Seorang anak kecil takut gelap, dia selalu ditakuti bundanya. Tutur sang bunda,
“Cepat ke dalam rumah nak, sudah gelap, banyak setan di luar.”
Si kecil lalu berlari sambil menjerit ke lingkar pelukan bundanya. :)

Bukankah Anda semua juga mengalaminya, bahwa gelap dan setan yang kita takuti itu berawal dari pembelajaran kecil seperti itu. Sang bunda pasti ingin selalu melihat si kecil selalu duduk manis di ruang keluarga selepas senja lalu autis dikelilingi mainan kesayangannya. Sang bunda terlalu sayang.

Gelap berarti tidur, namun tidak bagi kelelawar. Gelap adalah saat untuk bermain bersama. Panggil saja mereka manusia nocturnal, mereka yang lebih menikmati untuk membuka mata ketika gelap.

Saya ingin menceritakan episode-episode indahnya kegelapan kepada para blogger semua. Dan mungkin saja Anda tertarik untuk bergabung bersama kami untuk menikmati keindahan kegelapan. Di sebuah tempat yang mungkin takkan pernah Anda duga untuk ditelusuri. Di dalam perut bumi.

Dan berani gelap itu baik…

Sebelum kita bermain di kegelapan, ada beberapa bingkai gambar yang mungkin bisa menggoda Anda untuk larut menikmati kegelapan. Coba Anda interpretasikan foto di atas.

Foto ini diambil di selasar antara luweng Jomblang dan luweng Grubug, pada bulan September 2009, bertepatan dengan bulan Ramadhan juga. Senior saya, Maufiroh Isnainto yang mengabadikannya. Jujur saja, reaksi saya ketika menikmati foto ini adalah takjub, pun saya sudah berulang kali hadir di tempat nocturnal ini. Bagaimana dengan Anda?

Saya coba deskripsikan foto ini ke dalam kata-kata. Menyadur ungkapan salah seorang teman, bahwa foto adalah rangkaian warna pelangi yang akan menjadi jiwa jika kata-kata itu ada. :)

Foto ini berbingkai, bukan bingkai yang dibuat dengan efek komputer, namun bingkai yang hadir oleh alam yaitu kegelapan. Ada hitam yang menciptakan bingkai sebuah panorama beserta moment-nya. Ada 2 orang di dalam foto, yang satu adalah seorang fotografer, dan satunya lagi adalah si model yang sedang bergaya narcis di atas batu (pun ini sebuah kesalahan, karena tidak semestinya batu putih ini diinjak, mohon maaf).

Lihatlah puluhan sinar yang berpendar dari atas, sinar itu hadir karena cahaya matahari yang masuk ke luweng (lobang) terpecah oleh barisan dedaunan di atas. Dan itulah luweng Grubug, setinggi hampir 100 meter dari permukaan sungai bawah tanah dan hampir 80 meter dari si narcis itu berdiri di atas batuan putih. Seseorang dapat menuruni luweng Grubug jika mempunyai ketrampilan yang cakap tentang tali temali, dan tentu saja mampu mengalahkan rasa takut. 80 meter menuruni luweng dengan menyerahkan sepenuhnya nyawa kita oleh seutas tali kernmantel statis berdiameter 8-10 mm bukan hal yang sesederhana dibanding jika ketika kita hanya melihatnya.

Lalu, bagaimana jika ada pemula yang ingin hadir di tempat nocturnal ini? Seorang pemula dapat menuruni luweng Jomblang sedalam 20 meter di seberang luweng Grubug. Lalu trekking selama 30 menit menuju sungai bawah tanah di bawah luweng Grubug.

Kembali ke bingkai foto, lihatlah batu putih besar tempat si narcis berdiri. Coba tebak berapa umurnya? 10 atau 100 atau 1000 tahun. Bukan, batu ini bisa berumur hingga ratusan ribu tahun, semenjak pertama kali tercipta oleh tetesan air pertama hingga bermega-mega juta tetesan air berikutnya ratusan ribu yang akan datang. Betapa berharganya batu-batuan berkilau ini. Dan speleologi (ilmu tentang penelusuran goa) mengajarkan tentang 3 asas penting etika seorang penelusur goa, take nothing but picture, kill nothing but time dan leave nothing but footprint. Dan asas-asas tersebut sekarang telah berkembang menjadi asas etika kepencinta alaman, tak hanya di goa. Dan batu ini pun akan marah jika dia mempunyai otak layaknya si narcis.

Berani bertaruh bahwa si narcis ini akan menggugat tulisan saya ini dengan gaya tulisannya yang unik pula. Pun dia menggugat dengan seribu bahasa, satu hal yang pasti, dia tetap akan menerima ajakan saya untuk menyanyikan lagu-lagu John di lembah Code. :)

Kembali lagi ke “gelap” setelah kita menelisik bersama foto ini. Apakah Anda takut gelap? Apakah sekarang masih ada seseorang yang mengajak Anda untuk pulang ke rumah selepas senja karena di luar itu gelap dan banyak setannya? Hehehe, lucu juga yah…..>,<

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha