Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

Seketika suara menggelegar datang dari udara. Lalu entah apakah ini sebuah sugesti, tanah di Plawangan Sembalun ini seperti bergetar. Begitulah, letusan Barujari datang setiap 5-6 jam sekali. Dan saya berharap ketika kami berjalan di atas Segara Anak dini hari nanti, Barujari akan mengeluarkan letusannya. Sebelumnya tak pernah menduga bahwa apa yang akan saya lihat nanti di atas adalah sesuatu yang lebih dramatis yang baru pertama kali saya lihat oleh penglihatan saya sendiri.

Saya beralih ke dalam tenda selepas bercengkerama dengan para porter di bivak porter. Saya tidur satu tenda dengan Zach, sementara Jim dan Rebecca tidur di tenda sebelah. Sementara di luar agak berkabut, mungkin sebentar lagi gerimis. Kami harus memulai perjalanan menuju puncak pukul 3 dini hari nanti, alarm HP pun saya nyalakan agar berdering pukul 2 nanti.

Gerimis malam itu, lalu cerah dan gerimis lagi bersahut-sahutan. Bukan alarm HP yang membangunkan saya, tapi suara Didi, si porter yang muda masuk ke dalam tenda dan bangunkan saya. Para bule masih tidur, sementara saya sibuk menge-pack seluruh perbekalan dan perlengkapan yang akan saya bawa menuju puncak. Sementara para porter sibuk memanasi air untuk menghidangkan teh hangat bagi para bule. Mereka akan tetap berada di sini, menjaga tenda dari serangan kerajaan monyet Plawangan Sembalun. Kami berada pada rombongan terakhir yang akan melakukan summit atack. Kilatan-kilatan cahaya di atas sudah sedemikian banyaknya, sementara rombongan kami masih berusaha beradaptasi dengan dingin yang sudah mencapai puncaknya. Segelas teh hangat cukup sebelum memulai langkah meninggalkan camp.

Hampir pukul 3 pagi ketika saya memimpin rombongan menuju ke puncak. Kilatan cahaya rombongan di depan kami sudah cukup jauh, dan saya pikir tak akan terkejar hingga puncak. Para bule hanya membawa perlengkapan yang menempel di tubuh saja, sementara daypack saya penuh oleh air, logistik, P3K, beberapa buah ponco dan perlengkapan lainnya.

Menuju igir-igir punggungan di atas Segara Anak mungkin menjadi perjalanan yang membosankan bagi para bule. Hanya gemintang pemandangan di bawah yang dapat menyejukkan suasana ketika beristirahat. Karakter trek yang berpasir dan berkerikil membuat tapakan kaki sering melorot ke bawah. Saya harus menjaga agar tak terlalu jauh jaraknya dengan mereka, tak seperti ketika siang hari tadi di hutan. Lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai igir-igir punggungan dari tempat camp tadi.

Barujari terlihat temaram, begitu pula danau Segara Anak, masih biasa-biasa saja. Kami memulai perjalanan menyusuri igir-igir, sementara puncak Rinjani terlihat begitu jauhnya. Pandangan seorang pendaki akan luas di sini, dapat menjangkau garis pantai di timur sana, sementara garis pantai di barat masih tertutup puncakan-puncakan di barat. Dan langit di timur bersiap untuk memerah, memulai episode di hari yang baru ini.

Sepertinya tanah yang kami pijak sedikit bergoyang, ataukah sebagai efek suara menggelegar yang timbul dari danau. Benar saja, puncakan kecil di tengah danau itu mengeluarkan asapnya, puncakan Barujari. Bukan, bukan sekedar asap, itu sebuah letusan. Letusan yang makin lama makin besar membumbung tinggi menuju langit. Seperti cendawan raksasa. Dan alangkah tingginya letusan itu, mungkin menyamai tinggi puncak Rinjani. Tak hanya para bule yang merasa takjub, saya sendiri merasa takjub. Saya sering melihat letusan Merapi yang dahsyat, tapi itu dari kejauhan, dan sekarang saya memandang letusan Barujari tepat di depan penglihatan sendiri. Seperti melihat letusan Mahameru dari puncaknya mungkin, tapi ini lebih besar.

Hampir pukul 5 ketika Barujari meletus, masih gelap. Kamera kami tak mampu menjangkau untuk mengambil gambarnya, terlalu gelap. Namun ada sesuatu yang dapat dijangkau, sesuatu yang lebih mirip sebagai benda yang sangat terang di tengah kegelapan. Inilah yang saya maksud sebagai sesuatu yang pertama kali saya lihat di atas gunung, …lava merah. Mungkin tak terlihat sebagai sesuatu yang merah jika letusannya kami lihat siang hari. Namun kali ini sungguh beruntung karena letusan Barujari terjadi selepas Shubuh, masih gelap di atas Segara Anak ini. Dan warna merah di atas Barujari ini sungguh jelas terlihat. Seperti bercak-bercak noda di kegelapan, lalu ada sebuah bercak yang mengalir ke bawah menuju danau. Ya, saya juga pernah melihat lava merah di Merapi, tapi itu terlihat dari kejauhan.

Kata si Jim, ini lebih mirip dengan Mauna Kea di Hawaii. Lalu saya balas, bahwa di Mauna Kea, lava merah akan terlihat setiap hari sementara di sini kita termasuk orang yang sangat beruntung karena berhasil melihatnya. Dan dia pun sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan momen yang jarang terjadi ini.

Kita mendaki volcano, melihatnya dari atas ketinggian. lalu turun tetap ke bawah. Ya, “setiap yang di atas harus tetap turun ke bawah”.

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha