Sembari berpikir di atas perahu, Bogowonto benar-benar istimewa. Segala potensi yang mendukung wisata hadir di sini. Alam, penduduk, seni budaya dan tentu saja petualangan. Semoga dari pengarungan Bogowonto ini akan memberikan manfaat. Untuk siapa? Setiap yang baik akan kembali kepada yang baik pula. Untuk Bogowonto, semoga.

Jeram-jeram menarik masih kami lewati, ada beberapa yang tak terpotret karena memang kebetulan akses darat yang sulit. Scouting tetap dilakukan di beberapa titik, namun tidak sesering di Bogowonto atas. Sebagian besar jeram bisa dilewati dengan hanya melakukan scouting dari atas perahu. Jika di Bogowonto atas, perbedaan gradien ketinggian antara start dan finish adalah 200 meter, di Bogowonto bawah perbedaan gradien ketinggian adalah 100 meter. Dari angka tersebut maka dapat disimpulkan bahwa karakter Bogowonto bawah lebih landai dari Bogowonto atas.

Pukul 10:56, perahu melewati sebuah jeram yang cukup menantang. Sebuah jeram yang bertumpuk-tumpuk pada sebuah kelokan, kami lewati tanpa scouting. Dan kami mencapai titik aman setelah melewati lintasan flat berarus tenang. Itulah lintasan penyempitan sungai (bottle neck), dan jeram tadi adalah jeram Penyempitan. Penyempitan sungai adalah karakter lintasan sungai yang tiba-tiba menyempit dan bertambah dalam. Biasanya dipagari oleh tebing-tebing batu berlumut. Lintasan penyempitan di Bogowonto bawah ini mempunyai panjang sekitar 100 meter dengan sebuah jembatan beton sempit berdiri di atasnya. Itulah jembatan Brongkol. Di kanan kiri penyempitan adalah kampung, kami menepikan perahu dan sejenak beristirahat di situ.

Area perladangan yang luas selepas penyempitan sungai hingga akhirnya kami mencapai jembatan Maron. Jembatan Maron adalah jembatan yang menghubungkan Purworejo dengan Magelang. Jalan raya Purworejo-Magelang melintas di atasnya. Hampir mencapai KM 16 pengarungan Bogowonto. Sudah banyak orang di sekitar sungai tampaknya. 1,5 kilometer ke depan perahu masih melewati arus yang bergradien dan melalui beberapa jeram yang menarik sebelum tiba-tiba air sungai mulai berwarna kecoklatan. Selama pengarungan sebelumnya memang air sungai selalu berwarna hijau jernih. 2 buah jembatan gantung tampak dari kejauhan, yang satu kecil reyot dan yang satu lagi terlihat kokoh.

Kami telah memasuki wilayah Tempuran Mas. Tim darat telah menunggu kami di sana sembari memancing.

Tempuran Mas adalah pertemuan antara 2 buah sungai besar, yaitu Bogowonto dan Kodil. Karakter sungai akan berubah menjadi lebar dari sini hingga ke hilir. Dan tentunya lebih berwarna coklat dan lebih dalam. Sebuah jembatan gantung antik sepanjang 50 meter memanjang di atasnya. Beberapa penambang pasir dan batu beraktifitas di bawahnya. Tepian sungainya cukup luas dengan pasir, batu dan rerumputan di atasnya. Perahu menepi kembali di sebelah kanan tempuran. Pukul 11:20 saat itu.

Karakter pengarungan selepas Tempuran Mas didominasi aliran flat, terlihat tenang namun menciptakan standing wave di beberapa titik. Memang tidak seliar arus di atas, namun perahu masih bisa melaju walaupun tanpa didayung. Begitulah, di semua titik sungai Bogowonto, perahu tetap akan melaju kencang walaupun tanpa dayungan. Kekuatan dayungan dibutuhkan untuk melewati jeram, standing wave, maupun slalom.

Hampir mencapai finish, dan masih didominasi pemandangan yang alami. Gunung Sumbing, sang hulu Bogowonto, megah terpandang di utara. Sementara lebatnya ladang, kebun pisang dan hutan bambu menyembunyikan penampakan perkampungan di tepian. Beberapa orang terlihat mandi di air yang kecoklatan. Jarring-jaring ikan bertebaran di tepian sungai pertanda bahwa banyak orang memilih tempat ini sebagai spot memancing.

Bangunan besar tampak memanjang di depan. 4 buah pintu air dengan jembatan beton di atasnya. Sementara di sebelah kanan, talud-talud melapisi tepian sungai. Itulah bendungan Kedung pucung, bendungan terbesar di sungai Bogowonto. Titik finish kami di pengarungan Bogowonto bawah kali ini. KM 20 dari 25 kilometer pengarungan sungai Bogowonto. Tepat pukul 12.00 saat itu, dan hari ini telah kami lewati dengan pengarungan selama 2 jam 30 menit. Sebenarnya masih ada 5 kilometer jalur yang harus kami lalui menuju finish point pengarungan sungai Bogowonto di KM 25, yaitu jembatan Tambak. Namun masih belum menjadi prioritas kami hari ini.

Perbincangan dengan petugas penjaga bendungan Kedung pucung di rumah dinas beliau mengakhiri perjalanan kami hari ini. Ada harapan tentunya bahwa suatu saat Bogowonto akan dikenal dari sektor wisata. Bogowonto, yang menghidupi masyarakat tepian sungai di Wonosobo dan Purworejo. :)

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu
www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha