Pemilihan starting point dan finish point harus dipersiapkan. Di mana aspek-aspek yang mendukung, dimana aspek-aspek yang tidak mendukung. Di hadapan kami adalah 2 lembar peta Bakosurtanal yang mencangkupi aliran sungai Bogowonto dari kecamatan Kepil, Wonosobo hingga kota Purworejo. Ada belasan tempat-tempat di pinggiran sungai Bogowonto. Lalu bertanya-tanya di tempat mana perahu akan menepi, untuk kembali pulang ke darat. Tentu saja pilihan utama adalah tempat-tempat di mana mobil bisa masuk dengan lancar ke tepi sungai.

Dan itu tidaklah mudah! Tak ada satupun akses jalan darat ke tepian sungai di 10 kilometer pertama aliran sungai Bogowonto dari jembatan Sitretes sebagai starting point pengarungan. Tak ada perkampungan, hanya terlihat simbol-simbol perladangan dan hutan rakyat di dalam peta. Perkampungan mulai ada di kanan kiri sungai di kilometer 10 selepas starting point. Tepatnya di desa Guntur, ada sebuah bendungan kecil di situ. Namun tak ada akses darat untuk dilewati mobil di situ.

Lalu turun sekitar 2 karvak dari desa Guntur, itulah tempat terbaik bagi perahu untuk menepikan diri. Desa Panungkulan, 12,6 kilometer dari jembatan Sitretes.

Saya ceritakan tentang desa Panungkulan, di kecamatan Gebang, Purworejo. Desa Panungkulan adalah desa di tepian barat sungai Bogowonto. Berada pada ketinggian 200-250 meter di atas permukaan laut. Salah satu desa yang mempunyai potensi besar untuk menjadi desa wisata di kabupaten Purworejo. Kenapa? Bentang alam yang begitu alami tentu saja menjadi faktor utamanya. Aliran sungai Bogowonto yang deras dengan dipagari oleh barisan perladangan. Hutan-hutan yang berbaris rapi, kebun-kebun durian bercampur dengan barisan hutan bambu. Bambu-bambu di sini akan mewujud menjadi beberapa bentuk kerajinan bambu yang diciptakan kelompok masyarakat pengrajin di desa Panungkulan, seperti besek, gedhek, tampah dan lain sebagainya.

Dan unsur terpenting dalam pembentukan image wisata adalah keramahtamahan penduduk desa beserta kearifan lokalnya. Tak perlu dipertanyakan, seluruh desa-desa (tak hanya di Panungkulan) di Purworejo akan menyambut tamu-tamunya dengan santun.

Ada sebuah bendungan besar di desa Panungkulan. Berfungsi untuk memecah aliran sungai menjadi aliran kecil untuk mengairi sawah. Orang-orang biasa menyebut aliran ini sebagai sungai Kedungputri. Sebuah selokan dengan airnya bersih tempat bermain bagi anak-anak kecil setiap sore. Karena memang tidak begitu dalam dan bisa dipakai untuk belajar berenang.

Perkembangan pendidikan di desa ini termasuk maju, ada sebuah SMP Negeri yang dibangun di tengah desa. Biasanya, SMP-SMP akan dibangun di sekitar jalan raya Wonosobo-Purworejo. Namun lain halnya di Panungkulan. Jarak antara SMP ini ke arah jalan raya Wonosobo-Purworejo sekitar 700 meter dengan tipikal jalan yang sangat curam.

Desa Panungkulan lebih mudah dicapai dari jalan raya Magelang-Purworejo, di sebelah timur sungai Bogowonto. Meskipun lebih jauh (sekitar 3,5 kilometer), namun jalan desa yang dilalui cukup datar. Jika bergerak ke timur, kita akan melalui desa Kaliboto. Akses inilah yang akan menjadi pilihan bagi mobil-mobil pick-up pengangkut perahu untuk menjemput perahu di desa Panungkulan.

Begitulah, kami sudah memilih desa Panungkulan sebagai tempat menepinya perahu setelah 12,6 kilometer pengarungan dari starting point jembatan Sitretes. Rute inilah yang kelak akan kami namakan rute pengarungan sungai Bogowonto atas. Pengarungan yang nantinya akan memberikan kejutan besar kepada kami.

bersambung

..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu

www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha