Rasa takut adalah sesuatu yang mutlak ada dalam diri seorang manusia. Karena hati itu tak mungkin “beku”. Ada takut sebagai latar timbulnya sifat-sifat seorang manusia.

Ada orang-orang yang takut ketinggian, ada yang takut binatang melata, ada yang takut gelap, ada yang takut sendirian, bahkan orang-orang ang paling berani pun suatu saat akan mengalami ketakutan terhebat sepanjang hidupnya. Rasa takut bahwa suatu saat keberaniannya akan sirna.

Orang-orang terdekat mengajari kita untuk takut, sejak masih kecil. Takut kepada gelap agar kita selalu dalam lingkungan yang aman di dalam rumah. Takut kepada binatang melata agar tubuh kita senantiasa bersih. Dan mereka yang mengajarkan untuk takut tentu saja mempunyai maksud yang baik, agar tercipta turunan kepribadian setelah manusia beranjak dewasa.

Tapi masih ada sisa-sisa ketakutan masa kecil yang dipelihara ketika dewasa, dan sejatinya seorang manusia adalah mereka yang mampu menikmati rasa takut sebagai sebuah jawaban atas apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan. Mungkin saja “si takut ketinggian” akan mengelilingi Antartika dengan pesawat mini rakitannya. Mungkin saja “si takut ular” akan menciptakan sebuah metode ringkas handling cobra yang aman. Itulah, semua berawal dari ketakutan.

Saya kembali bercerita tentang sebuah foto, simak dengan seksama foto di atas.

Foto ini diambil oleh senior saya Maufiroh Isnainto pada bulan Februari 2007. Sangat menakjubkan mengingat bahwa foto ini hanya diambil dengan kamera analog biasa di jaman ketika digitalisasi sudah berkembang pesat.

Menjelang tengah hari saat itu, dan saat itulah luweng Grubug akan menciptakan penampakan luar biasa. Jutaan garis sinar akan masuk melewati lobang menuju sungai bawah tanah. Jutaan sinar yang dipendarkan oleh dedaunan dan ranting di atas lobang berdiameter hampir 15 meter. Efek apa yang dicari oleh sang fotografer saat itu? Ya, tentu saja efek siluet di antara garis-garis sinar akan menciptakan sebuah bingkai foto yang luar biasa. Terlepas bahwa saat itu si objek harus berjuang menikmati rasa takut di atas ketinggian 80 meter menuruni luweng Grubug.

Ya, menikmati rasa takut, itu istilah saya untuk foto ini. Rasa takut itu ada untuk dinikmati, itu membuat kita akan menikmati sensasi luar biasa bergantungan oleh seutas tali. Beberapa saat sebelum pengambilan foto itu, di atas karst luweng Grubug, rasa takut itu terus datang. Bahkan jemari ini rasanya bergetar dengan hebat saat memasang seluruh perlengkapan SRT di badan. Namun segala yang ada di badan harus terpasang dengan teliti, kesalahan sedikit saja fatal akibatnya. Kita harus mempercayai tali dan 3 buah anchor yang terpasang di pohon dan lobang batuan karst. Selanjutnya, jangan panik..dan nikmati saja rasa takut kita.

Tak lebih dari 7 menit untuk menuruni ketinggian luweng Grubug. Dan itulah yang dilakukan oleh si objek saat itu. 1 menit pertama adalah beradaptasi dengan kegelapan, masih ada tebing di depan si objek. Dan setelah 1 menit adalah menikmati sensasi bergantungan oleh tali di ruangan raksasa yang penuh oleh ornamen-ornamen putih berkilau. Kadang stopper mengerem agar tangan yang mulai terjebak oleh perih dan panas ini bisa beristirahat (friksi antara tali dan tangan, alat dan tali, akan menciptakan panas bisa melukai kulit). Dan saat mengerem itulah, si objek serasa dimabukkan oleh tali yang meregang dan mengencang ke atas. Seperti dimabukkan oleh kapal laut yang tergoncang ombak yang begitu hebatnya.

Suara yang terdengar dari bawah adalah riuh gemuruh air yang begitu hebat, suara fotografer di bawah yang memberikan instruksi takkan dapat terdengar. Itulah sungai bawah tanah yang menakjubkan itu. Yang dapat dicapai setelah menikmati rasa takut. :)

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha