Rinjani guide #1..jalani profesi dengan backpacker style

DSC02328

Guiding ke Rinjani, 17-24 Mei 2010
bersama Zachary Knight, Jim Steele dan Rebecca Leija


Mei ini hampir selalu hujan tiap sorenya di Jogja. Menjelang Juni yang kemarau, sisa-sisa air yang tertinggal di atas mulai dihabiskan. Sekedar sebagai pengingat,
“Hai para backpacker, bulan Juni segera tiba. Mari, mari berpetualang mengelilingi Indonesia menyambut kembalinya matahari yang panas mempesona ini.”
Ya, musim kemarau segera tiba, saat yang tepat untuk berpetualang.

Berita-berita di internet tentang aktivitas gunung Rinjani selalu saya pantau menjelang bulan Mei ini. Kenapa? Di bulan ini ada proyek guiding besar di Rinjani dan saya ingin memastikan kondisi Rinjani aman bagi saya untuk mengantar para klien mendaki puncaknya. Apa yang saya khawatirkan pun terjadi, Rinjani meletus (atau lebih tepatnya, gunung Barujari meletus). Lalu kekhawatiran mulai menyeruak,
“Apakah Rinjani aman untuk didaki?”

Seperti halnya di tahun 2009 kemarin, Barujari juga meletus di akhir bulan April. Saat itu ketinggian letusan mencapai hampir 1000 meter yang menyebabkan segala aktivitas di Segara Anak tertutup untuk pendaki. Dan itu kembali terjadi tahun ini.

Beberapa berita telah saya dapat di internet di bulan Mei ini. Aktivitas pendakian tidak boleh melewati Segara Anak, dan itu berarti pendakian dari jalur Senaru tertutup. Pendakian hanya dibuka dari Sembalun, untuk kemudian mencapai puncak Rinjani. Namun setelahnya, pendaki tak boleh turun ke Segera Anak. Ya begitulah, perasaan saya begitu lega mengingat puncak Rinjani masih aman untuk dikunjungi pendaki pun pendaki tak diperbolehkan turun ke Segara Anak. Dan ada berita baik lagi bagi saya bahwa letusan Barujari justru menjadi daya tarik bagi turis mancanegara untuk mengunjunginya. Karena tak setiap saat Rinjani mengeluarkan letusannya.

Begitulah, Rinjani guide 2010 ini tetap akan dilaksanakan.

Ahh, saya harus berjalan jauh sendirian lagi. Sesuatu yang sekarang menjadi kebiasaan, berjalan jauh di tempat yang telah ditentukan klien, lalu berkenalan dengan mereka yang akan menjadi partner dalam mendaki. Selalu mendapat teman-teman baru di kota-kota yang menjadi peraduan sebelum proyek guiding dilaksanakan. Tak lagi seperti dahulu, berjalan jauh bersama teman-teman. Dari menikmati rasa sumpek di kereta ekonomi hingga kebersamaan dalam aroma kopi panas di Segara Anak ataupun Arcapada. Namun itulah, ada sesuatu yang akan dikorbankan agar kita dapat menjadi lebih baik dan lebih baik. Dan berkenalan dengan teman-teman baru di tempat yang jauh selalu menyenangkan.

Bulan Mei yang sibuk di setiap weekend-nya. Diawali dengan trip menyusuri kegelapan luweng Jomblang. Lalu berjalan riang bersama teman-teman PA di Merbabu. Sebelum menikmati acara perayaan ulang tahun ke-10 Satu Bumi di Kaliurang, Merapi. Dan aroma gunung dari kejauhan di timur sana mulai menggelora, all my bags are packed, i’m ready to go. Rinjani telah memanggil saya.

Pun ini adalah sebuah perjalanan profesional, identitas sebagai seorang backpacker sedapat mungkin harus dipertahankan. Saya tak memilih angkutan mahal untuk mencapai Lombok. Yang saya pilih adalah angkutan termurah di mana saya bisa menikmati setiap kota yang akan dilewati sambil mengenal penumpang yang duduk di depan dalam sebuah obrolan renyah. Ya, saya hanya berjalan sendirian dan saya butuh teman di dalam perjalanan agar mulut ini tidak kering karena terlalu banyak diam melamun.

Saya berkenalan dengan serombongan keluarga besar di kereta api ekonomi Sritanjung, mungkin sekitar 12 orang dan sebagian besar di antaranya perempuan dengan 3 orang anak kecil yang sangat berisik. Mereka masuk kereta api selepas stasiun Gubeng Surabaya, tiba-tiba membuat pemandangan di depan saya menjadi sesak. Ya, saya terjepit di pojok kursi sementara kardus-kardus yang sedemikian banyaknya memenuhi space antara kursi yang saya duduki dan kursi di depan. Dan sepasang kursi yang seharusnya diduduki oleh 4 orang, kini harus diduduki oleh 6 orang termasuk saya, 2 diantaranya anak kecil. Mungkin bagi orang lain keadaan seperti ini membuat tak betah lalu melarikan diri dari kursi tersebut, namun saya menahan diri sejenak. Ingat, ini kereta api ekonomi, semua orang membayar sama murahnya hanya untuk berdesak-desakan. Orang kecil butuh, asongan butuh, pengamen bahkan para pengemis butuh. Inilah kereta api ekonomi, potret realita kehidupan Indonesia dan tak ada salahnya bagi kita untuk bercengkerama dengan mereka.

Mereka wanita-wanita yang sangat cerewet dengan bahasa Madura yang kental, membuat saya geli mendengarnya. Mendengar para wanita ngerumpi dengan bahasa Jawa saja sudah menggelikan apalagi mendengar mereka ngerumpi dengan logat Madura yang kental, membuat saya penasaran. Mereka yang terlebih dulu membuka percakapan dengan saya. Dimulai dengan permintaan maaf mereka karena telah membuat saya terdesak di pojokan kursi. Lalu berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dari mana saya dan ke mana tujuan saya. Dan karena mereka sangat cerewet, terbukalah percakapan yang menyenangkan. Bahkan hingga menjurus ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih pribadi.
“Siyalll…saya dikerjain ibu-ibu muda ini.” batin saya.

Yup, merasa terhibur di kesumpekan kereta api ekonomi ini. Apalagi ternyata mereka membawa makanan yang sangat banyak dan tiap kali mereka membuka makanan saya pun ditawari. Lumayan lah, daripada saya harus repot membuka dompet tiap kali tergiur oleh tawaran asongan yang lewat.

Saya kenal orang baik lagi di pelabuhan Gilimanuk selepas kapal feri yang saya naiki berlabuh di pulau Bali. Tengah malam saat itu dan sulit sekali untuk mendapatkan angkutan ke Denpasar maupun Mataram. Sendirian di pelabuhan lalu sejenak melepas penat di salah satu warung kopi dekat pemberhentian bus. Memesan segelas kopi lalu berkenalan dengan seorang petugas polisi yang harus stand by di situ. Banyak orang Jawa di pelabuhan ini dan dia adalah salah satunya, begitulah dan saya terlibat dalam sebuah obrolan renyah di tengah malam itu, sembari mencoba mencari bus yang akan mengantar saya lebih ke timur.

Ya, kadang polisi memang menyebalkan, dan kadang pula kita selalu mendapatkan polisi-polisi yang baik hati di kala perjalanan jauh. Dan saya mendapatkannya saat itu. Saya membutuhkan angkutan ke Mataram tengah malam itu, dan dia berhasil mencarikan sebuah bus patas AC langsung ke Mataram dengan harga tawar yang murah, hanya 100 ribu rupiah dari pelabuhan Gilimanuk hingga kota Mataram. Saya riang karena akhirnya bisa mendapatkan angkutan yang nyaman hingga Mataram, bisa melepaskan dinihari hingga siang nani dengan tidur. Sesuatu yang sangat sulit diraih di kereta api ekonomi maupun kapal feri yang berbau karat besi.

Begitulah, saya mencapai Mataram dalam sebuah perjalanan yang menyenangkan selama lebih dari 30 jam lewat darat dan laut. Perjalanan yang dapat dicapai hanya dalam waktu 2 jam dengan pesawat. Namun saya tak akan pernah mengenal orang-orang sederhana jika saya lewati perjalanan hanya dengan waktu 2 jam itu. Orang-orang yang saya deskripsikan di atas hanya beberapa orang dari banyak orang baru yang saya kenal selama lebih dari 30 jam itu.

Backpacker adalah sebuah proses, tak hanya tujuan akhir yang akan kita raih. Tapi kita akan melewati jalan-jalan di kota-kota kecil dengan banyak orang-orang unik yang akan kita kenal. Lalu membingkainya dalam sebuah karya fotografi. Mengenal tempat, mengenal orang-orang dan eksplorasi diri sendiri demi sebuah tujuan yang selayaknya kita anggap sebagai bonus sebuah proses. Itulah backpacker. Dan saya menikmatinya.

..bersambung

~ jarody hestu

Share

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Fill Captcha
Fill Captcha

Powered by WordPress | Feed | Sitemap