Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

Di mana-mana turis asing hilir mudik di Selaparang, sementara saya menunggu Zachary beserta keluarganya di pintu kedatangan. Kamis, 20 Mei 2010 pukul 4 sore waktu Lombok pesawat yang dia naiki telah mendarat di Lombok. Dan saya akan menjemput mereka lalu mengantarkan ke hotel tempat mereka menginap di Senggigi.

Saya telah mengenal Zachary Knight selama 2 tahun ini. Seorang pria Arkansas yang begitu cintanya terhadap Indonesia hingga memutuskan untuk memperistri wanita Indonesia dan menetap di Jakarta bersama keluarga kecilnya. Kesukaannya terhadap volcano membuat dia ingin mendaki seluruh volcano di Indonesia dan untuk itu dia mempercayakannya kepada saya. Saya telah mengantarnya mendaki Ciremai, Merapi, Gede, Semeru, Lawu dan sekarang akan menjadi salah satu pendakian terbaik baginya, mendaki Rinjani. Teringat ketika mengantar dia mendaki Semeru tahu lalu, dengan seuntai webbing saya menariknya dari Arcapada hingga Mahameru. Perjuangan yang sedemikian berat demi keinginan saya untuk melihat dia bahagia karena telah menginjak puncak Semeru. Dan begitu pula dengan puncak-puncak volcano lainnya. Dia bukanlah tipikal seorang pendaki, namun keinginannya yang begitu kuat telah membawanya menuju pucuk-pucuk ketinggian.

Tak begitu lama untuk menunggu di pintu kedatangan bandara Selaparang. Keluarga kecil itu sudah datang dengan membawa beberapa tas besar dan tas dorong. Mereka akan menikmati liburannya di Lombok.Innova putih ini melaju di sepanjang garis pantai Lombok Barat. Garis pantai yang menjadi pagar eksotisme pulau Lombok. Di sini orang-orang berdatangan menciptakan hiburan yang telah lama terpasung di kota karena terikat oleh rutinitas kerja. Kami akan menuju ke hotel tempat keluarga mereka akan menginap di Senggigi.

Puri Bunga, salah satu hotel yang lumayan mewah di Senggigi. Perpaduan gaya arsitektur Hindu dan Cina tampak dalam bentukan fasade maupun interiornya. Beberapa cottage yang menghadap pantai menjadi tempat peristirahatan yang nyaman bagi para tamu. Mungkin ada sekitar 40-an jumlahnya. Saya berkenalan lagi dengan 2 orang klien saya yang lain yang akan mendaki Rinjani besok. Jim Steele, seorang pria berbadan tinggi besar (namun ternyata saya lebih tinggi dari dia) dengan rambut cepak. Sepertinya lebih pantas untuk menjadi seorang army di Amerika. Dia datang ke Indonesia bersama pacarnya, Rebecca Leija. Seorang wanita berambut pirang dengan paras wajah menarik, mungkin saja ada darah Latin pada dirinya. Mereka telah check-in di sini kemarin selepas mengunjungi Bali. Dan sekarang bersiap untuk mendaki Rinjani.

Klien-klien yang tampak begitu kuat, dan saya menjadi lebih tertantang karenanya. Ya, saya pernah mengantar seorang bule untuk mendaki Merapi hanya dalam waktu di bawah 4 jam, dan pernah juga mengantar seorang bule untuk mendaki Merapi di atas 8 jam. Sepanjang mereka menikmatinya, itu sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi saya.Kami telah siap untuk mendaki Rinjani esok pagi. Mobil yang kami naiki akan meluncur menuju Sembalun yang sunyi meninggalkan kesibukan Senggigi di setiap malamnya.

Menjelang pukul 10 malam ketika mobil yang kami naiki telah sampai di desa Sembalun. Kami akan menginap di sini malam ini sebelum memulai perjalanan trekking besok pagi. Tak perlu harus menyewa kamar losmen untuk ini, karena ternyata rest area yang ada di basecamp masih cukup nyaman untuk ditiduri para turis ini.

Sembalun, desa yang terkenal karena di sinilah seluruh aktifitas pendakian gunung Rinjani dimulai. Berada di sisi timur gunung Rinjani merupakan akses utama selain desa Senaru, untuk mencapai puncak Rinjani. Budaya Sasak masih melekat di sini dan sentuhan modern datang ketika orang-orang baik domestik maupun mancanegara sering datang ke sini. Lihatlah, di mana-mana rumah penduduk disulap menjadi homestay bagi pendaki. Beberapa agen untuk mengantar para turis pun bermunculan dengan beberapa peralatan yang bisa disewakan. Namun tak menghilangkan keseharian mereka sebagai petani.

Dan di pagi selepas beristirahat itu, sesuatu yang menarik terlihat dari kejauhan di barat sana. Rinjani meletus, tidak dari puncaknya namun berasal dari punggungan yang berada lebih ke utara. Ya, berasal dari gunung Barujari dikelilingi Segara Anak. Letusan tersebut terarah ke utara dan hilang seiring reaksi dengan udara, tidak mengarah ke puncak. Dan inilah yang akan kami cari esok, melihat letusan Rinjani dari atas Segara Anak, sesuatu yang jarang terjadi.

Sembalun seperti halnya desa-desa lainnya di lereng volcano yang melingkari Indonesia. Selalu sederhana dan tetaplah sederhana.

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha