Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

Summit attack di Rinjani bukan sesuatu yang mudah untuk dijelaskan. Zach sering menanyakannya pada saya, mana yang lebih sulit antara Rinjani atau Semeru. Dan saya hanya menjelaskan dengan sederhana, bahwa Semeru memang lebih sulit namun Rinjani lebih panjang dan membutuhkan kesabaran.

Dan begitulah, sunrise hampir muncul di kejauhan timur sana dan kesabaran adalah sesuatu yang pantas untuk dipegang erat sebelum mencapai puncak Rinjani. Memang trek berpasir dan berkerikil membuat tapak kaki tak leluasa untuk berpijak. Kita melangkah ke depan sejauh 3 langkah lalu tiba-tiba melorot ke bawah sejauh 1 langkah. Begitulah, hanya hawa udara pagi yang menyejukkan membuat kita merasa nyaman untuk beristirahat lama-lama. Itu bagi mereka, namun tidak bagi saya. Tuntutan agar sore ini rombongan mampu mencapai Plawangan Senaru untuk camp di sana membuat saya harus melangkah lebih cepat dan menyemangati para bule (namun rencana ini dibatalkan karena mereka memilih untuk turun lagi ke desa Sembalun). Semakin cepat sampai puncak dan semakin cepat turun menuju Plawangan Sembalun, itu lebih baik bagi kami.

Lepas sunrise, dan beberapa tim di depan kami sudah mencapai puncak. Sebagian besar di antaranya bahkan sudah turun dan berpapasan dengan kami. Zach yang paling bersemangat karena dia berjalan di depan sendiri, sementara saya terus menunggu dan menyemangati Rebecca agar berjalan lebih cepat.

Melihat mereka tersenyum puas, begitulah keinginan saya seperti halnya apa yang saya lakukan setiap kali mengantar orang untuk mendaki gunung. Bahkan sepertinya sudah melupakan tentang apa itu arti “indah”. Mungkin dengan melihat mereka bersorak kegirangan itulah di mana saya boleh menikmati perasaan takjub akan keindahan itu. Perasaan yang akan saya sembunyikan jikalau mereka tak akan puas.

Sabtu, 22 Mei 2010 hampir pukul 7 pagi, akhirnya rombongan berhasil mencapai puncak Rinjani. Rombongan terakhir dari beberapa rombongan yang berangkat dinihari tadi dari Plawangan Sembalun. Zachary, seperti biasanya saat mencapai puncak-puncak volcano, dia hanya duduk melemaskan diri tak ingin berdiri lalu bersikap kegirangan. Hanya bersikap sederhana saja. Mengungkapkan perasaan puasnya dengan cara lain, lalu memberikan saya kamera agar saya membingkai seluruh gambar yang tercipta dari puncak Rinjani ini. Jim dan Rebecca juga melampiaskan kepuasan dengan cara yang biasa, saling berpelukan dan menyungging senyum. Ya, saya menyukai orang-orang seperti ini, mereka yang tak larut dalam kesenangan yang berlebihan ketika menapaki puncak-puncak gunung.

Jim Steele

Rebecca Leija

Saya mengeluarkan 4 butir apel yang kami makan bersama-sama, beberapa batang coklat dan sebotol air mineral. Lalu kembali berkutat dengan kamera mengambil view-view menarik ke bawah, ke arah Segara Anak. Begitu pula Jim dan Rebecca, hanya Zach saja yang masih saja duduk menikmati apel. Dia menikmati puncak dengan cara yang sangat berbeda dengan orang lain, saya sudah lama mengenalnya. :)

Tak ingin terlalu lama di atas, dingin membuat saya ingin cepat-cepat beranjak dari puncak. Tak sabar rasanya untuk menikmati breakfast di Plawangan Sembalun hasil racikan para porter yang setia melayani kami. Saya mengajak mereka turun selepas saling bersalaman untuk mengucapkan selamat. Terima kasih Anjani.

Congrats Zac and friends :)

Dari Anjani, ikan-ikan di Segara Anak tentulah sesuatu yang hidup dari kabut. Yang lalu mewujud gerimis basahi lembahan hingga menjadi kali-kali kecil turun ke damainya segara. Menikmati hidangan dari apa yang berenang di damainya segara, tentu saja menjadi sebuah perwujudan bahwa kita ini kecil di luasnya hamparan Rinjani.

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha