Bentang sawah mendominasi daerah tepian sungai Bogowonto, dari atas hingga ke bawah. Dan sawah-sawah ini mendapatkan anugrah air yang berlimpah dari aliran sungai Bogowonto. Beberapa titik sungai dibendung, memecah aliran sungai menjadi aliran kecil. Aliran kecil ini akan menuju kepada petak-petak sawah di pedesaan. Landscape yang menarik minat para pendatang untuk sekedar menghabiskan liburan di sini. Ada 2 bendungan yang dibangun di aliran sungai Bogowonto bagian atas (desa Panungkulan ke atas), yaitu bendungan Panungkulan dan bendungan Guntur. Sementara bendungan terbesar di sungai Bogowonto adalah bendungan Kedung pucung, Sejiwan, berada di kilometer ke-20 pengarungan sungai Bogowonto. Bendungan inilah yang akan menjadi finish point pada survey air kami di Bogowonto bawah.

Semakin ke bawah, penampang sungai Bogowonto akan semakin melebar. Dan itu berarti sungai pun akan semakin dalam. Pada kilometer ke-18 pengarungan, sungai Bogowonto akan bertemu dengan sungai Kodil. Orang-orang menyebutnya “Tempuran Mas”. Ada sebuah jembatan gantung antik peninggalan Belanda di situ. Dari situlah, karakter sungai Bogowonto akan berubah menjadi flat dengan penampang yang lebar. Dari bentukan yang terjal dan berpenampang sempit di 18 kilometer aliran sebelumnya.

Di Bogowonto bawah, tak begitu sulit untuk menentukan titik-titik di mana sungai bisa dicapai dari darat. Banyak sekali jalan makadam pedesaan yang menuju sungai hingga dihubungkan dengan jembatan untuk menyeberang ke desa yang sebelah. Sekarang yang ingin kami temukan adalah titik finish point pengarungan Bogowonto bawah. Titik starting point telah kami tentukan yaitu bendungan Panungkulan, kilometer ke-12 pengarungan.

Sasaran yang kami lihat di peta adalah jembatan, sekali lagi saya terangkan, jika ada jembatan pastilah ada jalan darat menuju ke sungai.

Jembatan Kedungpoh, adalah jembatan gantung baja dengan alas papan. Hanya bisa dilalui sepeda motor. Di bawahnya terlihat aliran flat bergradien yang memanjang hingga berujung kepada jeram yang berkelak-kelok. Batin saya,

“Mungkin ini akan menjadi salah satu jeram unggulan di Bogowonto bawah.”

Lalu jembatan Brongkol, adalah jembatan beton yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Di bawahnya adalah aliran tenang sungai Bogowonto. Hampir tak ada gradient. Inilah penyempitan sungai (bottle neck). Sebuah istilah yang berarti penampang sungai akan menyempit dan bertambah dalam dengan kanan kirinya adalah dinding batuan. Biasanya berarus tenang dan dimulai oleh kelokan jeram. Ya, terlihat barisan jeram berkelok di sebelah utara jembatan. Itulah jeram Penyempitan.

Ada 2 buah jembatan gantung di daerah Tempuran Mas. Jembatan gantung pertama adalah sebelum Tempuran Mas. Terlihat rapuh dan mungkin hanya bisa dilalui oleh sepeda. Sementara jembatan gantung kedua terlihat kokoh selepas tempuran dengan sungai Kodil, yaitu jembatan Tempuran Mas. Jembatan gantung antik peninggalan Belanda sepanjang hampir 50 meter yang berangka baja dan beralas papan. Hanya bisa dilewati sepeda motor. Di bawah jembatan adalah bertemunya 2 warna sungai yang berbeda. Bogowonto terlihat keruh sementara warna sungai Kodil terlihat bening. Tak ada gradasi dalam warna itu, lalu bercampur menjadi satu warna di selatan jembatan. Mewujud penampang sungai yang begitu lebar dan datar serta dalam. Terlihat beberapa penambang pasir dan batu tradisional di tepian sungai.

Tempuran Mas, kami beri titik merah pada peta. Tempat ini lebih cocok menjadi rest area pengarungan sungai Bogowonto.

Jembatan terakhir adalah jembatan Kedung pucung yang berada di atas bendungan Kedung pucung. Salah satu pusat keramaian di sungai Bogowonto, begitu banyak orang hilir mudik di sini. Entah mereka yang bepergian atau mereka yang sedang memancing dan menikmati pemandangan. Di bawah jembatan adalah waterfall kecil setinggi 3 meter yang dibagi menjadi 4 pintu air. Tentunya menyenangkan jika perahu karet dapat mencoba menuruninya. Inilah finish point yang kami tetapkan dalam survey air beberapa minggu kemudian.

Pertunjukan sebenarnya akan segera dimulai, survey air.

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu
www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha