Separuh lintasan lagi yang harus terpetakan, Bogowonto bawah. Sudah terencanakan, 2 minggu setelah pengarungan Bogowonto atas. Semangat yang tinggi bergelayut, Bogowonto atas adalah ketegangan yang telah berhasil dilewati. Sementara, sekarang di Bogowonto bawah adalah saat untuk lebih menikmati pengarungan dengan riang sambil menguasai medan yang esok akan berguna bagi kami. Beberapa tim sudah pernah mengarungi Bogowonto bawah, informasi-informasi yang cukup membantu. Terima kasih Palapsi dan Silvagama. Setidaknya dari situ sudah tergambar bahwa Bogowonto bawah nyaman untuk diarungi oleh orang yang baru mengenal arung jeram. Namun, bukankah resiko itu selalu tersembunyi di tengah keriangan. Semoga tetap waspada.

Titik-titik point sudah kami tentukan, pengarungan akan dimulai dari bendungan Panungkulan dan diakhiri di bendungan Kedungpucung dengan jarak mencapai 8 kilometer. Bendungan Kedungpucung itu sendiri berada di KM. 20 pengarungan Bogowonto. Dari total 25 kilometer pengarungan sungai Bogowonto.

Tim pengarungan akan berubah, hadir 3 sosok baru dalam tim yaitu, Fajar, Nourish dan Almy. Nourish dan Almy adalah para cacing muda yang sedang melatih diri di alam terbuka. Sementara Fajar adalah rekan Nurul dalam membangun arung jeram di Satu Bumi. Seperti halnya pengarungan Bogowonto atas 2 minggu lalu, tetap saja sekarang ini adalah kombinasi antara pengarung senior dan junior. Yang sama-sama belajar di alam terbuka.

Tetap selalu ada tim darat yang akan mengantar perahu dan para pengarung ke start point serta menjemputnya di finish point. Bogowonto bawah lebih mudah diakses dari jalan raya, ada beberapa titik di mana mobil bisa masuk ke tepian sungai. Tak seperti Bogowonto atas, di mana hanya ada 2 titik di mana mobil bisa masuk, yaitu di start dan finish point.

Kami telah bersiap untuk memulai pengarungan di bendungan Panungkulan. Muka-muka segar mewarnai perahu, Almy, Nourish, Wiwid dan Sukma. Harapan kami, merekalah yang akan menguasai medan di sungai Bogowonto kelak. Agar regenerasi tetap terjaga. Pukul 09:31 kami memulai pengarungan, menuruni grojogan air setinggi 1,5 meter di bendungan Panungkulan mengawalinya. Begitu riang.

Bagaimana debet air saat itu? Lebih besar daripada pengarungan Bogowonto atas 2 minggu yang lalu. Itu yang kami lihat di catatan TMA (tinggi mata air) di bendungan Kedung pucung (finish point). Tampak jelas air lebih coklat dengan riak-riak yang menghanyutkan. Jika debet saat ini terjadi pada pengarungan Bogowonto atas yang lalu, dapat dipastikan, tentunya resiko yang akan kami hadapi lebih besar. Dengan debet air yang seperti kemarin saja sudah sedemikian besar gradiennya, apalagi jika debetnya makin bertambah.

30 menit pertama adalah pemanasan yang menarik, lintasan flat bergradien dengan standing wave sepanjang desa Panungkulan. Saat yang tepat untuk memperkompak irama dayungan. Kami melewati finish point pengarungan Bogowonto atas kemarin, yaitu jembatan Panungkulan. Itulah satu-satunya jembatan desa di Bogowonto yang bisa dilewati mobil.

Jika di Bogowonto atas kemarin kami banyak terhalang oleh pillow-pillow yang memberhentikan perahu di tengah sungai. Di Bogowonto bawah ini jarang kami temui. Perahu pun tetap bisa bergerak tanpa dayungan. Kelokan-kelokan tak sebanyak di Bogowonto atas. Jeram-jeram pun terlewati dengan bersahabat. Pemandangan masih seperti Bogowonto atas, sangat alami. Kami sering menemui orang di tepian sungai. Di beberapa titik akan menemui perkampungan, lalu kembali lagi membelah perladangan yang luas. Tak seperti di Bogowonto atas di mana sungai akan membelah perbukitan. Tempo pengarungan tetaplah tinggi.

Tantangan pertama pada pukul 10.03, selepas melewati jembatan gantung Kedungpoh. Sebuah lintasan yang membentuk kurva sepanjang hampir 100 meter. Lintasan flat berpenampang sempit dengan jeram-jeram yang berkelak kelok, lebih condong kepada tipikal standing wave. Perahu akan bergoncang dengan mengasyikkan selama 100 meter. Jika pemilihan jalur tepat, maka laju pun akan lancar. Namun jika banyak membentur jeram, bisa menyebabkan perahu berbalik arah dengan posisi bokong perahu di depan, sesuatu yang harus dihindari.

Saya seperti biasa memotret aksi perahu dari kejauhan.

Sempurna, mereka beraksi dengan cantik. Begitulah, sebagian besar jeram-jeram di Bogowonto bawah adalah seperti ini. Beberapa di antaranya berada di kelokan seperti di Bogowonto atas dengan gradien cukup tinggi. Jeram-jeram di kelokan inilah yang membutuhkan scouting sebelum dilalui.

Benar-benar arung jeram seperti apa arti sesungguhnya, arung dan jeram. Bukan arung air. Bogowonto.

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu
www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha