Wonosobo, jalan raya Purworejo-Wonosobo kami lewati dengan motor, kota Wonosobo dan Purworejo dibatasi oleh gapura perbatasan yang dikelilingi hutan pinus. Jalan raya ini adalah jalan raya yang meliuk-liuk membelah perbukitan Menoreh. Beberapa lobang menganga mengintai kelengahan para pengendara kendaraan bermotor. Saya membayangkan bahwa kelak jalan raya ini akan sering dilewati barisan pick-up yang membawa perahu di atasnya. Seperti halnya di jalan raya Borobudur ataupun jalan raya tembus Kulon Progo-Magelang. Kelak sungai Bogowonto akan menjadi alternatif incaran para pengidam petualangan selain sungai Progo dan Elo.

Sungai Bogowonto memanjang seperti halnya jalan raya ini. Berada di sebelah kanan atau timur dari arah kami ke Wonosobo. Namun untuk menuju bibir sungai, kami harus mencari akses darat. Dan akses darat hanya tersedia jika ada perkampungan di bibir sungai. Dan ternyata, tak ada perkampungan di bibir sungai, itu setelah desa Guntur. Jarak yang membatasi jalan raya dengan bibir sungai adalah sekitar 1 kilometer hingga 3 kilometer. Beberapa jembatan gantung terlihat dalam simbol di atas peta. Dan dalam survey darat ini, simbol jembatan di atas sungai selalu kami lingkari. Penalarannya, jika ada jembatan gantung yang tergambar di peta, tentu saja ada jalan setapak yang bisa dilewati motor bukan? Dan jalan setapak itu pastilah dimulai dari salah satu dari puluhan pertigaan di jalan raya Purworejo-Wonosobo.

Sungai Bogowonto dan jalan raya akan semakin berdekatan jika kami bergerak lebih ke utara. Dan itulah yang kami tuju, kami mencari akses di mana motor tak perlu menuruni lereng yang curam menuju bibir sungai.

Desa Beran, kami sampai di salah satu pusat keramaian di kecamatan Kepil Wonosobo. Di sebuah pertigaan, kami berbelok kanan. Tak sampai 1 menit berkendara hingga tiba di sebuah jembatan, salah satu jembatan dari beberapa jembatan yang kami lingkari di atas peta. Di bawah jembatan adalah sungai Bogowonto. Lalu kembali kepada setiap pertanyaan setiap kami berada di bibir sungai Bogowonto.

“Apakah di titik ini, perahu karet bisa hadir mengarung?”

Tidak bisa! Di bawah kami adalah batu-batu besar yang lebih dominan dari pada arus sungai. Di beberapa titik, penduduk menambang batu-batu kali yang nantinya dipecah menjadi krakal dan krikil. Lalu saya membuka peta, titik ini berada di ujung atas peta. Kami sudah bergerak terlalu jauh, dan maklumlah jika yang kami dapatkan hanya batu-batu besar.

Lalu kami bergerak lebih ke bawah.

Orang-orang mengarahkan jalan dengan ramah saat kami bertanya. Itulah “Orcot”, jika di gunung Anda akan mengenal “Ormed” (orientasi Medan), maka di kota Anda akan mengenal Orcot (Orientasi Cocot). Kami tiba di “ibukota” kecamatan Kepil. Kecamatan Kepil adalah kecamatan paling selatan dari Wonosobo. Berbatasan dengan Purworejo di selatannya. Berada di ketinggian 300-500 meter di atas permukaan laut. Tentu saja hawa pegunungan menyelimuti tempat ini. Kami menuju jembatan selanjutnya. Jika dipandang di peta, jembatan ini tampak terlihat kurang meyakinkan aksesnya. Berada jauh dari jalan raya (hampir 2 kilometer). Namun kami ingin mencoba terlebih dahulu.

Di luar dugaan, jalan yang kami lewati menuju jembatan adalah jalan yang teraspal halus. Pun harus dilewati naik turun lalu menjadi curam sebelum mencapai bibir sungai. Pemandangan di tepian jalan adalah hutan pinus dan beberapa area perkebunan, begitu hijau. Kadang di beberapa sudut jalan tampak para penduduk yang sedang menggendong rencek (kayu bakar yang berasal dari ranting). Namun di beberapa sudut terdengar pula mesin penggergaji meraung-raung menebang pohon. Yah, semoga saja itu di jalan yang legal. Pohon pinus yang berusia 25 tahun ke atas memang sudah tidak produktif lagi untuk menghasilkan getah. Dan boleh untuk ditebang dengan ijin Dinas Kehutanan. Hampir memasuki bibir sungai, bertemulah kami dengan perkampungan. Itulah dusun Ngadirejo di desa Bener yang begitu asri. Saya membayangkan desa ini sangat cocok untuk digarap potensi wisatanya. Entahlah, saya belum tahu apakah desa ini sudah menjadi ikon wisata di kecamatan Kepil.

Kami mencapai jembatan selepas menuruni turunan yang curam. Jembatan ini seperti halnya jembatan-jembatan lain di kota. Sepanjang lebih kurang 30 meter dan lebar 5 meter dengan pagar besi. Permukaan aspalnya sudah sangat bergelombang. Jembatan ini menghubungkan desa Gadingrejo di sebelah timur sungai dan desa Bener di sebelah barat sungai. Jembatan paling besar dari beberapa jembatan yang kami lingkari di peta. Dan inilah akses utama bagi truk-truk pengangkut hasil kebun dan hutan. Para penduduk menyebutnya, jembatan Sitretes.

“Lalu apakah sungai Bogowonto dapat diarungi dari sisi ini?”

Bisa!! Kami melihat ke utara, arus-arus bergejolak di bentukan sungai yang linear lurus hingga selatan, kurang lebih sepanjang 400 meter. Di ujung selatan, sekumpulan jeram menyembunyikan penampakan sungai selepas itu. Ya, tepat di bawah jembatan Sitretes ini permukaan sungai flat bergradien. Sangat bisa diarungi perahu karet, bahkan saya menebak bahwa 1 kilometer lebih ke utara pun sungai ini masih bisa diarungi.

Dengan berbagai pertimbangan: akses jalan, view, karakteristik sungai, perkampungan, maka kami memilih jembatan Sitretes sebagai titik start pengarungan Bogowonto atas.

Sitretes, jalan-jalan menuju taman bermain yang baru mulai terpetakan. :)

bersambung

menuju Bogowonto Raft

April-Mei 2011

~ jarody hestu

2 Response Comments

  • Fahmi  June 7, 2014 at 11:41 am

    Kebetulan saya orang desa Bener, Kec. Kepil Wonosobo. Di desa inilah terletak Jembatan sitretes. Dulu pernah ada mahasiswa Fak Teknik UGM dan Fak Psikologi UGM sekitar tahun 2012 yang datang kemari dan memulai arung jeram juga dari sana.

    Sebenarnya potensi kali bogowonto cukup besar, namun saat ini pemerintah baru menggarap potensi ikan air tawar melalui program DAS Bogowonto. Belum masuk ranah wisata… Barangkali tim equator indonesia berkenan untuk datang lagi ke desa saya. Kita bakal welcome dengan kunjungannya :D

  • jarody hestu  July 7, 2014 at 7:10 am

    Terima kasih Pak fahmi :)

    Iya pak, Saya Jarody dari Fak. Teknik UGM dari Mapala Satu Bumi yang sekarang aktif di Equator Indonesia sebagai provider wisata minat khusus. Kami mengeksplore sungai Bogowonto dari Sitretes-Panungkulan-Tambak Purworejo pada 2010-2011. Besar harapan kami untuk aktif di Bogowonto, mungkin Bapak bisa membantu suatu saat nanti. Ini nomor telepon saya 081 328 173 781

    ~ jarody hestu
    Equator Indonesia

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha