Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

Hanya segelintir epilog dari perjalanan panjang ini. Kami disambut para porter di Plawangan Sembalun dengan breakfast roti bakar dan bubur ayam sembari menikmati beberapa sisa cemilan yang ada. Beberapa gelas capuccino dan teh hangat pun terhidang untuk mereka. Ya, seluruh logistik harus dihabiskan di sini karena saya harus menuruti keinginan mereka untuk kembali turun ke desa Sembalun hari ini juga. Rencana semula adalah kami akan turun ke Segara Anak lalu naik lagi menuju Plawangan Senaru untuk mendirikan camp selama semalam lagi di situ.

Perjalanan turun adalah perjalanan yang cukup sabar, tampaknya Zach agak mengalami sedikit gangguan pada kakinya sehingga kami harus berjalan sabar dan agak membiasakan diri untuk lebih sering berhenti. Tak ada hujan dalam perjalanan turun ke Sembalun ini, untunglah. Di pos 3 kami berhenti cukup lama untuk beristirahat, bertemu dengan beberapa rombongan lain, hampr semuanya bule yang akan mencapai puncak Rinjani keesokan paginya. Ada sesuatu yang menarik perhatian bagi saya. Ada suami istri dari Denmark yang membawa 3 orang anak-anaknya yang masih kecil dalam pendakian, saya kira belum ada 10 tahun usia mereka. Benar-benar model pendakian yang patut untuk ditiru, mengajarkan anak untuk bertemu dengan alam bebas.

Perjalanan turun melewati savana adalah sesuatu yang membutuhkan kesabaran. Ya, memang savana ini terlihat lebih panjang jika dibandingkan ketika naik kemarin. Di sini Zach sudah terlihat normal jalannya, hingga mencapai pos 2 kami beristirahat kembali untuk lunch. Logistik tersisa adalah beberapa bungkus noodles dan kami menghabiskannya di sini.

Saya mencari sinyal di sini, mencoba menghubungi driver yang akan menjemput kami pulang dari Sembalun ke Mataram. Posisi dia sekarang di Mataram dan membutuhkan perjalanan 3 jam untuk mencapai Sembalun. Untuk itulah saya telepon dari sekarang agar dia bisa mencapai Sembalun 3 jam lagi, tepat ketika kami mengakhiri seluruh perjalanan selepas Maghrib nanti.

letusan senja dari Sembalun

Kami mencapai basecamp sembalun hampir pukul 7 malam. Semua datang dalam kondisi yang lelah namun terpuaskan. Apalagi beberapa jam yang lalu Rinjani meletus dan kami mendapatkan view yang sangat bagus untuk membingkainya. Kini saatnya untuk pulang, driver akan mengantar kami semua menuju hotel di Senggigi. Sementara saya akan kembali menginap di rumah teman saya.

Kami lebih banyak tidur di mobil yang menyusuri pantai barat Lombok. Keluarga Zach telah menunggu di hotel, sepanjang perjalanan di savana hingga Sembalun tadi saya menerima beberapa SMS dari istrinya. Dia tampaknya terlalu mengkhawatirkan keadaan suaminya mengingat beberapa hari ini Lombok diguyur hujan deras.

Kami telah sampai di hotel Puri Bunga di Senggigi. Di sini kami berpisah, Zach dan keluarga beserta Jim dan Rebecca mungkin akan melanjutkan trip ke Gili Trawangan esok pagi. Sementara saya akan berada di Mataram selama 1 malam terlebih dahulu sebelum pulang ke Jogja.

Saya menghabiskan sepanjang malam setelah pendakian untuk menonton final Liga Champions antara Inter-Muenchen. Teman baru saya ini yang mengajak sebelum menghabiskan malam selepas Shubuh dengan tidur hingga siang hari. Tak ada lagi yang saya kerjakan di sini, hanya membeli beberapa potong kaos Lombok untuk oleh-oleh. Saya harus pulang ke Jogja, kali ini Merapi yang memanggil saya.

Selepas perjalanan mewah mendaki Rinjani, sekarang saya harus pulang lagi ke Jogja dengan cara yang sederhana. Hanya menjadi backpacker dengan berpindah-pindah angkutan. Sempat tertidur di terminal Ubung, Denpasar sambil menunggu bis yang akan mengantar saya menuju Gilimanuk. Tidur di bus yang sangat sepi yang saya naiki dengan penawaran harga yang serendah-rendahnya. Tidur di kapal feri sambil merangkul 2 buah tas yang saya bawa, maklumlah saya hanya sendirian. Lalu menunggu kereta pagi dari stasiun Banyuwangi yang akan menuju Jogja, hampir 3 jam saya tidur-tiduran dinihari itu di stasiun.

Saya kembali menuju Jogja dengan kereta api ekonomi. menikmati gunung-gunung yang saya lewati dari balik jendela. Dan tentu saja tak lepas dari pandangan sebuah daerah bernama Glenmore yang telah masuk di hati saya beberapa tahun ini. Gunung Raung seperti perahu yang tertelungkup menjadi backgroundnya. Saya pernah mengalami romantismenya, pendakian terpenting dalam hidup saya.

Saya tiba di stasiun Lempuyangan Jogja pada hari Senin, 24 Mei 2010 pukul 9 malam. Seminggu sudah menjalani perjalanan guiding yang pertama di luar pulau Jawa. Dan Merapi kembali memanggil saya, di akhir pekan ketika purnama Mei, saya kembali akan menjadi guide Merapi bagi beberapa orang Malaysia.

Terina kasih Rinjani, terima kasih Lombok, thanks to Zachary Knight, Jim Steele and Rebecca Leija, keep the spirit of Anjani. Terima kasih teruntuk Nuril Hidayat, teman baru saya di Lombok, semoga terhibur dengan rubik pemberian saya. Terima kasih teruntuk Didi dan kawan-kawan porter Sembalun, untuk obrolan hangatnya di dingin Plawangan Sembalun. Terima kasih untuk Faisal sebagai ranger Sembalun. Terima kasih pak Hambali sang driver yang telah bolak-balik Mataram-Sembalun untuk menjemput kami. Terima kasih untuk teman-teman baru yang saya kenal di Lombok. Terima kasih teruntuk teman-teman baru yang saya kenal selama perjalanan backpacker dari Jogja hingga Lombok yang saya mungkin telah lupa namanya. Dan untuk teman-teman Satu Bumi di Lembah Code, terima kasih, dari tempat inilah segala hal-hal indah tercipta.

Terima kasih untuk teman-teman milis, multiply, facebook yang telah luangkan waktu membaca beberapa episode carut marut yang sederhana ini. Tetap berkarya dan “berjalan kaki”. Mari menikmati dunia entah jauh di sana. “This place is too small” :)

terima kasih Rinjani

~ gunung mempertemukan kita semua

Selesai.

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha