Merapi guide, Sekolah Bahasa Realia Jogyakarta, 30-31 Januari 2010

Ada sesuatu yang hambar jika kisah pendakian Merapi akhir pekan kemarin hanya melayang di udara, pun saya telah menuliskannya di kertas lusuh dengan bercak coklat itu. Tapi, bukankah hanya saya yang membacanya, tanpa ada orang lain yang merasa apa yang saya rasakan. Dan begitulah, di Kamis pagi ini saya tuliskan beberapa kisah tersebut di selembar notepad ini. Demi kisah-kisah yang takkan terlupa oleh udara.

Januari ini gerimis, yang sejuk tak dingin yang hangat tak panas. Menggoda orang-orang untuk berkunjung ke Jogja. Entah untuk ceria di pantainya, atau merinding di romantisme Sekaten dan budayanya, atau mengeritingkan otak di lembar-lembar buku tebal kampus birunya, atau demi segelas kopi di utara stasiun diiringi serak para musisi jalanan sambil berkata di penghujung lagunya,

“Pulang ke kotamu dab.” lalu receh-receh 500-an bergemintangan.

Semua ada di sini, sekali lagi menjadi penggoda orang-orang untuk hangat di pelukan Jogjakarta.

Kadang saya sendiri bergabung bernyanyi bersama para musisi menjelang dini di kilometer nol Jogjakarta. Setelah seharian bercengkerama menyusuri gang-gang sempit di Sarkem, Sosrowijayan dan Dagen. Melirik nakal para bule yang kebingungan untuk merencanakan akan ke mana besok pagi. Ya, tentu saja untuk Merapi, untuk sebuah pengalaman eksotis yang saya jual di pagi hari yang menciptakan kesan luar biasa bagi mereka. Dan mereka akan berpandangan positif terhadap Jogjakarta.

“Indonesia tak hanya Bali, Indonesia adalah Jogja juga, dan tentu saja..Merapi.” begitulah apa yang saya harapkan terpatri di pikiran mereka ketika pulang ke negaranya.

Sebuah telepon dari Realia Language School Jogjakarta menjelang sholat Jumat. Ada 3 orang siswa mereka dari luar negeri yang ingin mendaki Merapi hari Sabtu-Minggu ini. Dan mereka mempercayai agen perjalanan kami. Saya tak berpikir panjang, persetujuan telah tercipta saat itu juga lewat telepon, saya sendiri yang akan menjadi guide bagi mereka hari Sabtu-Minggu ini.

Tak seperti bulan Desember, di mana saya 3 kali mengantar klien mendaki Merapi. Di bulan Januari ini, penghujan mulai deras hingga orang-orang seperti malas untuk pergi ke gunung. Sungai berair deras menjadi pelampiasannya, dan begitulah, merencanakan sebuah event arung jeram menjadi sesuatu yang lebih menarik di Januari ini.

Namun, ada sesuatu yang hilang dalam jiwa ketika seseorang seperti saya tak menjejak tanah merah Merapi dalam waktu beberapa minggu lamanya. Lebih seperti seorang pencinta sambal gurih yang tiba-tiba harus terbiasa dengan makanan berbumbu manis tanpa pedas dalam menu kesehariannya. Dan dia berontak.

Ya, sebagian besar guide gunung Merapi di Jogja akan berpandangan yang sama seperti saya. Ini lebih dari persoalan memenuhi tuntutan hidup, tapi ini tentang jiwa yang selalu kami ambil dari puncak Garuda dan mempersembahkannya kepada keluarga kita di rumah. Dan tentu saja keping-keping kebahagiaan seorang guide akan pupus menjadi egoisme pribadi jika klien yang kita bawa hanya tersenyum kecut selama perjalanan. Bukankah idealisme primer seorang guide adalah membuat seorang klien “tersenyum”.

Seperti biasa Jogja yang gerimis selepas Maghrib, saya menjemput 3 orang klien di Realia Jogjakarta. Bersama APV hitam dengan sang sopir yang selalu bergabung dengan saya setiap kali Merapi Guide. Ada satu hal yang berbeda, kali ini saya membawa porter dari Jogja (biasanya saya mengambil porter dari penduduk lokal, suatu hal untuk pemberdayaan masyarakat lokal). Seorang junior di Satu Bumi yang saya pikir mampu untuk membawa beban 20 kilogram dari basecamp Merapi di Selo hingga camp terakhir di Pasar Bubrah dalam waktu kurang dari 3 jam. Ya, waktu tersebut adalah waktu tempuh yang normal untuk pendaki asing, dan seorang guide dan porter Merapi harus mampu melakukannya.

ricardo, daniel and dart

Sekarang saya ingin memperkenalkan klien-klien kami. Yang paling senior adalah seorang pria dari Amerika, panggil dia Daniel. Masih terlihat sisa-sisa ketampanan masa mudanya yang terbungkus oleh brewok dan kumis tipis di wajahnya. Perut yang membuncit di badan yang kurus untuk ukuran orang luar negeri menandakan bahwa mungkin saja sudah lama dia melupakan olahraga instant di gym. Ya, umurnya sudah 47 tahun dengan seorang anak wanita berumur 10 tahun yang telah dia gendong mencapai puncak Rinjani musim panas beberapa tahun yang lalu. Dan dia sangat bangga dengan hal ini dan berkata pada saya,

“Hey Jarody, saya punya seorang anak perempuan yang telah saya bawa ke Puncak Rinjani..dan tahukah kau bahwa dia menjadi orang asing termuda yang telah mencapai Puncak Rinjani, begitu menurut para guide Rinjani.”

Dan saya hanya tersenyum menyanjungnya. :)

Daniel seorang alpinis, dia mendaki perbukitan di Alaska, lalu ke Andes dan sekarang dia membuat sebuah penelitian di Asia Tenggara (berhubungan dengan pekerjaannya). Karena itulah dia sering berkunjung ke Indonesia dan mendaki volcano-volcano seperti Kerinci, Rinjani, Agung maupun Tambora. Saya berpikir, pantas saja dia fasih menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara dengan saya, meskipun saya selalu membalasnya dengan Bahasa Inggris yang tak berirama.

Klien kedua bernama Dart, dia seorang pria Belanda, mungkin berumur sekitar 35 tahun. Pria inilah yang membuat saya agak minder saat berjalan. Dengan tinggi mencapai 201 cm membuat saya yang bertinggi 180 cm ini harus mendongak saat berbicara dengannya (sangat jarang saya berbicara mendongak kepada orang lain, kecuali ketika duduk). Namun setidaknya saya masih lebih tinggi dari 2 klien saya yang lain, dan itu dapat memberi sugesti kepada saya.

Ada yang saya takutkan dari pria ini. Ya..tentu saja, saya berani mempertaruhkan kertas-kertas perjalanan saya bahwa si jangkung ini mampu mencapai puncak Merapi hanya dalam waktu kurang dari 3 jam dari basecamp pendakian. Dan itu berarti kelelahan yang luar biasa bagi saya dan porter. Namun untunglah, 2 klien yang lain tidak mendaki terlalu cepat, jadi ada kesempatan bagi saya untuk mengatur irama pendakian.

Sama halnya dengan Daniel, Dart seorang alpinis. Dia mendaki Kilimanjaro 10 tahun yang lalu, mendaki Elbrus dan beberapa puncak gunung di Alpen. Dia berkunjung ke Indonesia karena di sini adalah negara kelautan. Dan dia adalah peneliti kelautan yang menyelami laut-laut dalam di Indonesia. Katanya kepada saya, bahwa selepas dari Jogja dia akan tinggal di Raja Ampat untuk meneliti kelautan di sana. Hmm…pekerjaan yang sangat menyenangkan, begitu pikir saya. Ada sesuatu yang lucu, dia kesulitan mengeja nama saya, dan memanggil saya dengan nama “Gerado” bukannya “Jarody”..hehe.

Klien paling muda bernama Ricardo, berumur sekitar 30 tahun, saya sudah hafal dengan wajah seperti dia. Wajah seperti inilah yang sering terpampang di acara telenovela latin di televisi kita. Ya, wajah seorang latinos. Pria Meksiko ini memiliki pengalaman mendaki paling sedikit dibanding 2 seniornya. Dengan postur tubuhnya yang atletis, saya mengira bahwa dia pernah menjadi pemain bola di negaranya. Pekerjaan dia juga tak seperti yang lainnya, jika yang lain lebih banyak bekerja sambil “bermain”. Ricardo bekerja di sebuah bidang bisnis di Hongkong, tentu saja kunjungan ke Indonesia ini merupakan salah satu refresh atas kehidupan yang sangat ruwet di Hongkong.

Dan begitulah, klien-klien kami ini akan mendaki Merapi di splendid January ini. :)

..bersambung

~ jarody hestu

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.
Fill Captcha
Fill Captcha