Merapi guide, Sekolah Bahasa Realia Jogyakarta, 30-31 Januari 2010

 

Bagi kami, Merapi adalah taman bermain dan sekolah alam. Namun bagi para klien yang saat ini sedang terlelap di dalam tenda, memandang Merapi adalah memandang cantiknya Indonesia dari atas ketinggian. Hmm, mungkin suatu saat saya akan menghadirkan sebuah konsep sekolah alam dalam proyek guiding pendakian gunung Merapi. Namun saat ini, cukup untuk membuat klien tersenyum dan pulang kembali dengan “jiwa” yang dibawa turun dari Garuda sudah cukup ideal bagi diri saya.

 

Sekarang saatnya menyerang puncak bagi mereka.

 

Langit memerah di balik bukit gunung Anyar (salah satu anak gunung Merapi), di mana terpatri peralatan seismografi di puncakannya. Beberapa gelas kopi panas cukuplah untuk membangunkan mereka selepas Shubuh ini. Yang beberapa saat lalu lelap memenuhi tenda berkapasitas 4 orang ini, bahkan kaki si jangkung pun tak muat untuk masuk ke dalam tenda. Sebuah pemandangan yang begitu menggelikan, nampaknya saya harus berpikir ulang untuk mempunyai sebuah tenda yang khusus dipakai oleh pria dengan tinggi di atas 200 cm. :p

 

Pria-pria tampan ini telah siap, beberapa instruksi datang dari saya untuk mereka.

“First, follow me guys and be careful with your step, many rocks are fragile. And many rocks fall here.”

Dan mereka hanya mengangguk tanpa membalas penjelasan saya, seolah-olah hal itu sudah biasa dialami oleh mereka di gunung-gunung salju yang telah mereka daki. Dan pikir saya,

“Bukankah resiko yang mereka hadapi di gunung salju lebih tinggi daripada resiko yang dihadapi di volcano-volcano Indonesia?”

Tapi saya kembali berpikir seolah-olah untuk mengembalikan rasa percaya diri saya.

“Di sini Merapi, dan yang ada di depan Anda bukan salju, tetapi batu!”

Sebuah pembelaan diri yang menggelikan. :p

 

Purnama mulai jatuh ke barat dengan lingkaran halo di sekelilingnya. Cahaya malam hari pun mulai meredup. Kami mulai menyalakan headlamp kembali. Saya berjalan di depan, diikuti para klien yang berjalan menjaga jarak dengan rekannya. Mulai meninggalkan tenda yang sekarang dijaga sendirian oleh porter.

Cahaya dari perkemahan lambat laun mengecil, lalu kerlap-kerlip lampu pedesaan mulai terlihat jelas menguning. Sementara gemintang cahya bak permata di kejauhan menandakan bahwa kehidupan modern hadir di sana. Kota-kota seperti Salatiga, Boyolali dan Surakarta menyusun suatu blok cahayanya masing-masing di timur. Sementara di barat, tampak cahaya yang menggaris hingga menuju suatu blok yang lebar. Blok yang lebar itu pastilah kota Magelang, sedangkan cahaya yang menggaris itu adalah jalan raya Jogja-Magelang. Sementara gunung Merbabu setia berdiri di utara untuk menemani pasangannya ini. Di barat laut tampak juga berpasangan gunung Sumbing-Sindoro yang masih tenggelam dalam lautan awan keperakan. Menunggu sang timur datang untuk menyibak awan itu.

 

Tak begitu sulit bagi mereka untuk melangkah demi langkah menuju titik yang lebih tinggi. Sesekali berhenti untuk mengabadikan momen-momen indah dari arah timur di mana semburat merah mulai melukis gambar langit. Sempat takjub juga ketika melihat asap yang tak henti-hentinya keluar dari bebatuan di atas. Lalu mencoba iseng untuk memasukkan jemari ke lobang tempat keluarnya asap, tentu saja setelah itu suara mengaduh terdengar karena memang cukup panas untuk menyengat permukaan kulit yang dingin ini. Saya jelaskan, bahwa inilah asap solfatara, salah satu daya tarik yang membuat Merapi selalu dikunjungi.

 

dipanggang sunrise

Lepas 45 menit berjalan, kami telah mencapai kawasan puncak Merapi. Kawah mati di depan kami, tepat ketika sang timur mulai mengeluarkan satu per satu semburat sinar merahnya. Asap solfatara yang tipis membuat suasana menjadi dramatis. Sebuah gambar yang tak mungkin bisa didapat di gunung salju, mungkin begitu pikir si bule yang mengabadikan panoramanya secara acak dengan DSLR-nya. 5 menit kemudian telah memasuki pelataran Garuda, tampak di situ bekas batu Garuda yang kadang penuh dengan asap solfatara, untuk kemudian tersibak lagi oleh angin.

takjub melihat solfatara

Sekali lagi, membuat klien “tersenyum” adalah yang paling utama. Ya, maka saya mempersilakan mereka untuk menjelajahi seluruh pelataran Garuda. Dari memanjat batu Garuda, hingga mengabadikan momen dramatis di kubah lava baru, terserah kamera menuntun langkah Anda. :)

Garuda menjadi magnet bagi banyak orang, itu benar. Ada kubah lava baru yanhg tercipta selepas letusan 2006 yang permukaannya lebih tinggi dari batu Garuda dan menambah dramatis suasana pelataran Garuda. Tentu saja dengan aroma asap dan tebalnya solfatara. Kubah lava baru memenuhi seluruh permukaan kawah aktif gunung Merapi dan menghasilkan lahar panas mewujud lahar dingin ketika turun melalui kali Gendol di selatan maupun kali Krasak di barat. Tak ada aliran lahar dingin ke utara, dan itulah yang menyebabkan jalur pendakian sisi utara aman untuk didaki. Sementara jalur selatan telah hancur selepas letusan 2006, dan mencapai Garuda dari sisi selatan mungkin akan menjadi sebuah kegilaan yang luar biasa saat ini.

 

Apa yang saya nikmati di pelataran Garuda tentu saja berbeda jauh dengan apa yang telah klien saya nikmati. Bagi mereka, tentu saja hadir di sebuah pagi di pelataran Garuda adalah salah satu kegembiraan mereka menatap pesona Indonesia dari atas ketinggian. Kepuasan yang akan mereka ceritakan kepada keluarga mereka di rumah. Dan bagi saya, kenikmatan pribadi adalah saat melihat seorang klien “tersenyum”. Dan sekali lagi, sudah cukup senang bagi diri saya jika mereka menceritakan kepada teman-teman di negaranya bahwa Indonesia tak hanya Bali, Indonesia adalah Jogja juga dan tentu saja Indonesia adalah Merapi juga. :)

Mendaki Merapi berpuluh-puluh kali memang sebuah hal yang membosankan, dan mungkin seorang guide seperti saya butuh liburan. Dan bagaimana saya meliburkan diri, seperti apa yang telah Anda baca dalam 3 episode tulisan ini. Itulah “liburan” saya.

 

Matur nuwun, mesem ae wess saking Jogja :)

 

Garuda, cloudy

~ demi cantigi dan edelweiss di lembahan ibunda Merapi

Tamat

 

~ jarody hestu

 

dari kertas-kertas dengan bercak coklat ketika Merapi guide “Realia Jogjakarta” 30-31 Januari 2010

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha