Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija

 

Selasa, 18 Mei 2010 menjelang pukul 3 sore waktu Lombok. Kaki saya menapak tanah Lombok. Bus yang saya naiki menurunkan beberapa penumpangnya di terminal Mandalika, Mataram. Aroma mendung langsung menyapa di atas.
“Ahh, seperti halnya Jogja yang selalu mendung di bulan Mei ini.” begitu pikir saya.

 

I’m a Jogja man in Lombok. Begitulah, kesan sebagai orang asing sangat jelas terlihat di sini. Dengan carrier setinggi kepala di punggung diimbangi oleh daypack di dada, ditambah penampilan yang begitu kumuh mengingat selama lebih dari 30 jam beradu dengan kegaduhan angkutan umum kelas ekonomi menandakan bahwa saya berasal dari suatu kota yang jauh. Akibatnya, beberapa orang langsung menyambangi saya, baik itu tukang ojek maupun kernet angkutan yang menawarkan jasanya menuju tempat yang akan saya tuju. Sambil tersenyum saya menolaknya, karena memang untuk sementara belum membutuhkannya. Kebutuhan utama saya saat ini adalah makan, dan saya harus mencari warung makan.

 

Menjadi seorang pendatang di tempat yang jauh dari rumah sebagai seorang backpacker. Kita harus bersiap untuk tidur di terminal, kantor polisi, masjid, taman kota bahkan di emperan toko. Dan sepanjang sore yang hujan ini selepas makan siang, yang saya lakukan adalah tidur-tiduran di ruang tunggu terminal hingga malam hari sembari menunggu jemputan seorang teman di Mataram yang tak jua datang. Ya, saya akan terlebih dahulu menginap di tempatnya sembari menjalankan beberapa persiapan sebelum Rinjani guide dilaksanakan.

 

Ada satu barang unik yang menjadi teman selama perjalanan ke Lombok ini, sebuah mainan. Yang saya mainkan di gerbong kereta api, di atas feri, di pelabuhan, di warung makan, di terminal, bahkan di atas gunung Rinjani. Ya, sebuah kubus ajaib bernama rubik dengan ukuran 3x3x3. Sebuah cara efisien untuk membunuh waktu, maklumlah saya hanya berjalan sendiri dan inilah sesuatu yang saya mainkan jika tak ada teman untuk diajak mengobrol di samping saya. Dan saya memainkannya di ruang tunggu terminal Mandalika sembari tidur-tiduran menunggu jemputan dari teman saya.

 

Hujan sudah mereda menjadi gerimis ketika teman saya datang menjemput di terminal. dan syukurlah akhirnya sebentar lagi saya akan merasakan empuknya kasur dan bantal. Tak lagi terjebak dalam aroma besi kereta, kapal maupun bus antar kota. Sepiring nasi balap Mataram menjadi pembuka perjalanan kota-kota ini, sesuatu yang diperkenalkan oleh teman baru saya ini. Ah, tampaknya aroma makan yang teratur akan menjadi sangat akrab selama berada di Lombok ini. Sesuatu hal yang malah jarang diakrabi di Jogja.

 

Teman baru saya ini adalah seorang yang saya kenal dari dunia maya. Karena pernah sama-sama menghabiskan masa kuliah di Jogja dalam kurun waktu tahun 2000-2007 dengan satu kesenangan yaitu mendaki gunung. Dan saya pun mengenal dia, kesempatan untuk bertemu pun datang saat ini ketika saya mendapatkan sebuah proyek guiding di Lombok. Pertemuan yang belum terjadi dalam tahun-tahun yang kemarin. Dan saya menghabiskan waktu untuk mempersiapkan Rinjani guide ini di rumahnya.

 

Ada beberapa hal yang harus saya persiapkan sebelum para klien mendarat di Lombok. Saya harus mencari mobil untuk melayani segala kebutuhan transportasi selama guiding, yaitu dari menjemput klien di bandara lalu mengantarkannya ke hotel di Senggigi sebelum mengantarkan mereka ke Sembalun untuk mendaki gunung Rinjani dan menjemput mereka pulang kembali ke Senggigi. Lalu mempersiapkan logistik selama pendakian, baik itu makanan maupun daftar perlengkapan yang harus dibawa mendaki. Dan persiapan-persiapan tersebut saya jalani sembari menikmati suasana kota Mataram maupun eksotisnya sunset di pantai Senggigi.

 

Lombok selama 2 hari sebelum pendakian gunung Rinjani ini menawarkan sesuatu yang menggoda untuk dikunjungi sudut-sudutnya. Saya berkeliling kota Mataram di hari Rabu ini, melewati jalan-jalan di tepian pantai barat Lombok. Lalu menikmati sunset dari salah satu tebing karang di pantai Senggigi. yang tak seperti biasanya, karena awan mendung menutupi jatuhnya mentari. Hanya semburat merah yang tercipta seolah-olah membingkai gunung Agung di kejauhan sebagai sesuatu yang menarik di barat sana. Kebetulan memang, karena teman saya ini seorang potografer. Dan saat itu ada sesi pemotretan foto model di Senggigi, maka diajaklah saya turut serta.

 

Lombok adalah Rinjani, dan Rinjani adalah Lombok, sementara Senggigi menjadi salah satu pagarnya yang gemerlap. Begitulah, selalu ada sesuatu yang membuat saya berpikir “Lombok better than Bali”. Bali terlalu gemerlap, sementara Lombok agak menyembunyikan diri di balik tempat persembunyian yang menawan hati. Memang benar, saya mengunjungi Lombok untuk mendaki gunung. Dan tampaknya bagi saya, Bali hanya merupakan tempat yang harus saya lalui untuk mencapai Lombok maupun untuk kembali ke Jogja. Tak ada tujuan untuk “ngadem” di Bali saat ini, tujuan saya hanya Lombok dan Rinjani.

 

Beberapa kali menerima SMS dari klien, mereka tampaknya sudah tak sabar untuk mendarat di bandara Selaparang. Sementara saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik di Mataram. Tentu saja sambil autis memainkan rubik kesayangan ini.
“Tak ada salahnya kan guide bermain.” :D

 

..bersambung

 

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha