hari napak tilas,

..syahdan suatu hari ketika halimun rapi membalut batu-batu tua di pagi hari,

Gestur wajah pria lepas paruh baya ini menampakkan kelelahan. Hari-hari terakhir ini, beliau telah ikhlas ijinkan segala beban hadir di pundaknya. Beban untuk meneruskan tradisi santun yang telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyangnya. Bahkan butir-butir upas kemarau (butiran es di pagi hari) pun tak mampu membekukan tradisi itu. Batu-batu tua berelief dan patung-patung Shiva yang telah digali 150 tahun yang lalu dari danau berlumpur  telah menjadi saksi, betapa tradisi telah menjadi pegangan dalam kehidupan mereka.

Beliau memutari salah satu batu tua peninggalan abad ke-8, candi Dwarawati searah jarum jam. Didampingi oleh beberapa orang sesepuh yang semuanya mengenakan pakaian yang seragam. Para sesepuh kakung mengenakan beskap lurik sebagai atasan dan sarung batik sebagai bawahan. Kepalanya terlindung oleh balutan kain batik yang dililitkan sedemikian rupa hingga menutupi rambut dengan rapi . Sementara sesepuh putri mengenakan kebaya.

 Beliau, sang pemangku adat desa Dieng Kulon, Naryono.

Memutari candi Dwarawati

Memutari candi Dwarawati

Ada kembang setaman yang harus disiramkan, ada dupa yang harus dibakar mewangi di pengapnya ruangan candi, ada sesajen yang harus dipersembahkan kepada semesta. Itulah rangkaian napak tilas sebagai bagian dari upacara ruwatan rambut gimbal di dataran tinggi Dieng. Pemangku adat akan mengunjungi tempat-tempat yang dikeramatkan oleh nenek moyang. Ada 21 tempat yang harus beliau kunjungi dalam 2 hari napak tilas. 15 tempat di hari Jumat (hari pertama) akan berakhir di Goa Semar, Telaga Warna. Konon, Soekarno dan Soeharto pernah bertapa di sini. Sementara itu di hari Sabtu, beliau akan mengunjungi 6 tempat yang berakhir di makam mbah Sirikunti yang merupakan pemangku adat pertama desa Dieng Kulon. Tempat-tempat keramat itu antara lain candi Arjuna, candi Semar, candi Setiyaki, candi Dwarawati, sendang Pepek, sendang Buana, candi Bima, kawah Sikidang.

Mengirim kembang setaman ke kawah Sikidang

Mengirim kembang setaman ke kawah Sikidang

61 tahun usianya telah terlukis di gurat wajahnya. Aroma “kejawen” terpancar begitu menatap pekat mata coklatnya. 50 tahun yang lalu, beliau adalah seorang anak gimbal yang telah diruwat. Dan sekarang, beliau menjadi pengayom dan penjaga tradisi di dataran tinggi Dieng. Orang-orang yang lebih muda hanya bisa mengangguk terpana saat beliau bercerita.

 Lalu, apa yang mereka cari dalam napak tilas itu?

Mbah Naryono didampingi para sesepuh yang menemani napak tilas

Mbah Naryono didampingi para sesepuh yang menemani napak tilas

***

Lepas tengah hari di saat yang hampir bersamaan dengan napak tilas pemangku adat, kira-kira 3 kilometer di sebelah utara selatan desa Dieng Kulon, beberapa bocah sedang bermain di halaman sebuah rumah. Seketika tanah lapang pun menjadi riuh karena beberapa jurnalis dan fotografer bersambang ke situ. Tak jauh dari bukit Sikunir, dusun yang begitu sederhana, dusun Ngandam di desa Sikunang. Lebih sederhana dari desa Dieng Kulon yang merupakan pusat kunjungan wisata di dataran tinggi Dieng.

Sekilas tak ada yang aneh dari anak-anak yang berkumpul itu, mereka tampak riang dan nakal sebagaimana mestinya anak-anak. Pipi-pipi mereka tembem dan memerah. Mulut-mulut mereka mengeluarkan asap kedinginan. Baju-baju mereka kotor sehabis berkumpul bercengkerama dalam berbagai permainan bocah. Beberapa anak memakai jaket tebal yang melindungi badan hingga ujung tangan. Beberapa orang dari mereka memiliki rambut berantakan seperti tak pernah disisir.

Namun ternyata bukan karena tak rapi ataupun tak pernah disisir, rambut mereka menggumpal. Gembel. Gimbal.

***

Namanya Dewi Anjani, putri kecil yang baru berusia 4 tahun. Seperti halnya anak-anak lain, dia mempunyai pipi tembem yang memerah. Begitu lucu dan imut. Rambutnya halus lurus dan berponi. Tak akan tampak rambut gimbalnya dari depan, karena rambut gimbalnya tumbuh tak rapi di belakang kepala. Rambut Anjani tumbuh menggumpal sedari lahir, hanya beberapa helai dan seiring usia jumlah helai gimbal pun semakin banyak. Kata ibunya, setiap helai rambut gimbalnya bertambah, maka si anak akan jatuh sakit.

Seketika para jurnalis memalingkan kameranya ke arah Anjani.

Dewi Anjani bersama sang nenek

Dewi Anjani bersama sang nenek

“Gembele njaluk apa nduk?” tanya ibunya sambil menunjukkan 3 gigi emasnya kepada Anjani dengan logat Banyumasan menirukan pertanyaan para jurnalis. Ibunya sendiri juga pernah mengalami proses ruwatan rambut gimbal.

Permintaan sang anak adalah sesuatu yang harus dituruti sebelum rambut gimbalnya diruwat. Dan itulah yang akan ditanyakan orang tuanya kepada anaknya setelah pemangku adat memilih anak itu untuk diruwat. Dewi Anjani telah meminta mahar dengan polosnya, telur mentah 600 buah, sekeping tempe matang seharga 500 rupiah, sebutir tahu matang seharga 500 rupiah dan ayam matang.

Dewi Anjani berasal dari keluarga sederhana, tinggal di rumah yang sederhana pula. Ayahnya berdagang dan ibunya bertani cabe dan kentang. Bagi beberapa orang tua yang mampu, mahar untuk ruwatan rambut gimbal sang anak akan diusahakannya sendiri. Namun bagi orang tua yang hidup dengan sangat sederhana, mereka tentu sangat berharap akan dibantu oleh orang lain. Begitulah, masih selalu ada orang-orang baik yang akan membantu mereka di Dieng.

Anjani mempunyai banyak teman bermain di kampungnya, salah satunya adalah Muthoharoh, putri kecil berumur 6 tahun. Dan dia gimbal, salah satu anak yang akan diruwat juga hari Minggu besok. Tak seperti Anjani, gimbal Muthoharoh begitu lebat, di depan, samping dan belakang kepala. Hanya menyisakan beberapa bagian rambut halusnya. Gimbal di belakang kepala adalah yang paling tebal, dan memanjang hingga mencapai punggung.

Muthoharoh, teman bermain Anjani

Muthoharoh, teman bermain Anjani

Apa mahar yang diminta Muthoharoh?

Muthoharoh telah meminta tempe berbungkus daun 500 biji. Permintaan yang begitu sederhana. Dari seorang putri kecil yang tinggal di rumah sederhana berdinding papan ini. Setidaknya mereka masih belum mengenal mainan-mainan mewah khas perkotaan.

Masih ada beberapa anak gimbal di desa Sikunang, mereka akan menunggu pemangku adat datang dan bertanya,

“Gembele njaluk apa nduk/le?”

Muthoharoh bersama orang tuanya di serambi rumahnya yang sederhana

Muthoharoh bersama orang tuanya di serambi rumahnya yang sederhana

***

Mbah Naryono telah menjalankan napak tilas di Dieng hari Jumat dan Sabtu ini. Sementara para anak gimbal masih tetap bermain seperti halnya anak-anak kecil. Anak gimbal tak pernah tahu tentang upacara ruwatan yang besok akan terjadi. Selalu memandang segala sesuatu dengan kacamata anak-anak. Sebuah pertanyaan yang mengemuka di atas.

Apa yang mereka cari dalam napak tilas itu?

Bukan menyembah batu-batu tua, bukan menyembah hutan dan gunung, bukan menyembah tuk (mata air), bukan menyembah makam para sesepuh. Para pemangku adat taat dengan “kejawen”. Mereka hadir di tempat-tempat yang dikeramatkan, karena mereka yakin bahwa mereka dapat berdialog dengan Gusti di situ. Di tempat-tempat itu mereka berada dalam 3 kesatuan, Gusti-alam semesta-manusia. Manusia-manusia sederhana di Dieng masih membutuhkan air mengalir dari setiap tuk, masih membutuhkan hutan, masih berharap agar kawah-kawah di Dieng beraktifitas normal. Mereka hidup sangat bergantung dengan alam semesta, tak seperti masyarakat di perkotaan.

Dan terlihat bedanya saat kita melihat senyum dan tawa sederhana dari masyarakat sederhana di Dieng, tulus dan jujur bukan. Dan seketika membuat kita yang telah lama tinggal di kota menjadi tercerahkan jika bergaul dengan masyarakat Dieng. Bayangkanlah dengan muka-muka cemberut dan tergesa-gesa orang-orang kaya di kota.

Besok Minggu adalah saat yang ditunggu orang-orang di Dieng. Mbah Naryono akan bertemu dengan Dewi Anjani, Muthoharoh dan 5 anak yang lain dalam sebuah upacara tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Dieng yang indah, Dieng yang santun, Dieng yang mempertemukan manusia dan budaya dengan cara yang terpuji.

..bersambung

 

fotografi oleh : Maufiroh Isnainto , Akoh Martadireja

Dieng Culture Festival 2, 1-3 Juli 2011

~ jarody hestu

P.S. mohon maaf jika ada penulisan yang salah :)

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha