Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

Dinner resto yang begitu romantis. di atas ketinggian 3000 meter dpl dengan bulan separuh purnama berdian di atas. Mewujud pandangan jauh ke depan, ke arah Segara Anak. Segala hidangan barbeque pun hadir di sini. Hasil racikan pria-pria sederhana yang sepanjang hari ini memikul beban 30 kilo dari Sembalun hingga Plawangan.

Lebih mewah dari lunch di pos 3 tadi. Beberapa rombongan pendaki menyajikan berbagai menu seperti ayam, ikan dengan sayur-sayuran beserta lalapan nanas. Sementara rombongan kami sendiri hanya menyajikan noodles dan minuman hangat beserta roti. Ya, cukup menghabiskan waktu untuk memasak nasi. Dan sepertinya lebih nyaman untuk menyajikan hidangan yang lebih enak di Plawangan Sembalun nanti.

Gerimis mulai datang di pos 3, porter kami yang membawa pikulan datang agak terlambat. Yang menyebabkan para bule harus menunggu hampir 15 menit untuk menikmati lunch. Sementara rombongan yang lain sedang lahap menikmati makan siangnya. Memang di sinilah tempat yang biasanya digunakan untuk istirahat makan siang dalam trip pendakian gunung Rinjani. Berada tepat di tengah-tengah perjalanan sebelum mencapai Plawangan. Dan mata air dari sungai yang mengalir akan selalu menunjang peran pos 3 sebagai rest area. Beberapa monyet akan menjadi teman yang menyenangkan di sini, pun kadang-kadang terasa sangat menyebalkan karena kesukaannya mencuri logistik pendaki.

menuju bukit Plawangan (courtesy of Jim Steele)

Hampir 40 menit menikmati lunch di pos 3 sebelum melanjutkan pendakian menuju Plawangan Sembalun. Jalur selalu menanjak selepas ini, tak lagi melewati savana yang landai. Vegetasi cemara menjadi kanopi yang menutupi pandangan ke arah langit. Di sinilah si Zach mulai kerepotan dalam mendaki, beberapa kali mendudukkan diri ke tanah rumput untuk beristirahat. Apalagi gerimis makin ke atas makin bertambah deras, hingga jalan setapak pun berubah menjadi selokan air.

Kami berjalan dengan basah berbalut rain coat ataupun ponco sekarang. Tak lagi berjalan secepat di savana yang landai tadi. Hujan kadang merintik namun kadang menjadi deras di beberapa titik. Pohon-pohon cemara yang besar setidaknya cukup mengurangi beban rintikan air dari atas. Hanya para porter yang berjalan konstan. Didi, porter yang paling muda yang tertinggal jauh di savana tadi kini sudah agak baik keadaannya. Dia berjalan tanpa mengenakan alas kaki sepanjang savana tadi karena sandalnya putus. Dan di pos 3 tadi saya pinjamkan sepasang sandal gunung agar dipakai olehnya.

Jim berjalan mendampingi Rebecca. Mereka masih mantap berjalan dengan sepasang stick pole-nya. Mungkin juga merasa terhibur dengan air hujan, karena sepertinya mereka lebih akrab dengan salju ketika mendaki gunung-gunung di Amerika Utara.

Hampir pukul 3 sore ketika kami sudah mencapai puncakan punggungan Plawangan. Sekitar 15 menit lagi perjalanan ke depan adalah camp Plawangan Sembalun. Hujan sudah berhenti, berganti kabut tebal yang menyebabkan Segara Anak tertutup dari pandangan. Edelweisz belum berkembang dengan sempurna bulan ini. Ada beberapa pohon yang berkembang dan ada pula yang masih menunggu kemarau untuk berkembang.

Si Zach tampaknya sudah mulai kepayahan dan ingin sesegera mungkin mencapai camp.
Almost there Zach.” teriak saya menyemangatinya.

disambut para monyet di Plawangan Sembalun (courtesy of Jim Steele)

Plawangan Sembalun sore ini, lebih dari 10 tenda berdiri di tempat camp. Dan sebagian besar di antaranya telah berdiri di tempat favorit untuk camp. Kami hanya kebagian tempat tepat di punggungan namun terlindung dinding di samping. Tenda kami sudah berdiri ketika kami mencapai camp, tampaknya para porter langsung membangun tenda begitu mencapai tempat ini.
Change your wet clothes guys.” ujar saya begitu tenda telah siap untuk dihuni.
Sementara saya sendiri langsung sibuk dengan peralatan masak untuk menyajikan air hangat.

Bivak untuk porter tertutup oleh dinding di sampingnya, dan seketika itu juga disulap menjadi dapur pendaki. Porter kami bergabung dengan porter rombongan lain. Saya sendiri lebih banyak berkutat di situ untuk memasak. Hampir senja ketika kami mulai memasak menu untuk dinner saat ini. Kabut yang menutupi pandangan ke arah Segara Anak kadang tersibak. Dan seketika itu pula saya meninggalkan bivak porter untuk membingkai gambarnya. Namun sunset tak akan terlihat karena langit di barat ternyata sangat berkabut.

Para porter memasak menggunakan bara api, sesuatu yang tak akrab bagi saya. Karena memasak dengan bara api hanya membuat seluruh nasting saya menjadi hangus. Namun begitulah, saya harus patuh terhadap tata cara mereka. Mereka sudah berpengalaman tinggi dalam menjadi porter dan tukang masak. Dan saya percaya hasilnya akan memuaskan.

Ada 3 piring terhidang untuk para bule, dengan urutan menu, nasi, mi goreng, sayuran, ikan dan keripik. Dan itulah menu utama Plawangan Sembalun resto malam ini. Mereka membutuhkan nutrisi yang baik sebelum perjuangan mencapai puncak Rinjani dini hari nanti.

Melihat Segara Anak malam itu, begitu temaram membias bayangan separuh purnama dari atas. Saya melihat bintang-bintang di atas, pun kesepian karena tak saya nikmati bersama teman-teman terdekat. Namun sekumpulan porter dengan obrolan Sasak ini ternyata dapat menjadi teman mengobrol di malam yang menyenangkan ini. Di Plawangan Sembalun.

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha