Lobang..luweng..bolongan..hole, sebuah entry menuju kegelapan. Berpuluh lobang menciptakan titik-titik hitam dari cetak biru foto satelit karst pegunungan Kidul. Di sepanjang garis pantai yang melewati Bantul, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, hingga Tulungagung. Di situlah orang-orang akan mengucapkan selamat datang kepada kemilaunya kegelapan.

Ya, di sepanjang kegelapan yang tersembunyi itu, tercipta labirin-labirin sempit yang didominasi oleh ornamen-ornamen putih yang berkilau. Anggaplah, ornamen yang bahkan akan berharga lebih mahal dari sebatang emas, karena ornamen tersebut tercipta melalui peraduan panjang nan alami selama ribuan tahun. Bukan dari sepuhan tangan-tangan pengrajin.

Berapa kilometer panjang keseluruhan labirin itu? Masih belum dapat diperkirakan dengan tepat, karena masih banyak labirin-labirin yang benar-benar luput dari daya jelajah manusia. Dan menurut penelitian, luas kawasan karst pegunungan kidul (area Gunungkidul) hampir mencapai 13.000 km persegi. Dan bayangkan, jika setiap kilometer persegi karst di Gunungkidul ini dialiri oleh labirin sungai bawah tanah sepanjang 1 kilometer juga. Mungkin panjang keseluruhan labirin ini cukup untuk mengukur panjang negeri kita Indonesia ini.

Daerah karst merupakan kawasan cagar alam. Potensinya tak dapat digantikan kembali jika hilang, serta mempunyai kemampuan untuk menunjang ekosistem dan kehidupan. Saat hujan, air tak akan tertahan di permukaan, tetapi akan masuk dan disimpan di jaringan labirin sungai bawah tanah. Beberapa titik aliran akan keluar ke permukaan mewujud telaga-telaga yang tak akan kering ketika penghujan. Ketika kemarau, permukaan memang akan kering, namun sungai bawah tanah selalu abadi. Ya, selalu abadi jika manusia mampu bertindak arif dan santun terhadap ekosistem kawasan karst.

Gambar di atas diambil Maufiroh Isnainto di selasar yang menghubungkan luweng Jomblang dan luweng Grubug. Kubah besar yang lembab dengan tinggi langit-langit mencapai 20 meter, di mana hewan-hewan nocturnal banyak bergelantungan di situ. Penelusur goa akan melewati kubah ini selepas menuruni luweng Jomblang dengan tali, lalu trekking menuju sungai bawah tanah yang terletak di bawah luweng Grubug. Retakan-retakan batu apung menjadi dasar kubah, kadang berwujud lumpur jika intensitas hujan tinggi.

Anda akan takjub, yang ada di depan adalah kegelapan. Lalu samar-samar cahaya mulai terlihat setelah beberapa menit berjalan, terpantulkan oleh batuan-batuan karst di sepanjang labirin. Seiring dengan suara deras air yang perlahan mulai terdengar. Anda sedang berjalan menuju aliran sungai bawah tanah di bawah luweng Grubug.

Namun satu hal, rasa takjub adalah salah satu bonus dari perjalanan. Dan sejatinya sebuah perjalanan adalah ketika kita mampu berinteraksi secara santun dengan kearifan lokal di sekelilingnya. Karst adalah warisan alam untuk kehidupan di atasnya.

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha