Informasi datang silih berganti, itulah yang kami butuhkan. setidaknya dari informasi itu kami menjadi yakin bahwa pengarungan dapat berlangsung dengan aman. Beberapa tim pengarung dari mapala-mapala di Jogja telah memberi informasi yang menggembirakan tentang Bogowonto bawah. Terima kasih Palapsi, Silvagama, Makupela dan beberapa tim lain atas informasinya. Lalu bagaimana dengan Bogowonto atas? Tak ada informasi sama sekali. Satu-satunya informasi yang kami dapat adalah bahwa sungai Bogowonto mengalir sangat panjang dengan hulunya di barat gunung Sumbing. Saya buka google earth, dari hulu Sumbing sungai Bogowonto akan melintasi daerah-daerah pedesaan di Wonosobo, lalu perbatasan Wonosobo dan Purworejo. Turun ke bawah mengikuti daerah pinggiran barat perbukitan Menoreh sebelum bertemu di tempuran Mas. Yaitu tempuran tempat bertemunya sungai Bogowonto dan sungai Kodil yang berhulu di perbukitan Menoreh. Dari tempuran, sungai Bogowonto akan melebar dengan permukaannya yang flat namun tetap berarus hingga ujung selatan di Samudra Hindia.

“Lalu bagaimana kami mendapatkan sendiri informasi tentang karakteristik Bogowonto atas?”

Di tempat-tempat yang tersembunyi dan ingin Anda kunjungi, Anda membutuhkan peta. Ya, Fajar sendiri yang datang sambil membawa 2 lembar peta yang disambung memanjang jadi satu dengan lembar berjudul Kepil dan Purworejo. Lengkap pula dengan GPS Garmin 76 csx hasil dia “mencangkul” di pulau Komodo. Dalam peta itu. sungai Bogowonto memanjang 30 karvak (1 karvak adalah 1 kilometer) dari utara (kecamatan Kepil Wonosobo) hingga selatan (kota Purworejo). Pemetaan sungai, ini sesuatu yang baru bagi saya. Dan tentu saja ini menarik bagi saya.

Sebuah perjalanan besar yang beresiko tinggi, harus dimulai dengan persiapan yang matang pula. Resiko akan mengintip para ekspeditor yang lengah, dan..fatal akibatnya. Sekarang, apa yang dapat kami lakukan dengan selembar peta dan GPS ?

Mempelajari karakteristik sungai Bogowonto sebelum pengarungan, ada beberapa tahap yang harus kami lalui. Pertama, menyaring seluruh informasi dari teman-teman di Jogja. Kedua, memanfaatkan internet sebagai wahana yang menghubungkan kami dengan sungai Bogowonto. Dari internet, kami akan mendapatkan penampakan satelit sungai Bogowonto, dan itu menunjang peta fisik Bogowonto. Dan ketiga, melakukan survey ke sungai Bogowonto dari jalur darat.

“Lalu bagaimana survey darat itu?”

Dalam bahasa arung jeram, survey darat itu mempelajari karakteristik sungai dari darat.

“Lalu apa yang dipelajari?”

Pertama, mempelajari debit air di setiap titik sungai. Apakah memungkinkan perahu untuk hadir di situ? Berdasar informasi dari tim pengarung yang lain, Bogowonto telah diarungi di bagian bawah sepanjang 12 karvak dari bendungan desa Panungkulan hingga Tambak di kota Purworejo. Pengarungan itu dilalui dalam TMA 30 ke atas yang tercatat di bendungan desa Panungkulan. Dari informasi tersebut, kami simpulkan, desa Panungkulan menjadi titik awal survey. Apa maksudnya? Kami akan mempelajari karakteristik sungai lebih ke atas, naik ke arah utara, di mana titik-titik sungai itu belum dilalui oleh manusia berperahu karet.

“Bagaimana mempelajari karakteristik sungai Bogowonto atas?”

Kami membuka peta besar sungai Bogowonto. Terdapat perbedaan mendasar dari demografi wilayah di Bogowonto atas dan Bogowonto bawah. Sungai Bogowonto bawah dibatasi oleh perkampungan di kiri-kanannya, ada sebuah saluran irigasi yang memanjang mengikuti alur sungai. Yaitu sungai Kedung Putri yang mempunyai fungsi utama sebagai irigasi. Sebuah jalan makadam memanjang dari desa Panungkulan hingga Maron mengikuti saluran irigasi ini. Lalu apa artinya? Ya, sungai Bogowonto bawah dapat dicapai dengan mudah dari jalan raya Wonosobo-Purworejo ataupun Magelang Purworejo.

“Lalu kenapa dalam survey darat ini kami harus memperhatikan jalur sirkulasi?”

Jalur sirkulasi atau jalan itu penting. Di sini kami akan memanfaatkan jalan kampung ataupun makadam sebagai jalur untuk membawa perahu dari jalan raya ke bibir sungai. Sebagai jalur rescue juga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ataupun jalur bagi tim darat untuk mengambil fotografi pengarungan. Dan untuk Bogowonto bawah kami tidak mengalami masalah, karena puluhan ruas jalan tersedia di situ. Jika ada kampung, tentu saja ada jalan bukan.

Yang menjadi masalah adalah bahwa ruas sungai di atas desa Panungkulan adalah ruas sungai yang panjang dan tak ada perkampungan di kiri kanannya. Itu di Bogowonto atas.

Di atas desa Panungkulan (1 karvak ke utara) adalah desa Guntur, di mana ada sebuah bendungan besar dan itulah bendungan paling atas yang dibangun di sungai Bogowonto. Kami menganggap bendungan inilah yang akan menjadi batas antara Bogowonto atas dan Bogowonto bawah. Batas antara pengarungan beresiko tinggi dan pengarungan beresiko sedang. Desa Guntur adalah perkampungan terakhir, 8 karvak ruas sungai di atas desa Guntur adalah ruas sungai yang benar-benar alami. Tak ada perkampungan di kanan kiri sungai. Kalaupun ada manusia, tentunya mereka adalah petani yang sedang bercocok tanam di ladang. Pinggiran sungai Bogowonto atas didominasi oleh hutan, ladang, tebing dan beberapa buah curug (air terjun). Saya sendiri cukup takjub, tak ada pemandangan seperti ini di sungai Progo maupun Elo. Hanya di luar Jawa, tempat di mana sungai-sungai masih alami.

“Bagaimana kami mencari titik-titik sungai yang bergradien hingga mencapai ujung paling atas di mana perahu karet sudah benar-benar tak dapat hadir di situ?”

Pemberhentian pertama survey darat Bogowonto atas adalah desa Burat, 4 karvak di atas desa Guntur. Perkampungan desa Burat masih jauh dari bibir sungai. Kami memarkir motor di ujung jalan tanah jauh dari desa dan berjalan kaki melewati setapak sempit hutan bambu dan “galengan” ladang sejauh hampir 40 menit. Berujung kepada sebuah gubug di mana pemandangan sekitar sangat luas. Di seberang sungai, 2 curug besar tampak begitu menggoda, sementara di kiri kanan gubug sawah hijau membentang. Dan dengarlah, tepat di depan terlihat gemuruh air sungai Bogowonto. Sangat deras, dengan hanya mendengarnya saja kami bisa menyimpulkan bahwa di titik ini sungai Bogowonto pantas untuk diarungi.

Lalu kami mencari pemberhentian berikutnya.

Kami membuka peta lebih ke atas. Benar-benar medan yang tak mendukung, hanya persawahan dan hutan di tepian barat Bogwonto atas. Kami tak ingin berjalan kaki melewati “galengan” ladang yang sempit. Nurul mempunyai masalah jika harus berjalan kaki di tempat-tempat yang becek. Berani bertaruh, dia akan jatuh 3 kali di setiap tempat yang disurvey. Dan jatuh berarti harus rela ditertawai.

Perkampungan di tepian sungai masih berada jauh di utara, 5 karvak lagi. Di situ kami telah melintasi kota lain, yaitu Wonosobo.

bersambung

menuju Bogowonto Raft
April-Mei 2011

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha