Elo-Progo, site arung jeram paling ramai di Jawa Tengah yang terletak dalam 1 kawasan. Sementara Borobudur menjadi magnet penggoda kunjungan orang dalam kawasan tersebut. Kami membayangkan hal seperti itu di Bogowonto.

Lalu kami buka peta Bogowonto, benar juga hampir sama. Sungai Elo di sebelah timur akan bertemu dengan sungai Progo di Progo tengah lalu menjadi satu menuju selatan. Begitu juga di Bogowonto, sungai Kodil di sebelah timur akan bertemu dengan sungai Bogowonto lalu akan menjadi satu di Tempuran Mas hingga menuju selatan.

Lalu pertanyaannya, apakah sungai Kodil dapat diarungi oleh perahu karet?

Itulah yang ingin kami ketahui, perlu sebuah survey darat lagi untuk mengetahuinya sebelum kami benar-benar basah di air sungai Bogowonto.

Perjalanan mengamati debit air sungai Kodil sama halnya dengan apa yang kami lakukan ketika survey darat di Bogowonto. Membuka peta, melihat simbol jembatan dan jalan desa di tepian sungai. Akses untuk menyusur ke utara akan melewati jalan raya Magelang-Purworejo. Titik tertinggi sudah kami tentukan untuk pengamatan debit air, sebuah jembatan menjelang perbatasan Magelang-Purworejo. Lalu kami amati keadaan sungai Kodil di bawah.

Hasilnya, mengecewakan. Yang tampak di bawah kami adalah puluhan batu menonjol yang berserak dengan aliran air di sekitarnya. Tak dapat diarungi perahu karet dari titik ini. Beberapa titik pemberhentian di amati lagi, sama, perahu karet tak dapat turun di sini. Mungkin river boarding bisa dilakukan di sini. Entahlah.

Bogowonto tak dapat diolah seperti halnya area wisata arung jeram di Magelang dengan double river-nya, Elo-Progo. Bogowonto tetaplah menyendiri dengan segala keanggunan dan ketangguhannya.

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu

www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha