jeram unggulan yang tercatat, tempo Bogowonto atas terlalu tinggi bagi saya untuk sekedar menepikan perahu dan mencatat plotingan GPS pada peta.

Saya tidak berlebihan, puluhan jeram. Coba bayangkan, jika rata-rata kelokan terjadi setiap 200 meter dari 12,6 kilometer pengarungan Bogowonto atas. Berapa?

Semoga jeram-jeram yang baik hati ada di depan kami. :)

bersambung

..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu

www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha