Merapi guide, Sekolah Bahasa Realia Jogyakarta, 30-31 Januari 2010

Januari, ketika matahari mulai bergeser dari selatan ke arah equator (utara). Yang menyebabkan senja selalu datang terlambat, dengarlah suara azan Maghrib yang berkumandang selepas jam 6 sore ini. Ada penghujan yang menyebabkan Anaphalis javanica enggan untuk berbunga di lembahan Merapi. Sebut saja dia sang edel yang manja di bulan ke-lima pertanda dia siap untuk berkembang menjelang kemarau.

Dan Januari, ini salah satu sebab tentang kenapa saya menyambut pendakian ini dengan sumringah.:)

30 Januari, akhir pekan yang ramai senyap di dusun Plalangan. Seperti biasa, rumah Pak Min selalu dikunjungi rombongan pendaki yang akan menikmati Merapi sunrise di hari Minggu. Mereka yang mendaki dengan setelan distro anak muda jaman sekarang, ataupun mereka yang sadar diri dengan jaket berbahan polar dan raincoat melindunginya. Maklumlah, Januari yang hujan ini tak dapat ditebak. Kadang rintik, lalu cerah, lalu rintik lagi.

Tak ada rasa aneh bagi rombongan pendaki lain melihat para pria jangkung bersetelan ala pendaki modern ini. Pemandangan seperti ini selalu terjadi hampir tiap harinya. Merapi selalu menjadi salah satu kunjungan utama wisatawan asing yang menyesatkan diri di aroma Jogjakarta. Dan Merapi selalu “berkata” welcome ataupun bienvenidos teruntuk mereka.

Sebenarnya agak sungkan juga terhadap Pak Min bahwa saya tidak memakai jasa putranya untuk menjadi porter (biasanya saya menggunakan jasa putranya untuk menjadi porter), dan memilih untuk membawa porter dari Jogja. Namun, hubungan kami telah tercipta dengan baik, begitupun juga dengan para penduduk dusun, dan beliau tidak berkeberatan dengan hal tersebut. Satu hal yang harus dipegang oleh seorang guide Merapi, hubungan kekerabatan dengan penduduk lereng Merapi adalah sesuatu yang harus dijalin dengan erat.

Seperti biasa saya selalu memulai perjalanan di atas jam 11 malam, untuk kemudian mendirikan camp di Pasar Bubrah sebelum jam 2 pagi. Di sini para klien akan beristirahat hingga waktu untuk summit attack telah tiba, yaitu menjelang jam 5 pagi. Sangat berbeda dengan metode guiding tradisional yang dipertahankan guide-guide di kawasan Malioboro. Yaitu, memulai pendakian jam 1 pagi dari basecamp hingga mencapai puncak pada saat menjelang sunrise, tanpa membangun camp dan tanpa memasak sarapan di Pasar Bubrah. Tentu saja konsekuensinya adalah bahwa saya harus selalu membawa porter untuk Merapi guide ini.

Ada yang hangat di pendakian kali ini, ya..bulan yang hampir purnama berdian manja. Menciptakan siluet bagi jepretan kamera yang memangsa objek-objek malam hari. Kadang tertutup garis-garis tipis awan seperti laron yang mengelilingi lampu desa, lalu memekar bundar kembali menciptakan bayangan di tanah merah hutan Merapi ini. Tak heran bahwa malam ini sangat cerah, jauh di luar perkiraan saya bahwa rintik air akan selalu hadir. Mungkin karena awan telah menghabiskan sisa-sisa airnya sore tadi, hingga tak ada sisa air yang jatuh pada malam hari. Hanya mencipta uap-uap air yang mewujud halimun yang menemaramkan lampu-lampu pedesaan.

Seorang klien akan selalu bertanya, apalagi seorang pendaki asing, lelah tak membuat mereka diam membisu. Justru dengan berbicara, mereka akan melupakan lelahnya. Dan begitulah, di sini saya harus aktif berdialog dengan mereka. Tak perlu dengan kemampuan grammar tingkat tinggi untuk menciptakan dialog, bahwa dari dulu saya hanya berbekal vocabulary, itu sudah lebih dari cukup untuk menciptakan dialog. Toh, suatu saat saya yakin bahwa saya mampu berdialog dengan baik dengan orang asing. Tak perlu sekolah untuk itu, saya hanya butuh bergaul dan sering-sering berbicara dengan mereka.

Tak perlu heran bahwa kami sama sekali tidak menggunakan senter maupun headlamp malam ini. Dian alami dari atas cukup untuk dapat membedakan yang mana batu dan yang mana lobang. Sinar keperakan dari atas tampak semakin silau saat pendakian mulai memasuki punggungan cantigi selama 1 jam terakhir menjelang camp. Sudah tak ada hutan, dan pandangan ke bawah semakin luas, solfatara di atas pun tampak membumbung mengikuti angin. Sementara batu-batu besar memantulkan cahaya membuat embun-embun yang membasahi permukaannya berkilauan. Namun sayang, vandalisme merusak segarnya. Dart the dutsch man yang selalu berjalan di belakang saya pun berkata sebal,

“Bad graffiti, bad boy.” lalu berjalan dengan tak acuh melompati batu tersebut.

kelap kelip gulintang

Lepas pukul 1 pagi ketika kami berdiri di in memoriam, di depan terhampar lembahan Pasar Bubrah yang akan menjadi tempat camp pagi ini. Dian-dian bercahya di lembahan, pertanda bahwa banyak rombongan lain yang telah mendirikan camp di situ. sementara di belakang, siluet gunung Merbabu bagaikan kerucut yang tertelungkup di lautan awan keperakan. Dan di atas, barisan titik bercahaya membentuk rasinya. Angin bersahabat saat itu, hanya cukup untuk membuat pohon cantigi bergoyang pelan.

Saya petik beberapa lembar daun cantigi di sekitar in memoriam, dan menempatkannya di setiap keramik dingin bertuliskan nama-nama orang yang telah meninggal tersebut. Ini hanya sebuah kebiasaan dan seringkali para klien mengikuti hal tersebut.

Begitulah, di lembahan Pasar Bubrah ini, kami bangun rumah sederhana berpagar batu dan cantigi. Bercengkerama ditemani bau sigaret dan bersahabatnya aroma kopi. Siluet Merapi masih terjaga di selatan, saya harap kabut tak datang terlalu cepat esok pagi.

Dan lihatlah, scorpio merangkai gambarnya menjelang Shubuh ini. Saya yang telentang menatap langit pun sumringah, :)

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha