Dia tampak seperti sebuah monumen, yang selalu dilihat di pagi dan sore yang cerah dari setiap sudut kota Jogja. Dia tampak seolah-olah seperti piramida yang menusuk langit dan memberi pesan bahwa suatu saat bencana akan didatangkannya. Dia memberikan inspirasi tersendiri bagi beberapa hotel berbintang di Jogja agar membangun kamar-kamar mahal dengan jendela yang menghadap ke utara. Dan dia menciptakan jiwaku seperti apa adanya hari ini.

Dia Merapi, taman bermainku, taman bermainmu, taman bermain kami.

Pagi yang cerah dari sebuah teras kamar yang mahal di Hotel Phoenix, salah satu hotel berbintang lima di Jogja, Stephen Boyd berkelana memotret ke arah utara. Saat itu Jogja dianugrahi langit biru nan cerah. Hanya semburat-semburat tipis awan yang mewujud ray of light dari matahari di timur yang garis sinarnya seolah menusuk bumi.

“Ke mana gerangan kameranya mencari pemandangan?”

Ke arah Merapi, dan dia berandai-andai bahwa suatu ketika dia akan dapat memotret segala pemandangan yang dapat dilihat dari puncak Merapi. Pengandaian yang harus dia laksanakan saat ini juga, mengingat waktu liburannya keluar dari Australia tak cukup panjang. Dan setiap kesempatan untuk memperoleh pemandangan-pemandangan menakjubkan di Indonesia harus dia dapatkan. Merapi adalah jawabannya saat itu juga. Dia harus mendaki Merapi dan menyampaikan kabar dalam gambar tentang Merapi kepada kerabatnya di Australia.

“Inilah Merapi, yang telah menciptakan letusan dahsyat 10 bulan yang lalu.”

Pagi yang sama di pinggiran Jogja. Bukan Jogja maksudku, Jogja terlalu megah untuk tempat sederhana dengan banyak sawah ini. Aku sedang berada di rumah mbakyuku di kecamatan Berbah, Sleman. Sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh sawah. Saat Stephen Boyd memotret Merapi dari teras hotel Phoenix, mungkin saja saat itu juga aku sedang memandang Merapi dari persawahan. Aku hampir selalu keluar rumah setiap jam 6 pagi. Menggendong Daffi, keponakanku yang baru berusia 5 bulan. Memamerkannya kepada cahaya matahari yang barus saja naik dari timur. Orang Jawa bilang, ndhedhekne bayi. Mengajak Daffi menghirup udara persawahan sambil menyanyikannya lagu-lagu. Sama sekali tak pernah membayangkan bahwa pada malam harinya aku akan berpetualang dengan Stephen Boyd di tengah hawa dingin. Di Merapi.

Merapi adalah taman bermain, sekolah, rumah dan teman-temanku berujar “merapi adalah kantorku”. Hidupku sangat tergantung pada tempat ini. Orang-orang datang ke Jogja dan ingin mendaki Merapi. Dan menjadi tugasku untuk mengantarkan mereka mendaki Merapi. Sederhana bukan, aku mendaki gunung Merapi dan dibayar karena telah mengantarkan orang-orang mendaki gunung Merapi. Merapi adalah hidupku.

Dan letusan besar Merapi pada Oktober tahun lalu seketika membuat aku harus bertahan hidup dengan jalan yang lain. Tapi itu hanya sebutir pasir kesedihan di balik sebongkah batu kegembiraan yang terjadi selepas pengungsian. Aku bersama teman-teman telah mendapatkan sebuah keluarga baru. Kami bertanggung jawab atas 1000 orang lebih di 40 hari pengungsian yang menjadi hunian sementara hampir seluruh warga desa Krinjing, Merapi barat. Hakikat sebenarnya manusia tergambarkan di sini, bahwa sebenar-benarnya manusia adalah mereka yang menjalin hubungan dan manfaat dengan manusia lain setimbang dengan hubungan manusia bersama alam dan Gusti.

Dan hingga saat ini, semoga selamanya, desa Krinjing tetap menjadi rumah kami, desa binaan kami. Keluarga baru yang diperoleh selepas letusan Merapi.

“Lalu di jalan mana aku bertahan hidup setelah Merapi tak dapat didaki?”

Tahun 2011 ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku hanya memimpin sebanyak 5 tim untuk pendakian gunung, tentu saja selain Merapi. Penurunan yang sangat drastis. Namun bagiku itu sudah cukup, pun sangat pas-pasan. Setidaknya aku masih bisa menikmati setiap sore hari dengan dentingan gitar dan gesekan biola di Lembah Code bersama teman-temanku.

***

Jam 9 pagi handphone-ku berbunyi. Aku sudah berada di Lembah Code UGM. Di ujung telepon adalah suara berbahasa Inggris, dan aku pun membalasnya dengan bahasa Inggris.


“I wanna climb Merapi tonight. Can you set it for us?”

Pikiran cepatku bekerja dengan beberapa pertimbangan. Aku sudah 10 bulan tak memimpin sebuah tim untuk mendaki Merapi. Bulan Desember 2010 pasca pengungsian Merapi kemarin aku mendaki Merapi, begitu pula bulan Juli kemarin. Bukan untuk mengantar tamu, namun dengan keinginan untuk mengetahui kondisi gunung Merapi setelah letusan besar. Pada pendakian bulan Juli kemarin dapat kusimpulkan bahwa Merapi sudah aman untuk didaki, dan dengan begitu aku sudah bisa bekerja kembali di sini.

Lalu sekarang adalah bulan Ramadhan dan memang tak pernah kujadwalkan untuk mendaki gunung, meskipun faktanya pada Ramadhan tahun lalu aku memimpin 3 kali pendakian gunung. Dan si bule ini menelepon jam 9 pagi untuk pendakian yang akan dimulai tengah malamnya. Aku benar-benar tak siap.

Satu-satunya alasan di mana aku berkata “iya” dalam renungan singkat selama 10 detik di ujung telepon adalah bahwa mendaki Merapi adalah jiwaku. Dan itu harus kulakukan untuk melayani mereka yang menginginkan aku menjadi guide-nya. Inilah pekerjaanku.

Dengan tegas kukatakan “iya” kepada si bule, dan perbincangan selanjutnya adalah perkenalan singkat beserta pemaparan itinerary pendakian dan perlengkapan apa saja yang akan dibawa oleh si bule.

Pria di ujung telepon itu adalah Stephen Boyd, namun aku lebih suka memanggilnya om Indy. Kakek ini lebih mirip Indiana Jones menurutku. Salah satu klien Merapi-ku yang paling unik.

Siapa Stephen Boyd, Denise Boyd dan bagaimana mereka mendaki Merapi? Lalu, bagaimana Merapi saat ini? Tunggu tulisan sambungannya esok.

..bersambung

Merapi Guide bersama Stephen Boyd dan Denise Boyd, 17 Agustus 2011

~ jarody hestu

Equator Indonesia Jogyakarta

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha