Aku cukup beruntung dianugrahi Gusti sepotong tubuh yang tinggi dengan langkah-langkah kaki yang panjang. Ini terkait dengan apa yang aku lakukan selama ini, mendaki gunung memimpin orang-orang dari luar negeri. Sebagian besar di antara mereka pastilah mempunyai tinggi badan di atas 6 feet (180 cm). Dan 1 langkah kaki mereka berarti sama panjangnya dengan 2 langkah kaki orang domestik, terkecuali orang domestik dengan tinggi badan di atas 6 feet seperti aku. Jika mereka menginginkan untuk berjalan cepat, aku layani mereka. Sebaliknya, jika mereka ternyata berjalan normal seperti orang domestik biasa, aku lebih menyukainya karena itu berarti porterku tak kewalahan untuk selalu berjalan mengikuti para pendaki. Porter selalu membawa carrier atau pikulan yang berat sementara aku sebagai guide hanya membawa daypack kecil yang tak lebih dari 10-15 kilogram.

Termasuk tamuku malam ini, sepasang suami istri dari Brisbane, Australia.

Denise Boyd meringkuk di cerukan kecil yang terlindung batu. 2 kakinya dilipat sedemikian rupa dengan kedua tangannya terlindung di antara kaki dan badannya. Sementara Stephen Boyd duduk di belakangnya. Memeluk sang istri hingga mereka berdua merasa nyaman di antara hembusan angin dingin yang mencapai 10 derajat celcius. Puncak Merapi berada 300 meter di atas kami, sangat jelas terlihat tanpa ada kabut yang menutupi pandang. Konstelasi-konstelasi bertebaran di langit yang tak pekat hitam karena rembulan memang hamper purnama. Kami telah tiba di Pasar Bubrah setelah berjalan menyusuri ladang, hutan dan batuan selama 2,5 jam dari desa. Bagiku, waktu 2,5 jam adalah waktu yang begitu cepat untuk ukuran orang domestik, namun orang asing bisa melakukannya lebih cepat dalam waktu hanya 2 jam bahkan kurang.

Mereka berdua mengingatkanku kepada seorang tokoh fiksi, Indiana Jones. Kata-kata sang ilmuwan petualang yang diperankan Harrison Ford dalam film ini begitu memberi inspirasi,

“Jika ingin menjadi arkeolog yang baik, keluarlah dari perpustakaan.”

Apa artinya? Manusia akan menyia-nyiakan seluruh hidupnya jika hanya menuntut ilmu dari ribuan buku dan hanya tersimpan manis di dalam otaknya. Namun akan menjadi lebih berarti jika manusia dapat “memandang langsung dunia liar dengan matanya”, lalu memberikan ilmunya untuk mencerahkan dunia.

Kedua teman baruku ini berusia hampir 60 tahun seperti halnya Indiana Jones. Dan keduanya mendaki Merapi dengan kemeja lapangan berwarna krem. Keduanya juga merupakan ilmuwan di salah satu universitas di Brisbane. Yang membedakannya dengan om Indi mungkin karena mereka berdua tak mengenakan topi cowboy.

Tapi coba bayangkan, sepasang kakek nenek yang mampu mencapai Pasar Bubrah dengan waktu 2,5 jam dari desa. Aku berandai masih bisa melakukan hal seperti itu 40 tahun lagi.

***

Di saat mereka berpelukan di Pasar Bubrah menjelang Shubuh, aku asyik memasukkan makanan apa saja ke mulut. Ini Ramadhan, “fasting” kata Stephen Boyd. Besok aku harus puasa. Sementara, tangan-tangan kecil Bhara Ivano asistenku, sedang mendidihkan air hangat untuk kami berempat. Tak ada yang unik, mendaki gunung di saat puasa, bagiku seperti halnya pendakian-pendakian yang lain. Seperti halnya aku melayani turis-turis asing yang lain. Menyajikan air hangat, memasak noodles, membakarkan kayu, hanya yang membedakannya adalah mereka harus makan dan minum sementara aku tak boleh makan minum.

Pasar Bubrah selepas erupsi benar-benar berbeda, aku tak berhasil menemukan tempat camp favoritku, sebuah petak yang cukup untuk 1 tenda dengan dinding batu di sebelah utara dan selatan. Sementara aku selalu menghadapkan pintu tendaku ke arah timur, yang berarti saat aku membuka tenda pukul 6 pagi, matahari akan menyambutku. Tempat itu mungkin sudah tertimbun material yang baru. Hampir sebagian besar batu-batu besar telah tertimbun sedalam 1-2 meter meter oleh material vulkanik hasil erupsi.

Lalu tak ada lagi satu batang cantigi yang tumbuh di sini. Saat aku mendaki Merapi bulan Desember tahun lalu selepas pengungsian, tempat ini benar-benar seperti tempat yang tak pernah dikunjungi manusia sebelumnya. Seiring sejalan, jejak-jejak kaki mulai berdatangan dan Merapi sudah ramai kembali saat ini. Merapi kembaii didaki, dan besok adalah hari kemerdekaan Indonesia. Pasar Bubrah menjelang Shubuh ini ramai oleh celoteh hampir 100 pendaki.

Dan ternyata, setelah terang sehabis memuncaki Merapi, aku berhasil menemukan beberapa cantigi kecil yang mulai tumbuh dari retak batuan. Dia tumbuh. :)

***

Jelas sekali, mereka berdua merasa ketakutan. 30 menit di atas Pasar Bubrah, aku memilih jalur yang biasanya kupakai, yaitu dari sisi kanan sebelum dinding batu. Aku lupa atau memang karena belum terbiasa dengan jalur baru yang seharusnya menyusuri “pasir-pasir” di sebelah kiri. Ternyata kegelapan berpengaruh karena aku memang bergerak kurang ke kiri sehingga tak melewati pasir-pasir. Alhasil, aku melewati sisi sebelah kanan dengan material-material sisa erupsi yang memendam jalur yang sebenarnya dahulu enak dilewati. Untunglah ada seuntai tali webbing, dan itu bermanfaat sekali untuk bergerak menyusuri cerukan-cerukan kecil hingga kami tiba di tempat aman di pinggir dinding batu.

Hampir 90 menit perjalanan memuncaki Merapi ini, dahulu aku biasa mengantar turis untuk bergerak cepat 30 menit summit attack, namun kesalahan memilih jalur memperlambat perjalanan tadi.

Puncak Merapi saat ini adalah sebuah kawah berdiameter 80 meter dengan igir-igir runcing mengelilinginya. Sementara dasar kawah sedalam 60 meter, dengan kubah lava tumbuh di pusatnya. Di sebelah selatan, igir kawah terputus. Itulah pintu lava, pintu aliran kali Gendol, hulu kali Gendol yang merupakan awal jalur awan panas yang menghancurkan Kinahredjo. Sekarang, kita dapat melihat Jogja dari puncak Merapi.

Denise Boyd masih terduduk lemas, dia masih terbayang ketakutan dalam pengalaman singkat selama 90 menit tadi.

Sementara masih ada sekitar 25 orang yang berbaris rapi di igir-igir yang sempit. Tak ada tempat landai dan luas di igir-igir. Setiap orang harus berdiri hati-hati di sini. Tak sebebas seperti Merapi yang dulu. Stephen Boyd berkelana dengan kamera, dia akan membingkai Merapi dan lalu menyebarkan gambar-gambarnya kepada teman-temannya di Australia. Inilah Merapi.

Denise Boyd pantas takut, karena aku mengalami sebuah kejutan. Sebuah kecelakaan ketika turun. Ya, aku percaya bahwa pada suatu saat Merapi bisa saja dapat membunuhku. Hati-hatilah Gerado.

***

Mereka anak-anak muda yang turun tergesa dan berlari. Di batuan-batuan labil sisa erupsi yang masih senang bergelinjang turun deras. Begitulah, pendaki-pendaki muda yang tak bisa berhati-hati. Pastilah mereka terlalu asyik dengan kecepatan tinggi ketika turun. Alhasil, sepanjang perjalanan turun, 3 kali batuan besar jatuh ke arah kami. Batuan jatuh pertama, aman. Kedua, aman. Dan ketiga, inilah kejutannya. Sebuah batu sebesar kepala sapi meluncur ke arah kami berempat. Teriakan dari para pemuda di atas menggema,

“awasss!!! Rock fallll!!

Bhara dan suami istri Boyd lolos dari terjangan batu. Batu itu sendiri tak bisa diduga arahnya, kadang memantul ke kiri lalu ke kanan. Yang bisa dilakukan orang-orang hanyalah mencari batu untuk bersembunyi. Tapi di sekitarku tak ada batu besar untuk bersembunyi, dan yang kulakukan hanya berjongkok sambil melindungi kepala dengan lengan kananku dan mengira-ngira ke mana batu akan berlalu sambil menghindar. Kalau bisa. Dan benar saja, tiba-tiba hantaman keras mendarat di lengan kanan membuat aku terhuyung jatuh ke depan.

Rasanya seperti dipukul tentara.

Kuraba kepalaku, kering. Lalu kuyakinkan lagi dengan bertanya kepada Stephen Boyd sambil menunjuk dahiku.

“Do you see any blood in my head?”

Dan sebuah kelegaan ketika dia menjelaskan bahwa kepalaku baik-baik saja. Untunglah lenganku melindungi kepalaku, kalau tidak?

***

Upacara kemerdekaan, beberapa penerjun parasailing beraksi, beberapa kelompok pendaki yang bernyanyi, memberi warna Pasar Bubrah pagi ini. Aku dan Bhara memasakkan sarapan dan air untuk suami istri Boyd. Sungguh ini sebuah perjalanan yang tak pernah bisa dibayangkan oleh Stephen Boyd ketika memotret Merapi dari Hotel Phoenix 1 hari yang lalu. Dan tentulah dia akan menyebarkan cerita-cerita yang luar biasa tentang Merapi kepada sahabat-sahabatnya di Australia. Aku harap.

Aku masih ingin mendaki Merapi 100 kali lagi, bahkan 1000 kali lagi, seumur hidupku. Tak akan pernah bosan karena aku pasti akan mengenal orang-orang baru di sana. Orang-orang seperti Stephen Boyd dan Denise Boyd. Jika Gusti mengijinkan aku selalu mendakinya. Terima kasih Merapi yang telah menjadi guru alamku. :)

Selesai.

Merapi Guide bersama Stephen Boyd dan Denise Boyd, 17 Agustus 2011

~ jarody hestu

Equator Indonesia Jogyakarta

P.S. pendaki Merapi, keselamatan Anda adalah yang utama. Jangan berlari ketika menuruni puncak Merapi, mungkin itu mengasyikkan. Tapi itu berbahaya bagi pendaki lain. Dan jangan lupa membawa helm penutup kepala. Matur nuwun.

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha