Beberapa titik-titik menarik saya plot. Entah itu titik dengan jeram bergradien tinggi ataupun titik dengan pemandangan yang menakjubkan. Kami bertemu 2 buah curug lagi saat perahu memasuki wilayah Burat. Tampaknya perahu hampir memasuki wilayah kabupaten Purworejo. Di kiri (timur) sungai adalah wilayah Purworejo, sementara di kanan (barat) sungai adalah wilayah Wonosobo. Masih belum menemui perkampungan.

Saya memetakan kembali sebuah jeram yang menarik. Sebuah jeram yang berada di lintasan flat dengan tipikal pusaran air membentuk standing wave. Saat itu hampir pukul 2 siang, dan ada tempat menarik untuk mengambil gambar. Ada sebuah batu sebesar truk, saya memanjatnya dan view dari atas memang sangat dramatis untuk memotret jalannya perahu. Lintasan flat itu sendiri sepanjang hampir 100 meter. Dengan batuan-batuan berserakan teraliri arus yang deras Pohon-pohon kelapa memagarinya, dan kami sebut jeram itu jeram Kelapa.

Tak begitu sulit dilewati, pemandangan yang indah di sekitarnya membuat saya tergoda untuk memetakan dan memotretnya.

Tanda-tanda perkampungan mulai ada, 9 kilometer dari start. Sebuah jembatan gantung antik di atas kami. Terlihat rapuh dan pastilah hanya sepeda yang bisa melewatinya. Lalu beberapa orang yang mandi dan akhirnya benar juga. Di depan kami, aliran air terputus. Jatuh ke bawah, ya..itu sebuah bendungan. Kejutan yang menyenangkan, dan kami pun menepikan perahu. Kenapa menyenangkan? Karena di sebelah kanan bendungan adalah perkampungan, dusun Gupit. Sementara di sebelah kiri adalah perladangan desa Guntur. Bendungan itu sendiri bernama bendungan Guntur, 9,7 kilometer dari starting point Bogowonto atas.

Akhirnya kami menemukan perkampungan di sini. Perahu menepi, kami beranjak scouting ke depan bendungan. Apakah perahu bisa turun ke bawah?

Bisa, air sungai turun ke bawah setinggi 1,5 meter. Sementara anak-anak kecil dan beberapa orang berbaris di pinggir sungai. Mereka ingin melihat atraksi yang terlihat aneh bagi mereka. Saya bersiap untuk memotret. Dan atraksi pun dimulai, momen jepretan harus tepat. Saya tak ingin kehilangan momen ketika perahu anjlog ke bawah. Perahu berjalan dengan cepat, percepatannya harus ditingkatkan menjelang anjlog. Agar tidak terjebak di arus bawah selepas turunan. Dan, swinggg..perahu anjlog dengan manis dan saya berhasil memotretnya. Lalu bergerak lancar menuju arus tenang tanpa terjebak di pusaran air, berhasil!

Saya melihat peta, titik finish tinggal 3 karvak lagi. Dan sekarang pukul 14:42. Tak seberapa lama lagi, tampaknya karakter-karakter jeram selepas bendungan Guntur akan lebih mudah, semoga.

Benar juga, 3 kilometer ke depan lebih riang dibandingkan 9 kilometer di belakang. Tentu saja dengan tenaga yang telah terforsir sebelumnya. Aliran air tetap bergradien, namun alur perahu mudah dibaca. Tak perlu lagi scouting. Kami bertemu jembatan gantung lagi. Jembatan yang sama dengan yang kami temui dalam survey darat seminggu sebelumnya, jembatan Sibatur. Namun kali ini kami melintas di bawahnya, bukan menyeberang di atasnya.

Perkampungan telah berakhir setelah jembatan Sibatur, area perladangan yang begitu luas sedang kami lewati. Sebelum akhirnya menepikan perahu kembali di sebuah bendungan. Bendungan Panungkulan, saat itu pukul 15:24.

Seperti yang telah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, apa yang menjadi ciri khas desa Panungkulan? Bentang alamnya, Panungkulan tersusun dari persawahan, perkampungan dan Bogowonto serta keramah-tamahan. Seperti yang kami lihat di sekitar bendungan Panungkulan ini. Tak salah menjadikan desa Panungkulan sebagai middle point dari 25 kilometer total pengarungan sungai Bogowonto.

Kami melewati grojogan air setinggi sekitar 1,5 meter, seperti halnya yang kami lakukan di bendungan Guntur. Tak begitu sulit, lalu perahu akan berbelok ke kanan sembari melewati beberapa jeram yang bergradien kecil. 1 kilometer terakhir akan kami lewati, dan tampaknya jeram-jeram yang sedang kami lewati ini bersifat pendinginan saja. Yang dapat kami lewati dengan riang tanpa ketegangan seperti sebelumnya.

Di bawah jembatan Panungkulan, tim darat telah menyambut kami. Mereka sedang memancing. Kesibukan yang bermanfaat, karena tentulah waktu tunggu mereka sangatlah lama. Alhamdulillah..akhirnya perahu ini telah mencapai peraduannya di tepian sungai. Saat itu pukul 15:44, dan berakhir sudahlah pengarungan Bogowonto atas ini yang kami tempuh selama 6 jam 30 menit dengan jarak total 12,6 kilometer.

Bogowonto atas, masih separuh perjalanan. Masih ada 13 kilometer ke bawah yang harus kembali kami petakan. Bogowonto sudah di hati. :)

bersambung
..dari survey-survey kami baik darat maupun air selama bulan April dan Mei 2011

menuju Bogowonto Raft 2012

~ jarody hestu
www.equator-indonesia.com

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha