Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

Saya selalu nyaman di sini, savana. Kenapa? Saya merasa sangat kecil di sini. Saat kecil kita sering bermain di sebuah lapangan yang luas, anggaplah kita bermain layang-layang lalu tiba-tiba serentak berlari mengejar layang-layang putus hingga ujung lapangan yang dipagari kampung-kampung. Seperti halnya di gunung, kita melihat rombongan pendaki jauh berjalan di depan, lalu berusaha mengejar dan mengejar hingga tak sadar bahwa ketika terkejar, kita sudah hampir sampai di hutan pinus yang memagari savana. Dan matahari selalu membuat bayangan tubuh kita di rerumputan, karena tak ada pepohonan di sini.

Savana, di sini saya selalu mencari sesuatu yang putih dan ringan bernama Dandelion, si “gigi singa”. Memetik bunga itu, mengangkatnya hati-hati ke atas hingga sinaran matahari jatuh sempurna, lalu meniupnya hingga putik-putik beterbangan entah ke mana satu per satu bak hujan salju.
“Ahh, saya merasa menjadi seorang anak kecil yang kegirangan di sini.” begitu pikir saya.

Savana Sembalun pastilah panas di hari Jumat ini. Andaikan saya membawa layang-layang.

Ada sesuatu yang lupa belum terbeli tampaknya, dan untunglah para porter mengingatkannya. Belum ada beras dalam daftar logistik kami. Dan pagi itu juga dengan diantar Didi, porter yang muda, saya menyusuri jalan desa untuk mencari warung terdekat. Tampaknya kabut baru saja tersibak oleh sinar mentari, dan aktivitas hari ini baru saja dimulai di Sembalun.

Ada 2 porter yang akan membantu saya mengangkut seluruh perbekalan dan perlengkapan pendakian. Porter yang lebih muda akan mengangkut dengan menggunakan kayu pikulan, sedangkan porter yang lebih tua akan mengusung carrier saya. Saya sendiri tak ingin berperan “double job” di pendakian penting ini seperti apa yang pernah saya lakukan di Semeru guide dan Lawu guide. Sungguh berat memposisikan diri sebagai guide sekaligus porter bagi para klien. Dalam Rinjani guide kali ini saya hanya akan membawa full daypack. Bule-bule yang saya antar ini orang-orang kuat dan saya harus terus berjalan di depan mereka. Semakin ringan beban di punggung, semakin baik bagi saya.

berpose dengan latar letusan Rinjani (courtesy of Jim Steele)

Letusan Rinjani mulai tersibak dan pelan-pelan menghilang ketika kami memulai perjalanan dari basecamp pukul 8 pagi. Panas. Begitulah kesan pertama yang terucap dari 3 orang bule ini ketika memulai langkah pertamanya. Ya, selama 3 jam pertama perjalanan, pendaki hanya akan menyusuri ladang dan savana. Hanya beberapa kali menyeberangi sungai yang rimbun lalu menatap savana yang panjang lagi. Sebatang pohon hanya berdiri secara soliter di savana, tanpa teman. Dan tentu saja akan menjadi sebuah objek fotografi yang balance, ketika kita membingkai pohon, savana dan pendaki dalam sebuah jepretan.

porter dengan barang bawaan 40 kilogram (courtesy of Zachary Knight)

Ada sekitar 5 rombongan pendaki yang berjalan bersamaan dengan kami. Semuanya turis asing dengan seorang guide dan beberapa orang porter yang mengantar di setiap rombongannya. Pastilah sore nanti akan menjadi sore yang ramai di Plawangan Sembalun dengan aneka kuliner barbeque di setiap tendanya. Beberapa rombongan besar pendaki bertemu di pos 1, sebuah gazebo tepat di tengah-tengah savana. Di sini hidangan cemilan dikeluarkan untuk para turis, pisang, roti, keripik dan lain-lainnya. Ya, porter harus sudah siap sedia di setiap pos pemberhentian pendaki. Jangan sampai porter berjalan jauh di belakang sehingga para klien terlalu lama menunggu suplai makanan dari para porter. Dan saya sebagai guide harus pintar-pintar menjaga irama kecepatan langkah jika para porter berada terlalu jauh di belakang. Dan bule-bule ini bukan tipikal pendaki yang sering beristirahat. Mereka mampu untuk berjalan tanpa berhenti pun dengan kecepatan yang pelan. Mereka hanya berhenti ketika mendapatkan view yang cantik untuk fotografi.

Beberapa kali menyeberang sungai di atas jembatan (pos 2 berada di lembahan sungai). Berhenti agak lama di atas jembatan pos 2, namun tetap mempersilakan para porter untuk terus berjalan. Kabut mulai naik ke atas, menutupi panas yang akrab di kulit para bule selama beberapa jam ini.

bersama Jim dan Rebecca (courtesy of Zachary Knight)

Si Jim ini benar-benar tipikal orang yang kuat. Saya pernah sesekali iseng membuka profilnya di internet. Beberapa foto pemanjatan tebing-tebing di wild west American terpajang, mungkin saja dia seorang pemanjat profesional. Sementara pacarnya mungkin sajaseorang backpacker yang sering bepergian ke luar negeri. Sementara Zachary sendiri, ahh dia bule yang sangat berobsesi untuk mendaki seluruh volcano di Indonesia. Sangat berbeda tentu saja mengantar orang domestik dengan bule. Pendaki bule selalu membutuhkan kenyamanan yang lebih dan kedisiplinan yang diciptakan para guide dan porter.

Savana selepas pos 2 adalah savana yang tak lagi panas, kabut menutupi sinaran mentari. Setapak yang penuh dengan aliran air membuat si bule bertanya heran ketika saya meminum air tersebut.

Is a good water for you?”
Dan saya hanya tersenyum mengangguk sambil mempersilakan mereka untuk ikut mencicipi aliran air ini.

Sangat sulit untuk mengajak para bule untuk meminum air sungai ataupun air danau di pegunungan. Mereka hanya meminum air mineral bersegel di hari-hari awal pendakian. namun tak mempermasalahkan jika terpaksa meminum air sungai ketika persediaan air mineral habis. Untuk itulah saya harus menyediakan air mineral yang cukup banyak dalam pendakian kali ini.

Sempat miris juga melihat genangan minyak yang tumpah di beberapa cerukan batuan yang memperkeruh air. Ah, betapa malunya jika hal ini terlihat para bule. Seperti perasaan malu jika mereka mempertanyakan kenapa di gunung ini masih memelihara budaya vandalisme terhadap batuan maupun pepohonan. Ya, saya mengenal beberapa orang asing, dan sebagian besar di antara mereka mengaku tak suka jika melihat coret-coretan narcis di batuan. Gunung-gunung di luar negeri memang lebih mengedepankan kebersihan, begitu komentar mereka. Lalu saya berpikir,
“Ahh, para penumpang kereta pun lebih memilih untuk membuang sampah ke luar jendela kereta api daripada menyimpannya di bawah bangku mereka.” begitulah Indonesia yang kita cintai ini.

Pos 3 adalah tempat yang nyaman di lembahan sebuah kali yang cukup besar. Ada sebuah gazebo di situ, tampak beberapa rombongan pendaki asing sedang menunggu “lunch” di situ. Sementara para porter sibuk dengan perapian yang akan menciptakan beberapa hidangan hangat untuk para bule.

Perjalanan menyusuri savana berakhir di sini. Kami tak mengejar layang-layang di sini, hanya mengejar kabut yang menyambut di ujung kejauhan sana. Tempat batang-batang pinus cemara tak lagi berdiri secara soliter, namun bersama-sama dialiri gemerisik air dari atas, dari Anjani.

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha